Karena pada lirik Kali Kedua, saya melihat ada sesuatu yang berbeda setelah merenungi dan mendaras pelbagai literatur kitab-kitab klasik
Ketika saya sedang mengajar atau memberikan ceramah dibeberapa tempat – terutama ketika memberikan ceramah kepada anak-anak muda. Saya selalu menyempatkan waktu sejenak untuk mendengarkan dengan detail lagu dan lirik Kali Kedua, yang dinyanyikan Raisa.
Karena pada lirik Kali Kedua, saya melihat ada sesuatu yang berbeda setelah merenungi dan mendaras pelbagai literatur kitab-kitab klasik di antaranya Syamail Muhammadiyah, karya Imam At-Tirmidzi dan Kitab Fadhoil Muhammadiyah karya Syaikh Yusuf bin Ismail Annabhani Karena terdapat penggalan kisah cinta yang dirasakan oleh mereka yang mencintai nabi dan membersamai nabi – ketika masih hidup dan setelah wafatnya.
Semisal kita perhatikan pada bait ke satu dalam Kali Kedua:
Jika wangimu saja bisa
Memindahkan duniaku
Maka cintamu pasti bisa
Mengubah jalan hidupku
Pada lirik ini, Jika wangimu saja bisa memindahkan duniaku, kita bisa merenungi sebuah kisah, yakni ketika nabi wafat – sayidina Abu Bakar memandangi untuk yang terakhir kali jasad sang nabi. Jasad yang memancarkan cahaya dan aroma yang wangi. Sayidina Abu Bakar berkata, “Ya Rasullulah engkau wangi ketika hidup dan matimu”.
Seperti yang pernah dikisahkan oleh banyak sahabat bahwa bulir-bulir keringat nabi beraroma misik (sejenis minyak Kasturi) bahkan lebih wangi. Sayidina Anas bin Malik sang Khadim Nabi pernah menyentuh telapak tangan beliau yang mulia, rasa dingin menenangkan yang menjalar ke tubuh Anas bin Malik sangat beliau nikmati, tangannya menjadi harum yang takkan hilang selama berhari-hari.
Bahkan ibunya, Ummu Sulaim seringkali menyuruh Anas bin Malik untuk mewadahi bulir-bulir keringat yang jatuh di wajah Sang Nabi ketika beliau tidur siang karena panasnya cuaca di kota Madinah. Nabi terbangun melihat apa yang dilakukan Anas dan bertanya “apa yang kau lakukan Anas?”, Anas bin Malik menjawab bahwa yang dilakukannya itu atas suruhan ibunya, Nabi hanya tersenyum.
Ummu Sulaim berkata bahwa sepanjang hidupnya beliau selalu membawa botol minyak wangi yang berisi keringat Nabi itu kemanapun dia pergi, aroma sangat khas menenangkan dan tidak akan hilang selama beberapa hari. Salah satu kebiasaan Nabi ketika berjalan-jalan di kota Madinah adalah beliau senang mengusap kepala anak yatim, ketika kepala mereka diusap Baginda Nabi mereka sangat kegirangan, kesedihannya hilang seolah mereka menjumpai kembali ayah-ayah mereka, dan satu usapan Nabi di kepala anak -anak yatim itu akan membekas wanginya selama berhari-hari, sehingga untuk mengetahui mana anak yatim mana yang bukan, cukup mencium rambut kepala mereka saja, jika wangi berarti mereka yatim karena kepalanya telah disentuh tangan mulia Baginda Nabi.
Dan pada bait kedua pada lirik lagu Kali Kedua:
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pada bait ini kita merenungi kisah mahabbah lainnya kepada sang Nabi, ‘Cukup sekali saja aku pernah merasa, betapa menyiksa kehilanganmu’ yakni kisah Bilal bin Rabah budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar yang akhirnya menjadi muadzin pertama di muka bumi. Tatkala Nabi wafat Bilal sangat kehilangan dia pun beranjak meninggalkan kota Madinah untuk menghindari jutaan kenangan terhadap sang nabi bertahun-tahun setelah itu Bilal mimpi bertemu baginda nabi.
Dalam mimpinya, nabi bertanya kepada bilal, “Kekeringan apa yang menimpamu wahai Bilal, sehingga engkau tak jua mengunjungiku”. Kemudian Bilal berangkat ke kota Madinah untuk menziarahi makam Nabi. Kedatangan Bilal disambut para sahabat termasuk dengan cucu kesayangan Nabi, Sayidina Husen dan Sayidina Hasan.
Mereka meminta Bilal kembali mengumandangkan Adzan sebagaimana dulu mengumandangkan adzan ketika Nabi masih hidup. Bilal menolak, Akhirnya setelah dibujuk beliau tak kuasa menolaknya. Bilal pun memasuki masjid Nabi dan mengumandangkan adzan. Ketika Bilal mengumandangkan adzan maka masyarakat menjerti dan berhamburan keluar. Karena suara Bilal mengingatkan kembali ketika dulu Nabi masih hidup – betapa menyiksa kehilanganmu.
Ketika sampai pada lafadz Ayshadu Anna Muhammadar Rasulullah Bilal pingsan tak kuasa untuk melanjutkan kembali kumandang adzannya karena rasa rindu kepada Baginda Nabi yang kian membuncah di sanubari hatinya. Keesokan harinya Bilal pamit untuk kembali pulang karena tak kuasa belama- lama di kota Madinah.***
H. AHMAD MUNDZIRI | USTAZ DAN PENGASUH PONPES ASYROFUDDIN SUMEDANG
Ilustrasi dari Tabloid Bintang




