Kotak Kayu Agung dari Bali dan Afghanistan

 

 

Rapuhnya identitas, dan nilai budaya yang tercerabut, seperti yang dirasakan oleh bangsa di Afghanistan dan Bli Gung di pulau Dewata, terwakilkan oleh kamera afghan

Kali ketiga saya bertemu pemuda ceria dan penuh semangat ini. Pertama, kami bersua dua atau tiga tahun lalu, saya lupa pastinya, yang saya ingat kami bertemu di kedai Jante, saya duduk di kursi sofa mendengarkan kawan-kawan muda ini berdiskusi mengenai fotografi, tiga orang pemuda dengan obrolan padat tapi santai. Pertemuan kedua pada diskusi bersama mahasiswa kami di kampus, bercerita mengenai perjalanan kreatifitasnya, lagi-lagi topiknya fotografi. Setelah rehat diskusi bersama mahasiswa, kami melanjutkan obrolan dalam berbagai topik, kisah-kisahnya tidak jauh dari urusan ruang seni. Kali ketiga sekitar dua minggu lalu saya sengaja berkunjung ke kediaman beliau di pulau dewata, saya bersama kawan-kawan bertemu di studio fotonya, studio 1930, tempatnya nyaman, ada burung hantu bertengger di pohon, ruangan yang terbuka terasa adem di udara Bali yang cukup panas. Sayang sekali, kami tidak bisa berpanjang-panjang mengobrol, tidak banyak waktu yang kami miliki.

Pemuda asal Bali ini memperkenalkan nama dirinya Gung Gama, saya biasa memanggilnya Bli Gung. Bergelut dalam bidang fotografi dalam kesehariannya. Bli Gung, ketika berkunjung ke Bandung dan berbagi cerita dengan mahasiswa kami, membawa kamera dari kayu dengan ukuran besar. Kamera ini yang menjadi senjata dia untuk berproses dalam potret memotret. Menurut penuturan Bli Gung kamera ini adalah replika kamera masa lampau. Dan, di kalangan para peminat foto kamera kotak kayu ini lebih dikenal dengan kamera afghan, setelah selesai dijepret, hasil foto langsung dicetak di dalam kotak kayu tersebut, dengan keterampilan yang dimiliki oleh Gung Gama menjadi foto instan unik dan menarik. Saya coba, untuk berpose dan difoto dengan kamera kotak itu, kita harus membiasakan diri dengan cara kamera ini bekerja. Dengan kamera modern tidak dalam satu detik kita sudah dapat melihat hasil foto melalui memori yang tersimpan dalam kamera, tapi, dengan kamera kotak kayu kita harus bersabar, menahan diri tidak bergerak dalam hitungan sekian menit, agar cahaya dapat tertangkap secara sempurna, sehingga foto dapat dicetak. Sabar dan teliti adalah kunci.

Terlalu panjang kiranya apabila saya membicarakan teknis dari kamera kotak kayu tersebut, pastinya kemauan Bli Gung untuk mengolah dan membuat kamera ini cukup menarik, upaya kreatifitas yang tidak biasa. Akan tetapi, saya jadi tergelitik akan pembicaraan kami di kampus. Keresahan Bli Gung akan kreatifitas membuat kamera afghan yang dia replika, tidak ingin berhenti pada posisi menarik perhatian komunitas dengan keunikannya. Tapi, Bli Gung ingin karya yang dibuat mempunyai nilai berdasar atas kreatifitas dan kegelisahan yang menjadi dasar dia berkarya. Obrolan keresahan Bli Gung atas ruang hidupnya di pulau Bali, yang menurutnya, terjadi dekadensi budaya dan terasa mengkhawatirkan. Kegelisahan-kegelisahan ini yang disampaikan oleh Bli Gung, dalam proses berkarya.

Afghanistan pernah ada pada masa sebagai negara yang berkiblat pada modernisme. Rujukan yang saya tonton dari film “Kite Runner”. Kita dapat tilik mengenai simbol keluarga kelas menengah yang menduplikasi kehidupan keluarga barat. Keberadaan bioskop, cara berpakaian, mobil mewah, tanda-tanda kemakmuran dan kesejahteraan tertera dalam potongan-potongan film yang dapat kita saksikan serta dibaca sebagai sajian simbolik. Saat ini Afghanistan dalam kondisi yang kusut menurut sudut pandang kekuasaan kebebasan barat. Segala yang menjadi simbol pencapaian terlarang digunakan oleh satu faham yang dianut. Dalam film tersebut tokoh Amir harus hijrah paksa ke Amerika dan meninggalkan semua kenangan di tanah kelahiran dan juga sahabat terbaiknya.

Dunia fotografi pun mengalami kemunduran yang sama, satu-satunya kamera yang masih dapat dipergunakan hanya kamera afghan, itupun hanya digunakan kebutuhan administrasi tertentu, dengan kata lain fotografi terlarang di Afghanistan.

Bentang geografi antara Bali dan Afghanistan terasa sangat jauh. Melalui kamera afghan jarak yang terbentang jauhnya, terasa dekat dengan kegelisahan, kerumitan dan keresahan yang terjadi pada sisi kemanusiaan. Rapuhnya identitas, dan nilai budaya yang tercerabut, seperti yang dirasakan oleh bangsa di Afghanistan dan Bli Gung di pulau Dewata, terwakilkan oleh kamera afghan. Kemampuan untuk tetap berkarya menjadi salah satu upaya untuk menyampaikan wacana kesadaran akan rapuhnya manusia atas dorongan materil yang menjadi landasan berkarya Bli Gung di ruang hidupnya. Entah, upaya apa yang bisa dilakukan umat manusia di belahan Afghanistan sana.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi