Ada kalanya pula diam-diam dia menawari saya kopi, dan ketika ujung jari saya menyentuh bagian yang runcing dari payudaranya, yang sebentar terlepas dari kebaya katunnya yang berwarna putih
Itih, dengan nama yang singkat tapi hatinya lapang, lahir di Desa Cigugur, dekat Cimahi, di Priangan. Meski belum bisa dipastikan kapan tepatnya ia dilahirkan, pasti saatnya sebelum peralihan abad, karena Itih mengenang berbagai perayaan di Hindia Belanda sehubungan dengan pernikahan Ratu Wilhelmina. Waktu itu ia masih seorang gadis kecil, mungkin berusia empat atau lima tahun.
Dari masa kecilnya, Itih terutama mengingat pesta dan bencana, dengan kesan mendalam. Ia ingat kereta api yang bergemuruh di sepanjang tepian desa, dan masih suka menyaksikan kereta lewat. Pengalaman berpindah-pindah rumah, yang disebabkan oleh pekerjaan ayahnya, sebagai tukang kayu, yang sebenarnya bukan bagian dari dinasti desa yang nyata dan mapan di pihak ibunya, tak terhapuskan dari ingatannya. Mereka pindah ke Padalarang, dan di sana ia melihat air terjun, yang menggelontor deras dari lubang gelap di lereng gunung. Mereka pindah ke Bandung, tempat istri tukang cuci di rumah sebelah, sewaktu menyortir cucian, tertusuk jarum di ujung jarinya, yakni jarum yang telah diselipkan ke taplak meja oleh seorang perempuan ceroboh dan dibiarkan begitu saja. Jarinya bengkak dan jadi sebuah drama yang menghunjam hati Itih di masa kanak. Dia ingat hari-hari yang indah di sawah, ketika dia bersama banyak gadis lainnya memotong padi; hari raya. Makanan yang disiapkan oleh ibunya, dan disantap pada malam hari dengan diterangi lampu di rumah kecil, tempat semua anak duduk melingkar di lantai mengelilingi piring, muncul dalam ceritanya bagaikan makanan di istana, yang tak tertandingi oleh hal yang paling berharga yang dapat ditawarkan saat ini. Ada pula seorang teman seusianya yang, dengan permulaan masa akil balig, memudar ke latar belakang, tapi dalam kehidupan Itih tetap menjadi teman yang hebat dan ideal sepanjang masa, manis dan bersahaja, dan dicintainya hingga hari ini. Barangkali dia masih tinggal di suatu tempat di Tanah Priangan yang menawan, tapi tidak lagi seperti di masa lalu, masa remaja yang bahagia!
Masa remaja Itih akhirnya dipungkas dengan pesta meriah. Itulah pesta paling indah dari semua pesta yang pernah dia saksikan, karena pesta itu berlangsung pada saat pernikahan Itih dengan Umar. Dia mungkin baru berusia enam belas tahun saat itu. Umar berasal dari keluarga kaya, tampaknya terkait dengan ras Arab, yang membuka sebuah warung besar tempat pada waktu makan — dan hampir selalu ada waktu makan di Priangan! — semua bujangan, dan orang-orang yang bekerja jauh dari rumah mereka di sekitar daerah itu, datang untuk makan. Menurut tradisi, Umar adalah pemuda tampan dari kisah Seribu Satu Malam. Menurut pendapat semua orang yang bisa menilai saat itu, Itih memainkan peranan yang bagus. Pernikahan itu, tentu saja, sepenuhnya diatur, tanpa dia, oleh orang tua kedua belah pihak, dan bagi Itih Umar sebenarnya merupakan urusan sampingan. Dari pesta itu, dia terutama mengingat banyak hadiah yang datang dari kerabat, teman, dan tetangga, bahkan dari orang-orang yang belum pernah dilihatnya atau bahkan dikabarkan pernah dilihat oleh Itih. Para dermawan ini membawa dan melengkapi peralatan masak, bantal dan kasur, kain dan kebaya. Di tengah semua ini Itih hari itu bertakhta dengan rambut berhias bunga dan wajah berlapis bedak. Giginya pun telah dikikir sebentar, buat sesaat, operasi yang, bagaimanapun, tidak dapat dilanjutkan lebih jauh karena protes kerasnya. Karena itih bisa protes; dia adalah pembangkang sejak lahir.
Setelah pesta besar itu berakhir, kehidupan yang sebenarnya dimulai. Kini Itih mendapati Umar yang menuntut banyak, dan dia pun mendapati keluarga Umar, di warung yang besar dan sibuk itu, yang tuntutannya tidak pernah berakhir. Ada hari-hari ketika tiada hentinya nasi ditanak, sayur dimasak, dan sambel diulek, atau tiada hentinya peralatan makan dicuci. Sungguh terlalu berat untuk tubuh Itih yang kurus dan mungkin agak kurang gizi. Dia pun hamil, badannya jadi lesu, dan akhirnya jatuh sakit. Di rumah orang tuanya, dia menemukan kenyamanan bersama ibunya, satu-satunya orang yang, mungkin di lubuk hatinya, menyadari keadaan Itih. Bayinya lahir, tapi hanya hidup sebentar. Itih tidak pernah kembali kepada Umar. Bunga telah dipetik, dan bagi masyarakat Priangan, masalah baru saja teratasi. Di sana orang tidak suka kepada bunga yang tidak dipetik. Namun, berkat sikap Itih yang membangkang, kelanjutan sejarah melenceng dari yang lumrah. Dia tidak menjadi babu, juga tidak menikah lagi. Dia pun tidak menjadi “wanita penggoda”. Dia berdiri tegak, tetap menjadi dirinya, dan melupakan banyak hal yang telah terjadi. Agaknya, dia sedang menunggu datangnya keajaiban.
Saya melihat Itih pertama kali sekitar tahun 1916, di kedai makanan buat tentara milik pamannya di Cimahi. Tenda bambu berdiri di halaman yang sempit dan tak beraspal dari sebuah toko bobrok, tempat sebuah keluarga Afrika tinggal bersama banyak anak. Di toko itu ada lemari tua yang raknya kosong, dan di belakang jendela ada kepis dari zaman Van Heutsz, model yang dikenakan oleh tentara kolonial Prancis. Lampu-lampu tua dan segala macam barang rongsokan yang tidak lagi umum, tidak dihargai lagi, memenuhi toko lusuh itu. Penghuni toko itu sepertinya hidup dengan penghasilan lain.
Itih menjual ekstrak kopi dan susu kaleng dengan harga murah. Kopinya enak, tidak bisa didapatkan oleh seorang prajurit di tempat lain. Ada pula rak kecil yang di atasnya berdiri stoples berisi biskuit, bahkan cerutu. Sering kali hujan turun, dan airnya merembes melalui atap tenda, menetes ke toples, termasuk toples berisi cerutu, sehingga hati saya jadi iba, tapi bagi Itih hal itu bukan alasan untuk minta bantuan. Hal yang terakhir itu mengejutkan saya; kelak, pada tahun-tahun berikutnya, saya sering kagum dengan tabiat demikian.
Hubungan berubah mungkin karena saya memindahkan wadah cerutu. Mungkin juga karena hal lain. Saya datang ke situ saban hari, dan Itih hampir selalu ada. Saya tidak bisa berbicara kepadanya, karena saya hampir tidak tahu bahasa Melayu, apalagi bahasa Sunda. Saya juga tidak merasa perlu bicara. Saya duduk-duduk saja di sana, berpikir. Saya menunggu datangnya tanggal kepergian saya dari Cimahi, tempat saya tinggal selama sekitar dua setengah tahun. Hidup saya, terutama dalam paruh kedua masa kerja itu, terbilang lumayan. Perhatian saya tercurah di kantor militer, benar-benar terbebas dari semua jenis militerisme. Saya sering menangani banyak pekerjaan, dan setiap saat saya bekerja sepanjang hari. Setelah bekerja, saya suka pergi ke jalan yang disebut Pasar Antri dan makan sesuatu di warung Cina atau Pribumi, lantas saya minum kopi di tempat Itih. Sebenarnya hidup seperti itu nyaman karena selama itu saya tidak pernah marah. Tidak ada yang bisa membuat saya marah, karena saya tidak perduli. Saya hanya menunggu kesempatan untuk melanjutkan hidup saya. Saya tidak sedang jatuh cinta, sehingga segalanya berlalu begitu saja, sunyi dan menjemukan. Baru kemudian, jauh kemudian, saya menyadari kebahagiaan pada hari-hari itu ketika saya berupaya melakukan apa yang saya pikir harus saya lakukan: menemukan tempat yang “cocok” buat saya dalam lingkungan masyarakat sipil.
Semua yang saya ceritakan tentang Itih sejauh ini, baru saya dengar belakangan. Saat itu saya bahkan tidak tahu namanya. Dia ada di sana, mungil, ramping, kurus. Tudungnya tampak terlalu besar untuk lehernya yang kurus saat dia berdiri di belakang deretan toples dalam rak kecil. Dia suka bersembunyi di belakang rak itu seraya tersenyum melihat kejadian di jalan, dengan sudut mulutnya yang melengkung ke bawah, seolah-olah sedang mengejek. Di sampingnya ada tungku kecil tempat dia ada kalanya memanggang “peuyeum”, yakni penganan Sunda yang mengandung ragi, terbuat dari singkong basah yang telah sedikit difermentasi ringan sehingga mengeluarkan bau alkohol. Kadang-kadang, tanpa diminta, dia memanggang roti untuk saya, di atas arang yang menyala, dan mengolesinya dengan mentega dari kaleng kecil buatan Australia. Kemudian saya perhatikan bahwa dia tahu kata istilah Inggris “toast”, dan saya tahu bahwa semasa masih gadis kecil di Padalarang dia sempat mengurus anak-anak seorang perwira yang harus pergi ke Australia untuk membeli kuda buat tentara, dan ketika kembali dia mengajak seorang perempuan dari negeri itu. Dari perempuan itulah, dengan pemahamannya yang cepat, dia mengenal beberapa kata dari bahasa Inggris. Ada kalanya pula diam-diam dia menawari saya kopi, dan ketika ujung jari saya menyentuh bagian yang runcing dari payudaranya, yang sebentar terlepas dari kebaya katunnya yang berwarna putih, dia berkata:
“Tidak boleh!”
Itulah keajaiban dalam dirinya, betapa di dunia garnisun yang bejat di Priangan itu, dia tetap tidak ternoda. Terkadang datang para pelanggan yang paling kasar, yang duduk-duduk di situ hingga larut malam. Mereka membawa perempuan, berkeringat, dan melontarkan kata-kata kotor dari barak dan kampung. Sepertinya hal itu tidak mengganggu Itih. Pagi-pagi sekali dia pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Tukang roti datang untuk mengisi kembali persediaan kue. Dagang dimulai, dan uangnya masuk ke kantong paman dan bibi, tapi sebagian besar ke kantong paman. Tidak ada istilah upah, yang ada adalah hadiah atau suguhan di bioskop, atau di salah satu di antara begitu banyak pesta yang menampilkan tandak dan wayang di kampung.
Di seberang jalan ada tenda bioskop besar dari bambu. Itu pada masa-masa awal film. Ketika poster baru dipasang, saya melihat Itih di sana, menyeret kakinya yang kecil dan lemah, yang menunjukkan jejak rakitis dari masa kanak. Dia mengagumi “Zigomar”, “Eddy Polo”, dan “Maciste”, leluhur “orang kuat” Itali! Dia meninggalkan kedai kopinya begitu saja. Saya melihatnya naik, dengan kakinya yang kurus, ke atas gundukan tanah liat Priangan yang likat tempat bioskop itu berdiri, asyik mencermati cetakan berwarna menyolok, yang selalu menunjukkan adegan pertempuran sengit. Itulah literatur Itih, yang kemudian, jauh kemudian, membaca Kartini, Szekely-Lulofs, dan Pearl Buck, setelah dia mengawalinya dengan Ot en Sien. Dia menikmati Daum, dan mengenal Du Perron secara pribadi, mengobrol panjang lebar dengannya dalam bahasa Sunda yang mereka cintai.
Masa kerja saya berakhir pada Juni 1918, dan saya bisa bekerja lagi di manapun. Saya berangkat ke Banyuwangi tempat saya menjadi akuntan di sebuah pabrik minyak. Saya mendapat rumah tinggal di sana, dan saya membeli beberapa perabot dan barang kebutuhan pokok dari juru lelang. Saya mempunyai cukup uang untuk hidup, dan saya mempekerjakan beberapa orang Jawa sebagai pelayan, tetapi saya bekerja sepanjang hari, tak terkecuali pada hari Minggu, dan itulah kehidupan yang aneh di rumah baru yang hampir kosong itu. Bahkan para pelayan pun merasakan keanehannya. Saya tidak dapat memaksa diri saya untuk bergabung dengan masyarakat Hindia, karena saya telah hidup terlalu lama di Hindia tanpa mereka dan di luar lingkungan mereka. Saya tidak percaya kepada masyarakat dan ingin hidup sendirian dan benar-benar bebas. Saya membayangkan siang bekerja dan malam membaca. Namun, saya pun ingin kembali ke Eropa setelah perang usai. Dan tidak pernah ada apa-apa dari situ.
Saya menulis kepada seorang kenalan di Cimahi tentang keadaan saya, dan tentu saja saya pun menanyakan kabar Itih. Ternyata Itih juga menanyakan saya, dan dia sudah diberi tahu. Ada pertukaran surat yang samar-samar tentang Itih, hingga suatu hari saya mendapat sepucuk surat yang mengatakan, “Barkis is willin’!” Ungkapan terkenal dari David Copperfield.
Seraya mengangkat bahu dan tersenyum, seperti pejudi yang memasang jumlah tertentu pada kartu sambil membayangkan bakal kehilangan jumlah itu, tapi tidak lebih, saya mengambil dua puluh lima gulden dari kelebihan simpanan saya, dan mengirimkannya kepada sahabat pena di Cimahi. Datang telegram: “Berangkat hari ini.” Mereka benar-benar menculik Itih dari rumah bibi dan pamannya di pagi buta, dan memasukkannya ke dalam kereta api ekspres yang menuju ke Surabaya. Itih, yang belum pernah keluar dari tempat kelahirannya, tinggal di sebuah hotel Cina, yang dia datangi dengan diantar oleh seorang kusir kereta kuda yang ramah. Melalui bilik kamar tidurnya yang tidak mencapai loteng, seseorang dari sisi lain melemparkan selimut kepadanya, penuh perhatian. Keesokan paginya dia berangkat dari Surabaya-Kota ke Banyuwangi. Belakangan saya tahu dia terisak-isak di dalam kereta di sekitar Kalibaru. Namun, hari itu, Minggu, saya berada di stasiun pada pukul setengah tiga sore. Saya melihatnya berjalan di antara banyak pelancong, kecil dan tidak mencolok, tapi berbeda, orang Sunda. Dia tampak senang begitu melihat saya setelah mengalami semua petualangan dalam perjalanan yang sangat panjang itu.
Dia tidak pernah bisa memberi tahu saya apa ada di lubuk hatinya saat itu. Saya tidak pernah bisa mendengar dari dia bagaimana dia, sebagai orang yang tidak bisa dibujuk, juga suka memprotes dengan keras setiap pelecehan, dapat memutuskan untuk melakukan perjalanan jauhi ke tempat yang tidak diketahui ini. Keajaiban yang ditunggu-tunggu telah datang. Namun, dia tidak mengungkapkan asal-muasal mukjizat itu kepada siapa pun, termasuk diri saya. Selain itu, saat itu dia hanya mampu menjawab pertanyaan, “Bagaimana?” Tidak pernah ada jawaban untuk pertanyaan, “Kenapa?” Di dunianya “kenapa” adalah sesuatu yang tidak pernah ditanyakan.
Uang yang saya kirimkan telah diberikan kepadanya, dan sebagian besar masih tersisa. Begitu dia datang, dia mengembalikannya kepada saya, tapi saya memintanya untuk menyimpan uang itu. Dia bercerita tentang bupati dan wedana sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang desa ketika mereka berkunjung ke tempat asing. Kemudian dia mandi dan meminjam sikat gigi. Setelah mandi dia berkata bahwa dia akan kembali esok harinya. Saya memberinya lebih banyak uang, dan berkata bahwa saya harus pergi ke pabrik esok paginya, agar saya tidak melihatnya lagi. Pagi hari sebelum saya berangkat, saya menjabat tangannya, menciumnya, dan menyebutkan jadwal keberangkatan kereta api ke Surabaya. Saya meninggalkannya dengan tenang. Namun, ketika saya pulang malam itu, ternyata dia masih di sana. Dia telah membeli panci dan wajan dan kebaya. Dia juga memasak nasi dan lauk-pauk. Di pasar dia bertemu dengan seorang pria yang pernah melihatnya menangis tersedu-sedu di kereta dan menghiburnya. Dia adalah pedagang kain dan pakaian. Dalam keadaan yang berat, dia masih lebih suka mengikuti saran orang asing daripada saran saya.
Begitulah, dia tinggal bersama saya hingga hari ini. Namun, Itih yang dulu telah berubah, dan sekarang, seolah-olah saya sedang bercerita tentang orang lain.
Dua tahun sudah kami tinggal di Banyuwangi, dan anak pertama kami, perempuan, lahir di sana. Terbilang banyak pengalaman yang menyenangkan, tapi juga tidak sedikit pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Usia saya lebih dari tiga puluh tahun, dan saya lebih cenderung menginginkan seorang teman hidup yang tidak merecoki kehidupan pribadi saya daripada seorang perempuan yang mengatur-atur hidup saya. Usia Itih paling baru sekitar dua puluh tahun, dan dia hanya sedikit memahami arti “cinta” yang dikenal oleh orang Barat, sebagaimana yang ditulis oleh Kartini tentang dirinya dan rekan-rekan sezamannya. Dia hanya tahu cinta dari lingkungan desa di Priangan, yakni cinta dengan sengatan, yang tidak pernah yakin pada dirinya sendiri, atau pada pasangannya. Sepertinya tidak ada hal yang dia risaukan selain bahwa suami tidak setia kepada istri di setiap kesempatan, dan apapun yang saya lakukan untuk meyakinkan dia tentang kesempatan saya, dan terutama mengenai penghargaan saya padanya, tidak peduli bagaimana saya menunjukkannya, bahwa jika saya berselingkuh niscaya saya pun akan merusak kedamaian pikiran saya sendiri, dan itu sebabnya tidak ada “perlunya saya” berlabuh di lain pantai, dia sepertinya tidak mempercayai saya. Lama saya tidak mengerti dari mana datangnya hari-hari dia yang suram sarat lamunan, sampai akhirnya, dalam ledakan kecemburuan yang kalut, saya menemukan sebab-musababnya yang tidak disangka-sangka.
Penderitaan ini berlangsung selama bertahun-tahun dan menggerogoti hidup kami. Kemudian, ketika dia mulai membaca bersama anak-anak, tertarik oleh novel dan buku-buku lainnya, yang membuat saya kagum dengan kecerdasan dan kemauannya untuk memahami, dan terutama setelah dia bertemu dengan beberapa teman Belanda yang sangat dia percayai, penderitaan ini menghilang. Namun, tragedi tahun-tahun awal tidak pernah sepenuhnya berakhir. Dia, yang selalu setia, yang dengan kebanggaan dan kesuciannya yang mendalam tidak pernah goyah, tidak dapat memetik buah dari kualitas-kualitas indah yang begitu menghiasi dirinya dan meninggikannya harkatnya di atas banyak orang lainnya. Jika Du Perron dalam Het Land van Herkomst (Tanah Asal) menggambarkan perempuan Sunda sebagai tipe pribadi yang dingin, saya harus menyangkalnya. Memang kentara sikapnya dingin; dia terpaksa bersikap demikian karena, selama beberapa generasi, dia memendam ketidakpercayaan bawaan terhadap pria yang, sebagai kekasih, selalu dia anggap tidak dapat diandalkan, kecuali jika, dalam kasus-kasus khusus dan setelah bertahun-tahun, dia sampai pada pemahaman penuh tentang karakter pasangan yang tidak bersalah, yang mungkin dalam praktiknya jarang didapatkan.
Sering kami berjalan-jalan malam hari, terutama ketika terang bulan, di Banyuwangi. Di tengah Selat Bali, dengan latar belakang pantai pegunungan Bali dengan hutan purbanya, terapung sebuah kapal barang Jerman yang ditahan dan, ketika bulan menerobos celah awan, menyerupai kapal ajaib dengan hanya satu penjaga di dalamnya. Itih belum pernah melihat laut sebelumnya, tapi ayahnya adalah orang Bugis, bangsa pelaut, dan Itih senang dengan laut dan kapal. Tujuan dari semua perjalanannya selalu laut. Kami melihat kehidupan para nelayan dengan perahu layar mereka yang kecil, yang pada petang hari menghindari badai yang mendekat, sementara para wanita berdiri di bibir pantai dengan cemas sambil berjaga-jaga. Kami sering berjalan melewati bagian kota yang sepi. Di kuburan dia menggigil ketakutan, tapi saya sangat gembira ketika akhirnya saya dapat meyakinkannya tentang fakta yang dipahami dengan baik bahwa orang mati kurang berbahaya jika dibandingkan dengan orang hidup. Saya tidak akan pernah melupakan salah paham yang lucu, dan bagaimana hal itu diperbaiki. Baginya, “orang bagus” ternyata adalah orang yang berpakaian bagus, tetapi konsepsi saya tentang “een goed mensch” membuatnya senang begitu dia memahami saya.
Dia selalu melarang saya menulis surat kepada keluarganya. Sepertinya dia takut dengan “pembalasan”. Namun, setelah dua tahun bekerja di Banyuwangi, saya mendapat kesempatan pindah ke Jawa Tengah, serta mendapat cuti empat belas hari, dan kami meluangkan waktu itu bersama bayi kami di Priangan. Kebekuan pun mencair sudah, dan wanita tua itu, ibunya, yang sebetulnya belum terlalu tua, tapi hanya terlalu banyak bekerja, sering datang dan tinggal bersama kami untuk waktu yang lama. Saya berharap dia akan tinggal bersama kami selamanya, karena saya ingin memperpanjang hidupnya sejauh yang saya mampu. Namun, kerinduannya akan rumah, anak-anak, kampung halaman, dan bahasanya senantiasa begitu kuat dan membuatnya tiba-tiba pergi. Dan begitu dia pergi, dia tidak akan pernah kembali.
Ketika datang telegram berisi berita duka, Itih berdiri di sebelah saya di kamar tidur. Saya membaca beberapa kata yang maknanya keras. Itih berteriak sekali, berlutut di depan tempat tidur, dan menangis tersedu-sedu selama beberapa menit. Kemudian dia bangkit, tidak berbicara lagi, dan melanjutkan kegiatannya. Namun saya, orang Barat, meratapi kematian kerabat saya hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Beberapa tahun setelah wafatnya ibu mertua, Itih dan saya berada di Priangan. Saya tiba di sana beberapa hari sebelumnya, dan Itih tiba di Bandung dengan kereta ekspres malam hari. Kami pergi ke hotel untuk makan malam, kemudian berjalan-jalan di sepanjang Jalan Braga dan Jalan Raya Pos. Lantas kami pergi ke pesta dansa, dan menghibur diri hingga larut malam. Namun, keesokan harinya kami bangun pagi-pagi, dan pertama-tama saya mengajaknya ke Dago, di dataran yang ditumbuhi cemara, dan dari situ orang dapat melihat pemandangan dataran Bandung yang begitu elok. Selagi saya sedang mengaduk kopi, Itih masih berdiri di tepi dataran tinggi, dan saya mendengar dia tiba-tiba terisak.
“Ada apa?” tanyaku nyaring dan lugas sebagaimana galibnya pria.
“Aku sangat senang berada di sini,” tukas Itih.
Kulingkarkan lenganku ke bahunya, dan membawanya ke meja kecil kami seraya merasa beruntung memiliki seorang wanita yang memperhatikan keindahan alam dan menyukai tempat kelahiran. Saya berbicara tentang rencana hari itu, dan kami memutuskan untuk pergi ke tempat kelahiran yang sebenarnya, desa Cigugur.
Desa itu terletak jauh di luar batas “kota” Cimahi. Keluarga dari pihak ibunya sudah mendiami tanah milik di sana setidaknya selama empat generasi, dan mungkin lebih lama lagi. Untuk menuju ke sana, orang harus mau berjalan kaki, karena tidak ada kendaraan yang dapat melintasi jalan setapak di pegunungan ini. Jalan setapak itu buruk dan terjal, seolah-olah keadaan demikian disengaja untuk menjaga jangan sampai ada penyusup datang ke situ.
Betapa aman dan damai di situ! Selagi kami duduk-duduk di rumah Atim, kakak ipar saya yang tertua dan paling diandalkan, tak terdengar suara apapun. Atim mencari nafkah dengan berjualan bahan bangunan. Dan bukan hanya itu: dia rugi ribuan gulden! Orang yang sanggup kehilangan ribuan gulden buat kapur, pasir, batu, dan semen benar-benar pedagang. Atim, yang telah saya kenal sejak masih pemuda kecil dengan raut bijak, hampir tidak berubah. Suaranya tenang dan kalau dia bicara nadanya pelan, benar-benar seperti mendiang ibunya. Seluruh keluarga menghormatinya sebagai kepala keluarga yang tak tergantikan, begitu pula Oom Hassan dan Tante Enéh, yang juga di lahan keluarga punya rumah dari bambu yang disangga dengan balok kayu, mengikuti gaya lama. Namun, rumah Atim berlantai semen, dan dilengkapi dengan tempat tidur bagus serta meja-kursi, bahkan sebuah lemari kaca bergaya modern. Dia tidak punya anak, tapi punya “anak mas”, seorang anak perempuan yang dijadikan anak angkat, karena orang toh harus punya sesuatu untuk diurus.
Istri Atim adalah orang Cirebon yang berbicara dalam bahasa Sunda dengan logat yang berbeda dari orang-orang di sekitar Bandung. Lebih cepat, lebih tajam, kurang pelan dan kurang mengalun. Di dataran rendah hidup memang lebih keras dan lebih kencang, dan jejaknya terlihat pada bahasa. Orang Cirebon, tak punya anak dan mungkin karena itu agak pesimistis, jelas bukan anggota klan. Begitu pula ayah istri saya, yang kakeknya orang Bugis, tidak pernah bisa jadi anggota klan. Lahan, tanah milik keluarga, berasal dari pihak ibu, dan sang ayah yang kini menduda, tinggal bersama anak-anaknya secara bergiliran, tapi dia tetap jadi orang luar. Mendiang ibu pun tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari klan: dia selamanya jadi seseorang dari tatanan yang lebih rendah, jadi “orang menumpang”. Namun, di hari tuanya dia tetap rapi dan bersih, hampir-hampir berwibawa. Dia tidak kurang suatu apa, tapi tidak pernah dia hadir dalam rembukan keluarga karena pertemuan selalu ditunda hingga dia beranjak. Dia bisa saja mendapatkan tempatnya di dalam klan kalau saja dia menjadikan kepentingan klan sebagai bagian dari dirinya, tapi hal itu tidak dia lakukan. Dia telah menunjukkan bahwa bagi orang Bugis yang suka berkelana dan bertualang, menjadi “penduduk” di desa merupakan perbuatan yang menjijikkan. Ya, boleh kiranya saya katakan bahwa saya, orang yang sepenuhnya asing, yang hampir tidak dapat mengucapkan beberapa patah kata dari bahasa setempat, lebih dianggap sebagai anggota klan ketimbang orang tua itu, karena saya ada kalanya mengeluarkan uang untuk kepentingan keluarga bahkan ikut membela kepentingan tersebut “di depan hukum”.
Betapa lahan yang sangat luas, dengan sawah yang terbengkalai, ini dianggap sebagai wilayah yang tidak dapat diganggu gugat, terlihat dari kuburannya. Kuburan itu terletak di tengah-tengah, dinaungi rumpun bambu. Bambunya tumbuh tidak tegak melainkan melengkung miring di atas tanah dan angin berdesir menyibak daun-daunnya yang mungil runcing seraya menggoyang batang-batangnya hingga berderit. Di tepi jalan setapak yang membelah lahan, kuburan itu tampaknya tidak dibuat simetris, miring ke jalan. Namun, bagian kepala dari pusara itu mengarah tepat ke Tanah Suci umat Islam.
Di rumah Atim, di atas lahan milik keluarga ini, ibu tua itu sakit dan payah, lalu wafat. Kedua kakak beradik serta perempuan Cirebon itu hadir menyaksikan kepergiannya. Dia tetap eling dan berpamitan kepada setiap orang, tak terkecuali kepada mereka yang tidak hadir, sedangkan untuk saya dan Itih beserta anak-anak kami dia membacakan ayat-ayat Qur’an berulang kali, dan selalu dengan permohonan ampun kepada Yang Maha Agung, karena kami harus banyak dimaafkan akibat tidak tersentuh cahaya iman nan sejati.
Kini dia terbaring dalam kuburan miring di atas lahan itu, lahan miliknya sendiri. Tidak seorang pun dapat memasuki lahan itu kecuali harus melewati kuburannya. Kuburan itu terbuat dari batu dan batu kali, semen dan material lainnya. Saya benar-benar yakin bahwa kuburan itu akan menjadi titik pusat dari sebuah mausoleum besar, yang di dalamnya tersedia ruang bagi semua anggota keluarga, termasuk diri saya. Sudah lebih dari dua puluh tahun saya setia kepada klan ini, dan di mata mereka saya telah sepenuhnya jadi bagian darinya.
Betapa takjubnya saya dengan kuburan itu. Saya tahu bahwa saya harus mengunjunginya untuk memberikan penghormatan, dan saya telah membayangkan sebuah kunjungan ke pekuburan pribumi, di atas sebuah bukit kecil, dibatasi oleh dua tiang dari kayu atau batu tanpa tanda pengenal lainnya. Saya pikir, saya akan datang ke situ dengan membawa bunga mawar, cempaka, dan melati sebagaimana lazimnya. Namun, kuburan yang satu ini sungguh berbeda! Terasa adanya kebanggaan dan ikatan keluarga, yang saya kenal baik, tapi setelah bertahun-tahun baru kali ini hal itu terlihat nyata di sini. Terhadap pemujaan pada orang-orang yang telah tiada, yang mengandung sesuatu nan agung dan aristokratis, ini saya mesti cepat-cepat menekankan pandangan saya, yang diwarisi dari Calvinisme dan karena itu kurang menghargai pokok soalnya. Kuburan itu kian mempersatukan kami semua dan menjadikan lahan itu tempat keramat, menjadi “pusaka”, yang, saya rasa, tidak akan lagi tersentuh oleh tangan-tangan duniawi. Dan saya menyadari bahwa Itih hanya punya satu cita-cita, setelah hampir seperempat abad berada dalam diaspora, setelah begitu jauh terpngaruh Eropa dalam bahasa, pakaian, kebiasaan, perkawinan, keturunan, dan perkembangan spiritual, yaitu kembali ke istananya di tengah kaumnya sendiri.
Wanita Cirebon itu mengundang kami makan. Dia mengenakan kebaya biru langit berhiaskan bunga-bunga kecil merah dan kuning. Di dadanya tersemat pin keemasan dan gelang-gelang menghiasi pergelangan tangannya. Dirinya berserta seisi rumahnya bersih dan tertata rapi, dan dia menunjukkan sikap seorang nyonya rumah, seorang nyonya rumah dari Timur, yang tidak dibuat-buat. Namun, ketika kami berempat telah duduk mengelilingi meja, dan setiap orang telah dilayani, wanita Cirebon itu mulai bercerita. Tentang kematian Mama dan segala hal, yang ada di sekitarnya, dan tentang apa yang telah dia lakukan. Tentang terjaga di malam hari, mengurus ini itu, mengkhawatirkan satu dan lain hal, bahkan tentang biaya yang harus dikeluarkan. Tentang perlakuan yang dia (sebagai orang luar!) alami dari keluarga dekat. Tentang sikap dingin (oh, dia tidak mengatakannya secara harfiah, melainkan secara tersirat) dari pihak almarhumah. Dia tampak senang bisa berbicara kepada kami, terutama kepada saya, yang mengetahui segalanya dan mengenal keluarga ini lebih lama, dan orang asing pula. Dia berbicara menggebu-gebu, dengan gerakan tangan yang leluasa, dan suaranya naik turun. Dia curahkan isi hatinya bahkan hingga rincian yang terkecil. Suaminya, Atim, duduk tenang dan sesekali dengan lembut melontarkan kata penjelas atau bertukar pandang penuh pengertian. Saya sendiri kenal almarhumah, dan sikap “tidak tahu diri” yang kentara ini cukup bisa kumafhumi, karena hal itu jelas dapat dimengerti dari tabiatnya dan gejolak batinnya dalam beberapa tahun terakhir ketika semua anaknya tercerai-berai dan dia gagal mengawasi segalanya. Walhasil, sang menantu perempuan hampir tidak memenuhi syarat, dan dengan sendirinya dia merasa tersisih, di luar klan, tertekan oleh berbagai keluhan.
Selagi dia bercerita, pintu terbuka, dan masuklah Oom Hassan, kakak tertua almarhumah Mama. Kelihatannya dia menangkap sesuatu dari rumahnya, sekitar seratus meter jaraknya. Dia duduk tenang, dan segera kakak iparku bangkit, mengambil piring dan mengisinya kemudian menawarkannya kepada orang tua itu. Ceritanya berakhir begitu saja. Tante, adik Oom Hassan, pun datang pula tak lama kemudian dan percakapan beralih ke dalam hal-hal umum. Pengarahan biasa dimulai dan hampir-hampir jadi tanya-jawab. Tante yang kulitnya putih mengenakan pakaian gelap.
Pada raut wanita tua yang cantik ini tampak matanya berbinar-binar dan penuh selidik. Setiap kali ia mengajukan pertanyaan, yang terutama menyangkut materi, Atim meredam rasa penasarannya dengan sangat bijaksana.
Masih banyak yang dibicarakan, juga tentang anggota keluarga yang lainnya, serta tentang saudara-saudara ipar, yang terbilang banyak, dan yang dengan senang hati akan mendapat pembagian warisan. Namun, kelak, mereka yang telah tiada bakal melindungi lahanini, dan tidak secuil pun, tidak sejengkal pun dari lahan ini akan diberikan selama keturunan langsung dari para pendahulu tinggal di sana dan menjaga kuburan. Mereka yang membutuhkan akan dilayani sebaik mungkin. Kalau perlu, anak-anak dari saudara dan saudari yang kekurangan akan diberi makan di situ.
Namun, manakala urusannya menyangkut tanah, habis perkara. Wibawa dan kedudukan Atim, sang calon patriakh, diam-diam diakui oleh semua pihak. Saya berdiri di dekat kuburan sesaat sebelum berangkat dan tahu pasti bahwa “pusaka” itu tidak akan terusik. Dengan menyadari hal itu, saya pun beranjak dengan hati tenang. Menghadapi setiap perpecahan, setiap pencemaran, menghadapi keangkuhan, bahkan mungkin secuil hati yang penuh kasih. Itulah sanubari klan.***
[Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan dari karya Willem Walraven dalam bahasa Belanda, “De Clan”, yang dimuat ulang dalam majalah budaya Orientatie No. 23-24, Agustus/September 1949, halaman 30 – 41]




