
Kami duduk-duduk di bawah sebuah naungan kecil, di atas sebuah balok kayu (lesung) yang terletak di depan gubuk-gubuk itu, dan menunjuk lurah sebagai duta besar yang berkuasa penuh, untuk menghadapi benteng-benteng tertutup yang isinya mungkin masih hidup.
Setelah lelah berjalan sepanjang hari melewati gunung dan lembah, kami tiba di Garung. Kami mengemasi pakaian dan keperluan perjalanan lainnya dalam kopor kulit kecil, cukup ringan untuk dibawa, dijinjing dengan satu tangan, dipanggul atau disunggi. Namun, para kuli yang mengurusnya —selusin penduduk Jawa dari desa yang kami tinggalkan pagi harinya— tertinggal jauh. Mereka pergi dari sana dua jam sebelum kami beranjak dari Gintung. Terpaksa kami cari mereka, dan mendapati mereka sedang duduk-duduk di atas tanah dalam naungan rumpun bambu. Beberapa sedang tidur siang dengan menjadikan kopor kami yang cukup besar sebagai bantal; yang lain, yang sedang terkantuk-kantuk, membuat cerutu kecil dari tembakau yang dipotong halus dan daun jagung. — “Saya banyak capek, Tuan!” kata yang satu; “Terlalu panas, kurang kuat,” tambah yang lain kepada saya, dan “Sakit perut” adalah keluhan orang ketiga. Kami tinggalkan beberapa pembantu kami bersama mereka dan melanjutkan perjalanan, setelah membuka salah satu peti untuk mengeluarkan beberapa cerutu dan membagikannya kepada mereka. Kami menjanjikan mereka masing-masing setengah gulden di atas upah yang telah disepakati (yang telah kami bayarkan di muka), ditambah kue-kue dan kopi untuk kudapan, jika mereka sanggup tiba di Garung sebelum malam tiba. “Ya, baiklah, Tuan!” seru mereka serempak, seakan dari satu mulut, dengan gembira; “tuan ini baik sekali!” tambah yang lain. Kemauan mereka sebetulnya baik. Namun, mereka berbaring-baring saja di situ dengan senangnya! Mata mereka yang baik dan mengantuk, yang di dalamnya kesenangan seolah-olah tinggal dibaca — karena mereka begitu senang, begitu ceroboh — mereka terus terpaku pada kepulan asap biru dari cerutu mereka; mereka tampak sangat bahagia di situ, lebih kerasan daripada pasangan manusia pertama di surga; sebuah sungai kecil bergemericik di dekat mereka, dan pohon surgawi, yang memberi mereka daun lebar untuk dijadikan piring buat melahap nasi, yaitu pohon pisang, tercermin di permukaan air sungai yang sebening kristal.
Seandainya saya menuruti keinginan saya, bisa saya minta mereka berangkat lebih dulu, tapi saudara saya, Malam, berkata: “Mereka bakal menyusul,” maka kami pun pergi bersama seorang lurah (kepala desa), tiga orang pembantu, dan beberapa penduduk Jawa lainnya, yang membawakan peralatan dan senapan kami. — Akhirnya, tibalah waktu senja — tapi mereka belum sampai juga.
Matahari sore sudah memancarkan sinar merahnya di lereng timur lembah; sesaat kemudian tinggal nyala di tepian atasnya; pendaran cerah ini lambat-laun kian tipis dan pucat; kelelawar raksasa (kalong) terbang di atas kepala kami ke berbagai arah, tempat merayakan pesta malam mereka, dan teriakan burung merak di hutan terdekat semakin keras di telinga kami tatkala kami mendekati sebuah dusun yang sunyi, yang hanya berisi lima atau enam gubuk. Bayangan gelap yang turun ke lembah yang luas telah menelan dusun kecil itu beserta pepohonannya. Beberapa saat sebelumnya para wanita telah menumbuk padi pada balok kayu (lesung) untuk makan malam, dan sudah seperempat jam lamanya suara serak yang lazim timbul dari alu yang jatuh telah terdengar di telinga kami ketika kami masih jauh dari situ. Namun, begitu mereka melihat kami, mereka melemparkan alu dan lari belingsatan ke dalam gubuk mereka. Sambil menjerit, mereka dikejar oleh anak-anak, dan anjing-anjing bersembunyi di bawah lantai rumah yang bangunannya, sebagaimana lazimnya, berdiri dengan empat sudut, di atas panggung atau tiang bambu. Dari tempat persembunyian mereka, terdengar simfoni gonggongan, fortissimo, yang mengusik ayam-ayam yang sudah lama tertidur sambil duduk di tempat yang sama. Tidak terdengar sedikit pun gerakan dari dalam gubuk. Semua yang berada di dalamnya terdiam seperti tikus; hanya di sana-sini terlihat separuh wajah, dengan sebelah mata, mengintip penuh rasa ingin tahu melalui celah di dinding bambu.
Kami duduk-duduk di bawah sebuah naungan kecil, di atas sebuah balok kayu (lesung) yang terletak di depan gubuk-gubuk itu, dan menunjuk lurah sebagai duta besar yang berkuasa penuh, untuk menghadapi benteng-benteng tertutup yang isinya mungkin masih hidup — tapi tidak seperti Pangeran Menzikoff dengan Porte Yang Agung — tidak, melainkan untuk berunding secara damai.
Diplomat kami menyampaikan kata-kata yang mengharukan, mengungkapkan kesedihannya bahwa kedatangan kami telah menyebabkan jendela dan pintu tertutup, dan begitu dia memungkas pidatonya yang anggun, seketika pintu yang pertama, lalu yang kedua, dan yang ketiga dibuka, dan, meskipun ragu-ragu, beberapa pria keluar dengan nasi dan pisang, yang kata Lurah akan dibeli dengan harga yang baik. Kami pun mendapat makan malam sederhana, yang disajikan di atas daun pisang. Anjing-anjing merangkak keluar dari tempat persembunyiannya dan mengibas-ngibaskan ekornya ke arah kami; segera beberapa perempuan tua yang keriput muncul di tempat, berdiri agak jauh, dan berteriak kepada kami, dengan suara yang lantang dan melengking, tapi dengan gerak-gerik ramah, “Selamat datang di Garung!” Tidak lama kemudian beberapa wanita yang lebih muda mendatangi kami sambil memangku anak-anak mereka, bahkan gadis-gadis muda pun satu demi satu mendekat ke dalam lingkaran. Yang lain beranjak lagi dan, tanpa diminta, kembali dengan membawakan beberapa makanan lezat yang mereka simpan di gubuk. Yang ini menawari kami sepanci kecil sambal goreng, yang lain mengeluarkan separuh ayam panggang, yang dia sarankan kepada kami karena rasanya lezat; yang lain memberi kami beberapa butir telur penyu, atau sekerat dendeng; yang keempat menghamparkan tikar, yang dianyam dari daun pandan dan berwarna putih di atas lesung, dan akhirnya — ketika pada umumnya mereka telah yakin bahwa kami bukanlah perompak— kami mendapati diri kami dikelilingi oleh tua dan muda, lelaki dan perempuan, serta anak-anak, dan semua hewan peliharaan mereka, singkatnya, oleh semua yang hidup di desa.
Malam: “Kamu lihat kan, orang Jawa itu manusia terbaik?”
Saya: “Kamu lihat kan bahwa orang bisa jadi baik dan ramah tanpa harus jadi Kristen? Tapi kamu juga tahu kuli-kuli kita itu tidak datang?”
Malam: “Sabar; belum terlalu malam, lagi pula, kita punya cahaya bulan. Mereka pasti datang.” ***
(Bersambung — sewaktu-waktu)
Franz Wilhelm Junghuhn
— Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan dari Licht- en Schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java (1867) —



