Terlalu menyalahkan Mataram untuk undak-usuk dalam bahasa Sunda, mungkin bisa dibilang sifat pecundang yang malas. Terlalu mengglorifikasi masa Sunda kuna juga termasuk aib yang lain. Kocak.
“Pun samapun, aya baja kami pun. Kami me(n)ta pirabieun pun. Kéna kami kapupulihan ku paksi Si Uwuruwur, paksi si Naragati. Papa baruk urang hanto dinanak.”
Kemudian berkatalah Bagawat Resi Makandria “Aku hendak pergi kepada Sang Resiguru di Kendan.” Tibalah ia di Kendan. Kata Sang Resiguru: “Apa beritamu Bagawat Resi Makandria, yang membuat kamu datang kemari?”
“Ampun, memang ada yang ingin saya katakan. Saya hendak meminta calon isteri, karena mendengar kabar dari burung Si Uwur-uwur dan Si Naragati, nista gerangan bila kita tidak beranak.”
(Naskah Sunda Kuna Carita Parahyangan)
Jika dipandang dari bentangan sejarah Nusa Jawa, terjadi bahasa Sunda yang berundak-undak adalah keniscayaan. Di saat bangsa Nusantara yang lain menyebut jawi untuk aksara arab varian lokal, bangsa Sunda dan Jawa menyebut pégon. Begitupun dengan aksara kuna yang diturunkan dari tradisi India, secara paleografi aksara Sunda dan Jawa juga Bali jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan aksara di Sumatera, Sulawesi dan Bima. Juga dari segi isi, banyak teks di tradisi Sunda kuna menggunakan bahasa Kawi yang disebut juga bahasa Jawa kuna.
Bukan hanya itu, di Bali sebagai kepanjangan tradisi Jawa kuna, sampai kini masih terdapat beberapa teks yang disebut dan juga ada dalam tradisi Sunda kuna. Sebagai contoh saya ambil tiga teks, pertama Bima Swarga, yang baru-baru ini dikaji Aditia Gunawan, kedua Kunjarakarna oleh Willem van der Molen, ketiga Arjunawiwaha oleh Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka, kemudian dikaji lagi oleh I. Kuntara Wiryamartana. Mungkin Anda belum tahu teks Arjunawiwaha yang berasal dari Bandung adalah teks tertua yang ada di Perpustakaan Nasional, paling tidak untuk teks yang bermedia daun. Teks-teks yang dikaji Aditia dan peneliti yang lain merupakan teks yang diproduksi dari tradisi Sunda kuna, Jawa kuna dan Bali. Ini bisa menjadi bukti bahwa kebudayaan Sunda, Jawa dan Bali saling paut-memaut.
Oleh karena itu, di Bali kita temui bahasa yang berunggah-ungguh dan seni tembang-puisi macapat, yang di Priangan kedua tradisi ini sering disebut efek dari penjajahan Mataram Islam. Padahal di masa jayanya pun kesultanan ini tak pernah mencapai ujung timur pulau Jawa.
*
Tingkatan bahasa dalam bahasa Sunda tentu tidak terjadi dalam satu kedipan mata. Menariknya gejala penghalusan kata ini sudah kita dapati dalam teks-teks Sunda kuna, yang paling sering saya temui adalah penghalusan kata manéh (diri) menjadi manten. Walaupun begitu, dalam bahasa Sunda dialek Priangan yang dikenal dengan undak-usuknya, kata manten tidak lagi dipergunakan, saya malah menemukan kata itu dalam bahasa Sunda dialek Baduy yang saya temui dalam carita pantun.
Kini, yang lebih sering kita temukan adalah bentukan dari kata itu, yakni mantenna, baik dalam bahasa Sunda Priangan maupun Baduy mantenna digunakan sebagai kata ganti orang ketiga yang sopan. Di Baduy ketika membicara Puun atau tetua yang lain, orang berpengetahuan biasanya menggunakan mantenna. Berlawanan dengan keyakinan umum pada kenyataanya bahasa Sunda dialek Baduy memiliki tingkatan, meski tidak serumit dialek Priangan.
na ambu berarti “ibumu”, na kebon berarti “kebunmu”. Atep Kurnia yang sedang mempublikasikan karangan bersambung tentang Jonathan Rigg pionir leksikografi Sunda, juga menyinggung hal ini. Menurut Rigg na adalah kata ganti. Lingkup pengkajian Rigg sekitar Jasinga, Bogor memang cukup dekat dengan Kanekes. Pada tulisan Atep, kamus A Dictionary of the Sunda Language of Java selesai disusun tahun 1855 dan dipublikasikan tahun 1862, saya penasaran apakah orang Jasinga saat ini masih menggunakan na sebagaimana dicatat Rigg. Selain itu, hal yang cukup menarik pada kamus Rigg dari sudut pandang kajian bahasa Sunda saat ini, ternyata bahasa Sunda yang dikamuskan mula-mula adakah bahasa Sunda orang Jasinga yang lebih dekat dengan bahasa Sunda dialek Banten, bukan bahasa Sunda Priangan yang sekarang menjadi patokan bahasa Sunda baku.
Kita patut curiga dengan apa yang disebut dengan bahasa “Sunda Baku”, mengingat kebakuan ini dibentuk oleh kaum kolonial yang dibantu (setengah dijilat) oleh bangsawan lokal. Alih-alih kepentingan ilmiah bisa jadi nuansa politis sangat kental di sana, dan bisa saja “metoda” ini masih bertahan hingga sekarang.
Bisa saja seperti peristiwa lahirnya kata “Anda” dalam bahasa Indonesia tahun enam puluhan, mengandung nuansa ketidaktahuan pada diri sendiri dan rasa iri pada bangsa lain. Sepertinya kata itu bisa jadi gambaran atas orang-orang inferior dan tidak jembar pada masanya.
Bahasa Sunda baku disusun ketika elit pribumi mencengkram rakyatnya dan dimanjakan oleh atasannya pemerintah kolonial. Peristiwa kerja paksa dan perang Jawa patut kita perhitungkan, mental manipulatif jaman VOC juga tak bisa lepas, dimana terbentuknya mental masyarakat yang kalah tapi tidak merasa kalah juga koruptif. Sama seperti ketika kaum menak itu menciptakan Tembang Sunda Cianjuran lagunya mendayu-dayu dengan lirik yang menggambarkan tanah Sunda yang asri, disaat mereka meluluhlantahkannya.
*
Teks Sunda kuna hanya sekitar seratusan, kajiannya tersendat-sendat, orangnya itu-itu saja. Tapi memang orang-orang yang tak pernah menghirup bau debu lontar Sunda biasanya lebih pongah untuk menyatakan masa Sunda kuna begini dan begitu. Lagian mewacanakan hal yang ahistoris untuk meneguhkan kepentingan pribadi merupakan tradisi penguasa di Jawa, tak pelak dengan kaum menak Sunda. Tak perlulah kita heran bila sebagian orang Sunda merasa perlu untuk melestarikannya.
Perlawanan terhadap watak feodal orang Sunda sudah dilakukan oleh Haji Hasan Mustapa di jantungnya seabad lalu. Saya hanya icip-icip meneruskannya saja.
HADY PRASTYA | TUKANG KAYU
image: Sharm Murugiah




