Miki datang ke sidang pendengar dengan mengenakan pakain kegemarannya yaitu baju batik. Sebenarnya ini tuduhan saya, mungkin bisa saja tidak gemar-gemar amat, tapi paling tidak busana itu yang tampaknya selalu ia kenakan ketika melawat ke Indonesia. Kali ini kemeja yang ia kenakan kemeja batik motif kaléran (pesisir utara) dipadukan dengan tutup kepala bangsawan Sunda seperti yang kadang masih kita dapati di hajatan pernikahan dan sunatan, yaitu bendo citak, sejenis blangkon gaya Sunda yang memang diadopsi orang Sunda dari tutup kepala orang Jawa itu. Di antara yang membedakannya, bendo tidak memiliki tonjolan di belakang, hal ini mungkin bisa menjadi bukti bahwa tutup kepala itu merupakan ”hal baru”.
Saya jadi teringat kejadian lucu Achmad Djajadiningrat di masa-masa ia sekolah. Atas bantuan Snouck Hurgronje ia pindah ke sekolah yang terbilang kala itu HBS Koning Willem III School te Batavia, tersebab si empunya sekolah tuan Kruseman tidak berkenan kalau tersiar kabar ada seorang bumiputera di sekolahnya. Mau tak mau Achmad harus mengubah identitasnya, maka lahirlah Willem van Bantam. Tidak hanya nama, penampilan Ahmad pun harus berubah, maka harus pula ia memotong rambut panjangnya yang kala itu merupakan hal tabu bagi orang Sunda. Kejadiannya ketika anak bangsawan Banten yang pandai menari ini hendak tampil, ikat kepalanya tidak kokoh karena rambutnya sudah menjadi pendek, hingga ia harus menjejalkan saputangan dan kertas, dan dengan itu pula ia terlihat seperti berambut panjang.
Seperti bendo yang melengserkan destar, tahta bendo pun dikalahkan oleh iket citak. Walaupun kadang bendo itu dimaknai dengan iket yang dicetak, nampaknya karena secara rupa memang berbeda dengan bendo, iket citak sekarang tidak serta merta dinamai bendo. Begitulah adat dalam sebuah budaya, saling ’mengalahkan’, selalu tergantikan, selalu ada kebaruan. Begitu pula kata, maknanya menyempit, referen yang berubah, referen yang tergantikan, atau makna kata yang meluas, atau tergantikan, bahkan kata dan referen bisa hilang.
Saya kira itulah pada intinya yang ingin Moriyama-sensei sampaikan, bahwa jaga sedang berubah, tapi berubah dengan begitu cepat, ada sebuah badai yang menerjang ke segala arah yang membuat semua suku bangsa harus gasik dalam bertindak. Badai itu bernama globalisasi, sudah klise memang, tapi sepertinya orang Sunda masih ngotok ngowo dankurung batokeun, seperti katak dalam tempurung, yang tidak sadar sudah terlindas, hingga ia harus memaparkan sebuah kuliah yang berjudul Studies of Sundanese Culture and Globalization di Fakultas Bahasa dan Sastra UPI, Bandung, pada 25 Maret kemarin.
Sebenarnya orang Sunda saat ini sudah memiliki mantra yaitu “kudu ngigelan jaman” dan seperti umumnya mantra kadang si pengguna tidak mesti paham betul apa yang ia rapalkan, secara arti bebas makna mantra itu adalah: mesti mengikuti arus zaman. Dan selaiknya orang yang terbawa arus, kalau tidak memanfaatkannya seperti olahraga arung jeram, niscaya akan ngoléab tenggelam.
Kekhawatiran Miki sebenarnya tidak perlu jika sudut pandang diarahkan pada fenomena, arus sederas apapun, mau caah déngdéng, maupun tsunami, dalam realitanya orang Sunda selalu menemukan pelampung, bahkan papan selancar. Kita bisa melihat dari jumlah viewers dan fyp video stand up berbahasa Sunda ataupun berlentong Sunda. Beberapa kata Sunda masuk pada leksikon ‘bahasa Jaksel’ pun bisa menjadi bukti bahwa budaya Sunda memiliki ‘kekuatan’, dan justru kekuatan itu terletak pada bahasanya. Nampaknya yang ditausiahi Miki adalah para intelektual dan akademisi, yang belum mampu mensejajarkan ‘semarak kebudayaan rakyat’ dengan khazanah kebudayaan Sunda yang lain, yang suci, yang murni, yang ‘Maha Besar’ itu, yang kebanyakan lahir dari rahim feodalisme.
Munculnya panggilan persona dua ‘wa’ dalam bahasa Jaksel diambil dari video populer yang dibuat oleh sekelompok anak muda dari pinggiran Sukabumi Selatan yang gemar membuat penyulihan suara dengan bahasa Sunda dialek Jampang. Di kuliah itu Miki menegaskan bahwa apa yang populer, terutama yang unik yang otentik, itu pada masa kini bisa menjadi kekuatan ekspansi budaya, dan ia menawarkan sebuah istilah glocalization. Ada tarik-menarik antara yang lokal dan yang global, bahkan mungkin sebuah sebuah paradoks, pemecah sebuah gelombang besar ternyata adalah karang-karang kecil.
Dari keluarga Achmad Djajadiningrat orang Sunda dapat belajar ngigelkeun jaman (ikut menjadi dalang dalam membuat gelombang zaman), ayah Achmad dan saudaranya meski kental dengan budaya Sunda dan agama Islam tidak segan-segan menyekolahkan anaknya dengan pengajaran Belanda, padahal waktu itu belum ada program sekolah Barat untuk orang bumiputra, itu tiada lain karena kesadaran bahwa zaman telah berubah. Yang lebih frontal adalah Haji Usman ayah dari Haji Hasan Mustapa, dari dia kita dapat melihat bagaimana hasil dari melawan arus. Di saat rakyat jelata belum ada kesadaran untuk sekolah bahkan menghindari pendidikan barat itu, Haji Usman banyak berjuang untuk bisa sekolah. Tapi anehnya ia tidak berkenan ketika seorang tuan besar, pengusaha dan dekat dengan penguasa, yakni K. F Holle, meminta agar Hasan Mustapa tetap belajar kepadanya, Haji Usman malah memesantrenkan Hasan Mustapa ke Mekah.
Selain Prof. Mikihiro Moriyama, kita juga perlu mengingat Isamu Sakamoto yang punya andil vital dalam revitalisasi daluang, juga Mariko Sasaki yang dengan tilikan menarik meneliti nada pada musik Sunda. Nampaknya Moriyama-sensei perlu mengajak nihonjin lain agar tertarik meneliti Sunda, karena sepertinya orang Sunda belum bisa lepas dari asuhan “Saudara Tua”.
Editor: Fitra Sujawoto
Ilustrasi: Sharm Murugiah



