Bercermin pada Puisi Kartawi

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

 

 

Simpati, komitmen, pendirian, atau hal-ihwal semacam itu, tentu saja, tidak cukup sebab pada gilirannya orang yang berpuisi niscaya mesti mencari bentuk yang memadai bagi kesadaran yang dia hayati.

 

Kartawi — lengkapnya Kartawijaya— bukan nama asing buat saya. Kami bertemu di GSSTF (Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film), sebuah wadah kegiatan mahasiswa di Unpad. Setahu saya, dia menulis puisi — selain main keroncong — dari dulu. Samar-samar masih saya ingat puisinya yang menggambarkan kapuk randu. Ada pula tiga puisinya yang ikut dalam antologi Pesan Ombak Padjajdaran (1993) suntingan sastrawan Eka Budianta.

Terbentang waktu 29 tahun dari Pesan Ombak Padjadjaran ke Membran, dari 1993 ke 2022. Saya menduga, dalam bentangan waktu sekitar satu generasi, Kartawi menghikmati puisi. Kenyataan bahwa Membran, kumpulan puisinya yang pertama, baru terbit tahun ini, mungkin terkait pada pertimbangan tersendiri yang tidak saya ketahui. Yang jelas, dalam bentangan waktu selama itu seorang penyair, saya percaya, “orangnya bisa tahan” dan “sudah lama bukan kanak lagi”.

Puisi Kartawi yang terhimpun dalam Membran rupanya digubah terutama dalam tahun yang mencekam oleh wabah. Saya bilang “terutama” karena di antara 77 puisi dalam buku ini, ada 18 judul yang lahir pada 2019, sebelum pandemi. Puisi selebihnya lahir pada 2021 dan 2022. Mungkin ini hikmah tersendiri dari tahun duka cita yang berlarut-larut: ketika maut jadi intim, orang sering merenung dan, pada kasus Kartawi, rupanya terbersit ikhtiar untuk memberi jalan bagi kelahiran puisi. Setidaknya, dalam buku ini ada dua puisi yang menjadikan pandemi — selain wabah dalam sebuah puisi lainnya — sebagai salah satu idiomnya.

Dari buku ini, saya melihat bahwa puisi itu seperti pohon: ia “tumbuh”, mungkin dengan sendirinya, sebagai akibat yang lumrah dari pertautan batin penyair dengan dunia sehari-harinya. Meski barangkali belum sampai jadi kredo, apa yang saya tangkap dari “Puisi yang Tumbuh” kiranya menyatakan asbabun nuzul tersendiri: puisi lahir “bukan karena padang ilalang serentak berbunga” melainkan karena ada “seseorang tergeletak di jalanan”.

Tumbuh itu, kata seorang teman, adalah proses yang tidak tergesa-gesa, dan mungkin juga mencakup ikhtiar coba-coba. Proses itu mungkin seperti perjalanan kelompok musik keroncong yang diperkuat oleh Kartawi sendiri. Seingat saya, ketika mulai terbentuk, grup musik yang satu ini sering disebut “Rindu Kompak”. Ada kalanya, seperti dalam satu pementasan yang sempat saya saksikan, di atas panggung para musisi seakan lebih piawai berdiskusi ketimbang menyanyi. Lambat-laun, namanya jadi terkenal dengan sebutan “Rindu Order”. Kelak, kalau order kian banyak, bukan tidak mungkin julukan yang pas adalah “Rindu Piknik” atau entah apa. Yang penting, seperti kata Kartawi, “puisi ini/tak pernah mati”.

Simpati, komitmen, pendirian, atau hal-ihwal semacam itu, tentu saja, tidak cukup sebab pada gilirannya orang yang berpuisi niscaya mesti mencari bentuk yang memadai bagi kesadaran yang dia hayati. Salah satu yang terlihat dalam ikhtiar itu adalah mencari kata seraya membebaskannya dari kungkungan kamus. Nama-nama hari dalam puisi “Pancawara”, misalnya, pertama kali saya dengar dari mendiang Ali Sastramidjaja yang menyusun kalender Sunda “Kalaider”. Ikhtiar serupa tercermin pula pada nama-nama benda seperti, misalnya saja, babadotan dalam puisi “Dalam Pangkur”. Permainan frasa “balai kota” dalam “Anatomi Berusaha Romantis” kiranya juga bagian dari ikhtiar itu. Terasa pada saya bahwa dalam puisi Kartawi ada ruang bagi istilah setempat, untuk turut hadir dalam lingkungan bahasa Indonesia.

Kegiatan Kartawi di bidang musik menampakkan pula jejaknya dalam puisi. Istilah-istilah seperti bunyi, koda, konser, nada, dan overtone, misalnya, masuk ke jajaran kosa kata dalam puisi-puisinya. Sedikitnya ada 7 puisi yang memakai idiom nada, termasuk frase nada diminis. Adapun puisi “Hymne Pagi”, selaras dengan judulnya, terasa sarat dengan nyanyi.

Favorit saya sendiri dari koleksi ini adalah puisi “Cimanuk”. Tak tahulah apa sebabnya. Mungkin hal itu disebabkan saya cenderung melihat Kartawi sebagai seorang teman yang lahir di Cirebon, pesisir wali, wilayah yang diberkati “sahadat sejati”, kesultanan yang sejarahnya hebat. Berhulu di dataran tinggi Priangan sebelah timur, sungai ini mengalir hingga pesisir Indramayu, dan memelihara ingatan kolektif akan sebuah pelabuhan terkenal dari masa lalu. Mungkin juga hal ini terkait pada kecenderungan saya sendiri untuk menyadari bahwa sepertinya ada yang retak dalam hubungan batin antara aku lirik dan daerah yang jadi tambatan ingatannya. Bait terakhir dari puisi ini seakan menegaskan bahwa ada yang pupus dalam ingatan kolektif yang tertambat pada sebuah tempat. “Garis pantai” akhirnya hanya jadi tempat bagi “tumpukan batubara” dan “lengkung cakrawala” akhirnya diduduki oleh “restoran berbagai nama”.

Namun, dalam hal perenungan, saya kira, salah satu wakilnya yang terbaik adalah “Prosa Aku Laba-laba”. Dengan rancang bangun persajakan yang ruangnya menyerupai kotak persegi, juga dengan rangkaian kata yang memang cenderung prosais, puisi ini menamsilkan manusia sebagai “laba-laba” tapi bukan untuk menciptakan heroisme seperti yang sering kita tonton dalam produksi Marvel — sama sekali bukan. Sang “laba-laba” dalam puisi ini pada kesan saya mewartakan daya tahan dan kepasrahan. Ketika ada serangga yang terperangkap dalam bentangan jalanya, sang aku lirik tidak begitu saja mengambil keputusan sebab “yang datang padaku, belum tentu utusan untuk membatalkan puasaku”.

Dengan komentar itu semua, saya tidak hendak jadi “juru kalam” yang disebut-sebut dalam puisi “Membran”, yakni orang yang bisa melindas atau menggendong aku lirik. Sebagaimana galibnya membran, puisi Kartawi “memantulkan semua bunyi dari cicit hingga geram”. Sebagaimana galibnya puisi, pantulan “semua bunyi” itu dikatakan “terbuka”. Dengan keterbukaan itu, saya mendapatkan ruang untuk lebih mengenal Kartawi, dan terlebih-lebih untuk mengenal diri saya sendiri.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi