Ingatan dari Halaman Buku

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

Dari Multatuli ke Tirto Adhi Soerjo ke Pramoedya Ananta Toer — dapatkah jalur literer ini kita sebut garis tradisi, sejenis persambungan komitmen yang tak kunjung mati? Saya tidak tahu.

Pada tahun 1995 saya adalah reporter muda untuk sebuah majalah berita di Jakarta. Sekarang saya sudah lupa waktu itu saya sedang menulis apa. Yang masih saya ingat kini, pada suatu siang bulan Juli saya berkunjung ke rumah Pak Hasjim Rachman, mantan tahanan politik yang mengelola penerbitan Hasta Mitra. Waktu itu buku-buku terbitan Hasta Mitra sering diberangus oleh aparat pemerintahan Soeharto. Tidak selalu mudah untuk mendapatkan buku-buku terbitannya, malah seringkali mesti sembunyi-sembunyi macam orang cari ganja. Pada pandangan pertama, saya merasa bahwa Pak Hasjim agak curiga dengan pemuda kerempeng berkaca mata yang siang itu datang begitu saja menemui dirinya. Itu sebabnya, untuk beberapa saat, saya merasa perlu menjelaskan siapa diri saya dan apa maksud kunjungan saya. Barulah kemudian tuan rumah meminta kepada seorang pria berkumis, yang jauh lebih muda daripada dirinya, untuk mengambilkan sebuah buku yang sedang saya cari: Sang Pemula (1985) karya Pramoedya Ananta Toer.

Ingatan itu muncul lagi sewaktu saya membuka-buka kembali Sang Pemula baru-baru ini. Di halaman judul, di balik sampul, seperti biasa sebagai penanda hak milik, terdapat tanda tangan saya beserta catatan alakadarnya: “Juli, 1995: kami berbincang-bincang dengan Sugeng ‘Kumis’, eks-tapol Pulau Buru di Jakarta.” Saya sudah lupa profil pria berkumis yang menyebut dirinya atau suka disebut Sugeng Kumis itu. Yang pasti, waktu itu Mas Sugeng turut membantu Pak Hasjim di bidang percetakan dan penerbitan buku. Ceritanya seru. Dia jadi tapol sewaktu masih duduk di bangku SMP. Semuda itu! Konon, waktu tentara menggeruduk rumah orang tuanya, anak itu sedang berada di rumah. Siapa yang ada di rumah ikut diciduk, tak perduli anak esempe sekalipun. Sungguh, politik sinting.

Ingatan selalu pendek, catatan selalu tidak lengkap. Untung, saya masih menyimpan bundel majalah Tiras — reinkarnasi dari majalah Editor yang diberangus oleh Departemen Harmoko — tempat saya bekerja pada dasawarsa 1990-an. Dari bundel majalah terlihat bahwa di sekitar Juli-Agustus 1995 sedikitnya ada dua pokok perhatian publik yang terkait dengan tahanan politik alias tapol: pertama, grasi buat Dr. Subandrio, Marsekal Madya Omar Dhani, dan Brigjen Soegeng Soetarto; kedua, penganugerahan Hadiah Ramon Magsaysay kepada sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Terkait dengan isu yang disebutkan belakanganlah, rasa-rasanya, saya berkunjung ke tempat pengelola Hasta Mitra, mencari Sang Pemula, buku yang sebetulnya sudah saya baca semasa masih kuliah di Bandung sebagaimana halnya dengan Tetralogi Buru yang terkenal itu.

Sambil mengingat-ingat lagi pengalaman mencari buku, saya membuka-buka lagi Sang Pemula. Satu hal yang membuat saya kurang sreg dari buku riwayat hidup Tirto Adhi Soerjo ini adalah judulnya: “sang pemula”. Saya rasa, istilah yang lebit tepat mestinya “sang pelopor” atau “sang perintis”. Dalam bahasa Inggris, kita tahu, “the beginner” (sang pemula) berbeda dari “the pioneer” (sang perintis atau sang pelopor). Judul terjemahan Belanda dari (sebagian) buku Pramoedya yang satu ini, kedengarannya lebih tepat: De Pionier. Terlepas dari itu, saya perlu membaca lagi buku ini karena saya sedang menerjemahkan buku Multatuli Leeft in Lebak (2021) karya Pak Arjan Onderdenwijngaard ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu bab dalam buku ini membicarakan figur-figur intelektual dalam sejarah gerakan kebangsaan Indonesia yang terilhami oleh Douwes Dekker alias Multatuli, pengarang besar yang menulis Max Havelaar. Salah satu figur itu adalah Tirto Adhi Soerjo, sang perintis pers Indonesia, sang pelopor gerakan kebangsaan. Di situ Pak Arjan memetik sebuah artikel karya Tirto yang juga terlampir dalam karya sejarah Pramoedya: sebuah laporan tentang nasib rakyat tertindas di Lampung.

Dari Multatuli ke Tirto Adhi Soerjo ke Pramoedya Ananta Toer — dapatkah jalur literer ini kita sebut garis tradisi, sejenis persambungan komitmen yang tak kunjung mati? Saya tidak tahu.

Mungkin di sini dapat saya petik apa yang ditulis oleh Pak Arjan yang bekerja keras membaca dan membaca lagi karya Multatuli dan menelusuri kembali jejak pengalamannya, khususnya di Indonesia dulu dan kini. Katanya, “Multatuli adalah salah satu sastrawan yang, melalui buku-bukunya, membawa perubahan di dunia ini ke arah yang lebih baik. Tujuannya bukan untuk diperingati atau dihormati pada hari tertentu atau dirayakan dalam ulang tahunnya, melainkan untuk dibaca, dibaca ulang, dan didiskusikan berulang kali.”

Buat pembaca seperti saya, garis seperti itu setidaknya memungkinkan terpeliharanya ingatan. Ya, seperti tanda tangan dan catatan di halaman judul, di balik sampul.***


HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi