Pak Pakih Syam bin Syam Nasik wafat dalam usia 68 tahun, di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin siang (13 Februari 2023), sekitar pukul 13.00 WIB. Beberapa saat sebelumnya, almarhum sedang bersiap-siap hendak naik pesawat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umroh. Tuhan Yang Maha Pengasih menetapkan agenda tersendiri: keberangkatan Pak Pakih ternyata adalah kepulanganya ke alam baqa. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.
Kami tidak sempat berkenalan dengan Pak Pakih meski sempat terbersit niat untuk menemuinya dan mengajaknya berbincang seputar perubahan Bandung. Buat kami, orang seperti almarhum layak dijadikan narasumber, sebab sudah puluhan tahun dia berkiprah sebagai chef di balik etalase gerai Soes Merdeka yang terkenal itu.
Ya, memang terlambat. Waktu gerimis turun Selasa pagi, kami turut datang ke rumah duka di Gang Toha, Lingkungan Hegarmanah, RT 01/RW 05, No. 51, Bandung. Dari balik tembok Apartemen Setiabudhi dan Kedai Sate Marem, labirin gang sempit membawa kami ke tempat jenazah terbaring dikelilingi sanak keluarga almarhum, sebelum dikebumikan di Cipedes. Almarhum meninggalkan seorang istri, dua anak, dan enam cucu. Begitu bergabung dengan kaluarga yang sedang berduka, kami merasa, lagi-lagi, bahwa rincian sejarah kota ikut menghilang, tak sempat tercatat.
Meski tidak sempat mengenal orangnya, kami merasa cukup dekat dengan lingkungan sehari-harinya. Anak sulungnya, dosen dan fotografer Dicky Purnama Fajar, adalah kolega kami di kampus Universitas Pasundan. Dicky, yang juga pandai memasak bahkan sempat pula membuka usaha kuliner mi ayam, sering bercerita kepada kami seputar figur ayahnya.
Pak Pakih berasal dari Rancaekek dan sudah puluhan tahun tinggal bersama keluarganya di lingkungan Hegarmanah. Selain terus bekerja untuk Soes Merdeka, dia turut mengurus keperluan air bersih untuk lebih dari 80-an kepala keluarga warga setempat, hingga akhir hayatnya.
“Ieu hasil karya Bapa nu terakhir (Ini hasil karya Ayah yang terakhir),” ujar Dicky sambil memberi kami masing-masing satu kotak kue Soes Merdeka yang berisi kue sus, pastri, dan air mineral. Pada salah satu sisi kotak itu tertera logo usaha kuliner dan tulisan “Merdeka, since 1942”.
Tahun 1942! Buat orang Indonesia, itulah awal pendudukan fasisme Jepang, setelah kolonialisme Belanda ambruk, sebelum republik muda menyatakan kemerdekaannya. Kotak kardus wadah kue-kue kering itu membuat kami tersadar bahwa tata kuasa politik bisa saja berubah-ubah, bahkan secara revoluioner, sedangkan cita rasa warga kota boleh jadi lebih awet. Para raja dan presiden timbul dan tenggelam, tidak seawet cita rasa kue sus.
Beberapa direktori kelihatannya punya versi sendiri-sendiri perihal titimangsa awal usaha kue sus di Bandung. Telusur Bandung (2014) karya Teguh Amor Febriana, misalnya, menyebutkan bahwa Toko Soes, Roti, dan Kue Merdeka “berdiri sejak 1969”. Yang pasti, “Soes Merdeka” — yang sebelum tahun 2000-an, kalau tidak salah, menyebut dirinya “Merdeka Soes, Roti, Kue”— telah jadi salah satu ikon kuliner Bandung.
Dalam Kamus Belanda-Indonesia susunan Susi Moeimam dan Hein Steinhauer, istilah Belanda soes diartikan sebagai “kue sus”. Dalam merk dagang dan kemasan produsen kue yang melegenda ini, nama produk andalannya tetap ditulis “soes”.
Kue sus adalah kue yang terbuat dari adonan tepung terigu, putih telur, dan mentega, yang dipanggang hingga mengembang dan berongga. Kue ini biasanya diisi dengan krim susu atau bahan lainnya. Kue ini renyah dengan krim yang lembut dan manis.
“Walaupun toko kue [Soes Merdeka] ini kental dengan sejarah masa penjajahan Belanda dan mempertahankan keaslian resep kue-kue Belanda, tetapi mereka juga mengadopsi elemen global dalam segi tampilan dengan menampilkan oven di depan gerai sehingga konsumer [Sic!] bisa melihat proses pembuatan kue-kue mereka,” urai Sugeng P. Syahrie dalam bukunya, Teknokultur (2017), sebuah kajian mengenai usaha kuliner yang menyebut-nyebut Soes Merdeka sebagai “toko kue… yang sudah melegenda di Bandung”.
Ketika ambulans dan para pengiring berangkat ke pemakaman dalam gerimis, kami tertinggal di mulut gang sambil memegang kotak kue sus. Beberapa langkah dari tempat kami berdiri ada dua skuter Vespa tua terparkir kehujanan: satu di antaranya biasa dipakai oleh Dicky, kendaraan sehari-hari yang juga merupakan peninggalan almarhum.



