Sempakwaja tidak bisa naik tahta karena ompong. Ingatan akan tokoh menarik dari sejarah Kerajaan Galuh itu sangat membesarkan hati saya sepulang dari klinik gigi. Saya tidak begitu sedih kehilangan delapan gigi nan goyah dalam dua bulan terakhir. Saya toh bukan orang pertama.
Baik saya gambarkan sanad dari ingatan demikian. Dokter Ranggi Ayodia yang merawat saya adalah cucu mendiang R. Goermilang Soeria Soemantri, dokter gigi serta ahli kesehatan masyarakat. Almarhum adalah ménak Ciamis, yang mamanya dijadikan nama jalan di Bandung. Dulu Ciamis disebut Galuh.
Rahiyang Sempakwaja adalah anak sulung Sang Wretikandayun, penguasa Galuh. Nama sang pangeran konon mencerminkan keadaan giginya. Istilah sempak memang terdengar dekat dengan semplak yang berarti patah. Tahta ditempati oleh adiknya, Sang Mandiminyak, sedangkan Sempakwaja jadi pendeta di Galunggung.
Sambil bercermin melihat gigi nan ompong, saya membayangkan profil sang pendeta. Oh, seandainya saya bisa jadi penerusnya. Apa boleh buat, saya bukan anak raja. Ayah saya cuma pensiunan camat. Saya pun tidak mendalami ilmu agama. Paling-paling saya ikut meriung bersama para pengurus DKM Al-Ikhlas di Negla.
Satu hal sudah pasti. Politik bukan untuk orang ompong. Sebuah portal berita di Solo belum lama ini mengutip pernyataan Walikota Gibran, putra Presiden Jokowi. “Dinamika politik sudah semakin panas, sudah semakin keras,” katanya. Hati-hati. Kalau Anda punya masalah dengan gigi dan gusi seperti saya, hindari segala sesuatu yang panas lagi keras.
Agama sangat terbuka buat siapa saja, tak terkecuali buat mereka yang ingin memelihara kesehatan gigi dan mulut. Ustaz Agus dari Negla bahkan menyarankan saya untuk bersyiwak sebelum mendirikan salat. Menurut wejangan dalam buku Élmoe Tjandakeun Moelih karya D.K. Ardiwinata, menjaga mulut, lidah, dan omongan adalah bagian dari “tho’at lahir”.
Itulah yang terlintas dalam benak saya ketika sejumlah kolega di kampus bertanya-tanya, kenapa saya tidak jadi tampil sebagai calon dekan. Saya menjawab singkat saja, “Gigi saya lagi ompong.”
Untuk jadi dekan atau rektor di kampus, sebagaimana untuk jadi bupati, gubernur, atau presiden di luar kampus, orang harus bisa “unjuk gigi”. Bagaimana mungkin orang ompong seperti saya bisa menunjukkan gigi? Kalaupun memaksakan diri, niscaya saya akan jadi bahan tertawaan seluruh dunia. Celakanya, saya tidak punya bakat main komedi.
Nama besar Rahiyang Sempakwaja alias Sang Batara Dangiang Guru saya dapatkan, tentu saja, dari Carita Prahiyangan. Buat saya yang bukan filolog, manuskrip Sunda dari abad ke-16 itu agak menjemukan sebab sebagian isinya seperti katalog suksesi kekuasaan. Raja ini berkuasa berapa lama lalu digantikan oleh raja itu, dan seterusnya. Para penguasa politik memang timbul dan tenggelam seperti para pemain sandiwara yang naik dan turun panggung, sedangkan dunia terus berjalan seperti biasanya.
Namun, ada bagian yang sangat saya sukai dari manuskrip itu. Bagian itu menggambarkan apa jadinya tatkala sang pendeta terpikat oleh Pwah Rababu yang sedang mandi di Telaga Candana. Saking cintanya Sempakwaja kepada Pwah Rabau nan jelita, mereka pun kawin-mawin hingga diberkati anak: Rahiyang Purbasora dan Rahiyang Demunawan.
Dalam kesan saya, asketisme Sunda di situ sepertinya tidak merintangi pendeta untuk menyalurkan hasrat biologis. Bahkan Pwah Rababu sesungguhnya adalah anak Sang Resi Guru yang sengaja diutus oleh ayahnya untuk mendekati Sempakwaja di Galunggung supaya sang pendeta punya “teman bertapa”. Sungguh, saya senang dengan kesan demikian.
Celakanya, kisah yang sama memperkuat kesan buruk saya soal politik. Kata si empunya cerita, suatu hari Pwah Rababu tertarik oleh suara gamelan di keraton Galuh. Melihat kedatangannya, Mandiminyak terpikat dibuatnya. Sang Raja memaksanya untuk melayani hasratnya hingga lahirlah Sang Salah alias Sang Sena. Bayangkan, bagaimana seorang adik mengambil istri kakaknya sendiri.
Saya tidak tahu norma seperti apa yang bertaku di Tatar Sunda ratusan tahun yang silam. Saya juga tidak mengerti soal poliandri. Sejauh yang saya tangkap dari hasil terjemahan filolog Atja dan Saleh Danasasmita, nada penceritaan di bagian itu seperti kabar tentang skandal. Politik sepertinya cenderung melanggar norma.
Kian takjublah saya oleh Rahiyang Sempakwaja. Rupa-rupnya, dia bukan hanya ditakdirkan bergigi ompong, melainkan juga ditakdirkan beristrikan wanita yang memikat raja.***



