Katumbiri Nutug Komik

Novel grafis ini, dengan caranya sendiri, telah ikut memperkaya literasi Bandung, khususnya dalam rumpun fiksi, lebih khusus lagi dalam aspek visualnya. Ia akan jadi alternatif yang menyenangkan dari rekaman sejarah kota nan kering imajinasi.

Seorang insinyur sipil yang juga ahli hidrologi masuk ke masa silam. Ilmuwan muda yang terdidik di ITB dan IHE-Delft itu sedang meneliti sejarah sebuah jembatan di belahan utara Bandung. Selagi mengumpulkan data di tepi sungai dekat Curug Lalay, dia menemukan dirinya berada di paruh pertama abad ke-20 semasa Bandung masih dipimpin oleh Kanjeng Dalem R.A.A. Martanagara. Katumbiri — istilah Sunda untuk “pelangi”— jadi penghubung antara masa kini dan masa lalu, sejenis rawayan naratif yang membetot sang insinyur ke dalam misteri ruang dan waktu. Tergelarlah sebuah petualangan yang penuh laga serta kisah cinta yang panjang jejaknya.


Dengan garis besar demikian, seniman grafis Yaya Riyadin menyuguhkan cerita dalam bentuk novel grafis berukuran 19 X 27,5 cm, dengan judul, Katumbiri (Regenboog), sepanjang dua jilid. Kedua buku ini terbit dalam dua tahun terakhir, di tengah suasana pandemi dan pasca pandemi. Jilid pertama terbit pada 2022, disusul oleh jilid kedua beberapa waktu lalu.

Yaya adalah seniman grafis yang berbasis di Jakarta. Ia lahir di Kuningan, Jawa Barat, 27 Maret 1960, dan sejak kecil menggandrungi komik, tak terkecuali komik Eropa, juga gemar menggambar. Pendidikan formalnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, di Bandung, mematangkan minatnya. Setelah meniti karier di bidang animasi kemudian menekuni bidang periklanan di lingkungan kerja korporasi multinasional, ia menggali lagi potensi kreatifnya yang luar biasa di bidang ilustrasi. Ditopang dengan riset kesejarahan dan kebudayaan yang mumpuni serta disiplin kerja profesional, lahirlah Katumbiri buat para pecinta komik dan novel grafis Indonesia dewasa ini.

Dengan latar belakang seperti itu, terbayang apa yang diharapkan dari perancangan dan produksi komik Indonesia hari ini. Bukan lagi hobi tanpa pendidikan formal. Bukan lagi kesenangan yang dipacu oleh tuntutan ekonomi jangka pendek. Ada semacam tuntutan untuk menyesuaikan diri secara kreatif dengan pusaran industri global, yang melibatkan tim kerja profesional dan disiplin riset yang memadai. Pada kasus Yaya, perancangan dan produksi komik tampaknya diniati sebagai ikhtiar membangun dunia rekaan di atas dokumen sosial-budaya hasil riset keilmuan.

Dari judulnya tersirat arah ikhtiarnya. Judul buku memakai dua bahasa: Sunda dan Belanda. Tersirat adanya ikhtiar untuk menggali lagi hubungan antarbudaya yang tercermin antara lain pada tata kota, gaya hidup masyarakatnya, serta hubungan antarpribadi yang tumbuh di dalamnya. Isi cerita, tentu saja, berbahasa Indonesia dengan dialek Sunda dan Belanda yang kental, selaras dengan latar tempat dan waktu perkisahannya.

Daya pikatnya yang paling kuat, sudah pasti, terletak dalam gambar-gambarnya: sejenis naturalisme visual tentang Bandung sebagai sebuah kota di dataran tinggi Priangan nan elok yang menyerap semangat modern dari Eropa dengan akar tradisi setempat yang kuat.

“Saya berharap komik-komik Indonesia bisa ditingkatkan kualitasnya, dengan gambar atau tata rupa yang baik dan cerita yang menarik. Salah satu aspek yang sangat penting adalah melakukan riset sebelum mengeksekusi sebuah komik,” tutur Yaya.

Harapan demikian, tampaknya, mencerminkan metode kerja Yaya sendiri. Bahan-bahannya tentu seabrek, dari guntingan koran dan majalah hingga buku, dari gambar mati hingga gambar hidup. Sejarah kota, tak terkecuali kisah hidup tokoh-tokohnya, dari Martanagara hingga K.A.R. Bosscha, dia gali lagi. Dia melihat-lihat lagi tata ruang, desain interior, tata busana, gaya hidup, dan banyak lagi yang tumbuh pada awal abad ke-20. Itulah era tatkala industri modern sudah lumayan jauh merambah ke Hindia Belanda, sebagaimana yang telihat dari budaya material di bidang otomotif, elektronik, fashion, juga kecederungan artistik seperti Art Nouveau atau Art Deco, dan banyak lagi. Hasil-hasil riset mengenai sejarah alam Cekungan Bandung tak ketinggalan pula.

Bahan-bahan narasi dan visualisasi dalam buku ini juga digali dari kenangan pribadi Yaya sendiri. Kiranya bukan kebetulan jika nama tokoh utama cerita ini adalah Ganesha. Itulah nama tokoh mitologis yang terkenal dan di Bandung dijadikan nama jalan tempat kampus ITB berada. Kampus ITB sendiri ikut memperkaya latar tempat cerita ini, demikian pula orang-orangnya, tak terkecuali sosok mendiang Mang Amir, pria sepuh yang ramah dan sangat dikenal oleh para mahasiswa FSRD ITB. Tokoh-tokoh dari sejarah yang diikutsertakan dalam kisah ini bukan melulu orang besar seperti regent Martanegara atau planter Bosscha, melainkan juga orang kecil seperti Mang Amir.

Di studionya, untuk menghasilkan buku ini, dia rata-rata menghabiskan waktu dua hari untuk menggarap satu halaman cerita. Jilid pertama sepanjang 100 halaman, sedangkan jilid kedua 110 halaman. Silakan hitung sendiri total jenderalnya.

Untuk menciptakan dunia rekaannya, Yaya menemukan sebuah elemen visual yang sangat tepat: katumbiri alias regenboog atau pelangi itu tadi. Dalam bahasa Sunda ada ungkapan “katumbiri nutug leuwi (pelangi turun ke telaga)”. Seorang penyair Sunda, Surachman R.M. namanya, pernah menulis baris-baris berikut: “…moal kawénéhan deui katumbiri// pikeun nyungsi pangancikan Dayang Sumbi (…takkan terlihat lagi pelangi//buat mengunjungi kediaman Dayang Sumbi)” Dengan kata lain, di lingkungan budaya Sunda, katumbiri juga sering dilihat sebagai jalan atau titian. Orang percaya, kalau pelangi muncul, berarti ada bidadari turun dari langit hendak mandi di telaga atau sungai yang tenang. Nah, bagaimana kalau bidadari itu sosok ibu dari masa lalu, leluhur kita sendiri?

Dengan kata lain, ketimbang mengimajinasikan “time machine”-nya H.G. Wells, Yaya lebih memilih metafora setempat buat memelihara persambungan historis dalam pengalaman tokoh-tokoh ceritanya. Di tangan Yaya, katumbiri-lah yang memungkinkan tokoh utama Ganesha, insinyur ganteng yang juga jago penca, bertemu dengan tokoh Puspasari, bunga tercantik di Pasirmalati yang ternyata adalah nenek buyut Amelia, pacar sang tokoh utama.

Ada semacam permainan simetri, baik simetri literer maupun simetri visual dalam kisah ini, khususnya antara kisah Ganesha – Amelia dan Putra Martanegara – Puspasari. Secara visual, permainan simetri ini barangkali dapat dibayangkan melalui pantulan citraan yang biasanya muncul pada permukaan cermin. Untuk meminjam baris puitis dari Sapardi Djoko Damono, dapat kita bayangkan seseorang di depan cermin bertanya-tanya: “tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?” Bagaimana kalau citraan itu berasal dari leluhur kita sendiri?

Entah sengaja ataukah karena bawah sadar pengarang, jalan cerita kisah ini bergantung pada motif pembangunan sebuah rawayan atau jembatan. Itulah projek teknik sipil yang, tentu saja, melibatkan para insinyur dan turut menandai modernisasi kehidupan di Hindia Belanda. Pada hemat saya, melalui citraan jembatan itu pula Yaya menemukan metafora visual yang menghubungkan satu generasi dengan generasi lainnya.

Hubungan yang rumit antara Indonesia dan Belanda juga menemukan alegorinya dalam kisah yang mengambil latar tempat di Utrecht dan Bandung ini, khususnya melalui tokoh Pieter van Hauvel, aparat intelijen Belanda yang menyamar sebagai kontrolir perkebunan. Cinta Van Hauvel kepada Puspasari tak berbalas, dan ia kembali ke Eropa dengan hati yang hancur. Dendamnya kelak terwariskan kepada buyutnya, Laurens, yang terobsesi oleh Amelia, mahasiswi asal Bandung yang belajar di Utrecht. 


Buat Anda yang menggemari cerita silat, Katumbiri kiranya menyuguhkan semacam alternatif dalam hal rincian kesaktian. Dalam kisah ini, keunggulan sang jagoan tidak datang dari wilayah antah-berantah, melainkan dari disiplin berlatih yang keras dalam periode tertentu, dan pelukisannya mengandalkan penjelasan ilmiah. Sekadar gambaran, dalam sebuah adegan duel antara Ganesha dan Gerard Jonker, pembaca diberi penjelasan beserta visualisasinya mengenai kreativitas seorang insinyur untuk menyisati permainan sebilah pisau dapat mengungguli permainan pistol di tabgan lawannya.

Yaya sepertinya meneruskan tradisi ilustrasi yang dulu dilakoni oleh para ilustrator Eropa seperti Cornelis Jetses(1873-1925), Wlihelmus Karel De Bruin (1871-1945), dan lain-lain yang bersifat etnografis dan pada zaman kolonial sering mengisi buku-buku bacaan buat anak-anak. Tradisi yang sama, sebagaimana yang pernah dikaji oleh mendiang Haryadi Suadi dari FSRD ITB, juga terlihat jejaknya pada gambar-gambar ilustrasi karya mendiang Onong Nugraha (1934-2001).

Novel grafis ini, dengan caranya sendiri, telah ikut memperkaya literasi Bandung, khususnya dalam rumpun fiksi, lebih khusus lagi dalam aspek visualnya. Ia akan jadi alternatif yang menyenangkan dari rekaman sejarah kota nan kering imajinasi. Dunia rekaan yang dibangun di atas fondasi kesejarahan ini mempersambungkan kenangan akan zaman kolonial dan dinamika hidup generasi baru hari ini. Dalam fiksi, pengalaman kolektif pada masa silam dikunjungi lagi melalui pengalaman manusiawi sejumlah individu yang jadi tokoh cerita. Katumbiri bisa juga jadi pintu masuk yang menyenangkan buat generasi kini yang tertarik melongok masa silam Bandung, khususnya, Indonesia, umumnya.

“Ganesha dan Amelia itu paradigma generasi muda yang diharapkan. Jangan pernah puas meraih ilmu yang sudah didapat. Raihlah ilmu dan pengalaman sampai ujung dunia, tapi tetap berpegang teguh pada tradisi asal di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Intelektualitas akademik dan modernitas itu hanya bekal untuk pengabdian — dan kemapanan tentunya — terhadap kemajuan peradaban bangsa,” tutur Yaya, ayah dua anak.

Dengan “Katumbiri”-nya, Yaya Riyadin telah mempersembahkan hasil kerja kerasnya kepada generasi baru. Tabé, Kang Yaya.***


HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq

Picture of Redaksi

Redaksi