Dari kamar ukuran 3×4 tempat aku dulu merebahkan semua lelah setelah pulang dari sekolah saat masih duduk di kelas 6 SD, aku ingin bercerita tentang rumah yang kembali aku tempati setelah hampir 25 tahun ku tinggal pergi. Rumah ini sekarang sepi, hanya ada aku, keponakanku, dan dua orang yang menumpang, sisanya adalah kenangan-kenangan yang berserakan di dalam kepalaku.
Baru sekitar 3 bulan aku menempati rumah ini, saat pertama kali datang, aroma debu begitu pekat menempel di hidungku, jaring laba-laba, ruang kosong, dan sebagian lampu yang mati karena terputus aliran listriknya adalah salam selamat datang terbaik yang bisa diberikan rumah ini kepadaku. Senyumku pasi, ada rasa yang tak bisa aku ungkapkan, bayangan rentang tangan ibu yang menyambutku pulang, senyum bapak yang teduh itu, atau pelukan mbak yang begitu erat karena tumpukkan rindu, ya, hanya bayangan.
Rumah ini begitu besar, tapi sangat terasa sempit di dadaku, rasanya baru kemarin kami sekeluarga berbincang seru membicarakan apa saja di ruang makan yang terletak antara dapur dan musholla rumah, atau kami yang bersama-sama bekerja bakti membersihkan rumah, dibantu oleh kakak sepupu dan 2 asisten rumah tangga kami waktu itu. Kini hanya sepi yang kutemui, sudah tiada semuanya, tinggal aku, “sendiri”.
Saat aku pulang 3 bulan yang lalu, tak ada apapun yang kubawa kecuali diriku, aku mulai berfikir untuk membuka usaha demi keberlanjutan kehidupan, lalu sampailah aku pada keputusan yang disepakati antara aku dan keponakanku untuk membuka warung makan, kami menyediakan lalapan ayam, lele, sayur pedas, juga aneka minuman.
Aku beri nama warung kami “Rumah Bu Djuwita”, nama ibuku, aku ingin mengenang ketika kami semua masih bersama, dimana ketika aku pulang dari sekolah ketika masih SD, atau aku libur dari pondok pesantren saat masih di bangku MTs, ibuku selalu menyambutku dengan hidangan yang tertata rapi di meja makan dengan menu yang sekarang ada di menu warungku, tidak selalu, tetapi sering seperti itu.
Sudah 3 bulan ini, warungku sepi pembeli, segala macam promosi sudah aku lakukan, baik secara offline atau online, tapi tak kunjung juga warungku disesaki pembeli. Sampai pada suatu hari, keponakanku sedang nongkrong bersama anak seorang kyai, ditanyalah dia “mas, itu rumahnya sudah lama gak ditempati ya? Sepertinya harus “dibersihkan” dulu mas”. Dan pertanyaan itu terjadi 2 sampai 3 kali dengan orang yang berbeda.
Lalu kami memutuskan untuk mencoba cara-cara yang dianjurkan menurut keyakinanku, tapi kondisinya sama saja. Akhirnya kami mencari tahu lebih jauh, maka diundanglah teman keponakanku yang memang bisa untuk menghadirkan “mereka”. Dan benar saja, rumah ini, tidak hanya sekedar dihuni, tapi juga “ditutupi”, oleh “mereka” yang sengaja dikirim oleh seseorang yang sayangnya hari ini sudah tiada.
Dengan media teman keponakanku, masuklah salah satu sosok yang dikirm sejak puluhan tahun yang lalu, sosok itu adalah, ah aku takut menuliskan namanya, aku gambarkan saja bentuknya, sosok itu berselimut kain putih dengan tali di atas kepalanya, yang sudah pasti kita semua tahu apa namanya. Lalu dimulailah perbincangan antara keponakanku dengan sosok yang sudah “masuk” di jiwa temanya, namun sebelum percakapan itu dimulai ada pesan yang disampaikan oleh teman keponakanku, “silahkan tanya apa saja asal jangan ditanya ngapain disini?”
Percakapan mereka berdua berlangsung sekitar 20-30 menit, dari percakapan itu banyak sekali hal-hal yang selama ini aku tidak tahu. “aku dikirim kesini, bukan hanya aku, ada 3 yang terkuat, salah satunya adalah aku”, tersekat nafasku mendengarnya, dan tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri, merinding seluruh tubuhku.
Oh Tuhan, apalagi ini.



