Apakah cukup tepat jika kata dan rumpaka dalam carita pantun Baduy disebut mengandung anasir Sunda Kuna, semata-mata karena asing di telinga pengguna dialek Bandung?
Ki Pantun Ayah Anirah memang pernah belajar carita pantun Lutung Kasarung pada Ki Sajin, namun belum khatam. Oleh karena itu, ketika saya mendiktekan Lutung Kasarung Ki Sajin pada Ki Pantun tak sekali dia mengatakan “sekarang saya yang belajar kepada Anda” walaupun bernada datar, ia mengatakannya dengan gestur yang serius. Tidak hanya itu ketika saya membicarakan atau mengutip perkataan dari lontar sunda kuna, Ki Pantun selalu menyimak dengan khidmat, seperti galibnya adab seorang mutaalim. Disela-sela pendiktean itu ia menyambangi kamar goah (kamar khusus ritual), yang saya tahu ia memohon permakluman kepada karuhun karena tengah mendaras carita pantun di siang hari.
Di kali lain, saya takjub akibat mendengar kata-kata dari khazanah lontar sunda masih digunakan dalam bahasa sehari-hari orang Kanekes. Kemiripan itu bukan hanya pada kata, begitu pula dalam segi pelafalan dan partikel kalimat. Seperti pertukaran bunyi ‘a’ dan ‘eu’ dalam kata baheula dan beuheula (berarti: dahulu), bunyi ‘i’ menjadi ‘eu’ dalam kata incu dan euncu (berarti: cucu). Dalam bahasa Baduy kata kobong dilafalkan kombong, mengingatkan saya pada tulisan di lontar sunda yang sering melenyapkan lambang sengau. Apakah penghilangan tanda sengau dalam lontar sunda itu cermin dari usaha karuhun merangkum berbagai dialek bahasa sunda?
Kasus bahasa yang paling banyak kemiripannya dengan lontar sunda, terdapat dalam carita pantun, baik secara kata (diksi) maupun rumpaka (redaksi). Contohnya:
“ngalukun meunang sapuluh
néték jambé meunang salawé
ngagantal meunang dalapan.”
Ini kutipan carita pantun yang dibawakan Samin urang Cibeo, Baduy Jero, yang pararel dengan larik dari lontar sunda kuna Bujangga Manik di bawah ini :
“tohaan tuluy nu né(k)ték,
nu né(k)ték meunang salawé,
nu mauc meunang sapuluh,
ngaga(n)tul meunang dalapan.”
Larik ini saya ambil dari Tiga Pesona Sunda Kuna, huruf di dalam kurung merupakan tambahan dari J. Noorduyn di. Kata ngagantul pada baris terakhir seharusnya dibaca ngagantal. Noorduyn membaca ngagantul mungkin karena terkecoh oleh tanda cecek (penambah suara “ng”) yang disangkanya panyuku (pengubah suara “u”). Memang cecek dan panyuku tandanya sama dalam lontar Bujangga Manik yakni “titik”, cuman kalau cecek berada di atas, panyuku berada di bawah. Buktinya, jika kata itu dibaca ngantul kata yang berada di baris bawah harus dibaca adi. Karena baris bawah dibaca pinang ading bukan pinang adi, oleh karena itu baris atas lebih tepat jika dibaca ngagantal.
Ngagantal artinya membuat gantal, nampaknya kata gantal di sini sama dengan kata gantal dalam sastra jawa kuna, adalah daun sirih yang digulung dan diikat dengan tali. Untuk sesaji seperti ini urang Kanekes menyebutnya lukun. Seingat saya tidak ada kata gantal dalam carita pantun versi Ki Sajin dan Ayah Anirah mungkin karena sama artinya dengan lukun, atau karena kata gantal tidak dikenal dalam percakapan sehari-hari. Tapi alasan terakhir tidak bisa dijadikan alasan, toh banyak juga kata-kata di carita pantun Baduy yang tidak ada dalam percakapan sehari-hari. Yang menarik, ada kata dalam pantun Baduy yang galib di dialek Bandung tapi tidak dikenal oleh orang Kanekes, misal rancatan (pemikul).
Carita pantun oleh Samin ini merupakan rekaman tim peneliti gabungan dari UPI Bandung dan IOWA University tahun 2014, yang dipos oleh salah satu penelitinya Retty Isnendes di akun Youtube pribadinya, dengan tajuk Saba Budaya: BADUY–CARITA PANTUN TI BADUY JERO. Dalam postingan itu tidak ada keterangan cerita pantun apa yang dibawakan Samin, ditambah cerita yang terlampir tidak lengkap, baru awalnya saja. Sepertinya Sami mendaras pantun di siang hari, apakah kelonggaran ini dilakukan karena pantun yang didaras Samin tidak lengkap atau ada faktor lain?
Akhiran saya mengambil perkataan A. Teeuw dari penggalan awal bab Pendahuluan Tiga Pesona Sunda Kuna “Sejauh ini belum ada kejelasan mengenai batas-batas kebahasaan dan kesejarahan, yang membedakan bahan-bahan yang dapat disebut bahasa Sunda Kuna dari bahan-bahan dalam bahasa Sunda Modern”. Pertanyaannya, apakah cukup tepat jika kata dan rumpaka dalam carita pantun Baduy disebut mengandung anasir Sunda Kuna, semata-mata karena asing di telinga pengguna dialek Bandung, manakala kata dan rumpaka tersebut sebagian besar aktif digunakan dalam kehidupan urang Baduy?***
HADY PRASTYA | TUKANG KAYU
image: Sharm Murugiah




