Setidaknya, seperi orang Indonesia galibnya, saya sendiri selalu mencari hikmah dari beragam kegetiran dalam hidup sehari-hari.
Bung Bilven dari penerbit Ultimus di Bandung baru-baru ini mengabari saya bahwa memoar almarhumah Mia Bustam, sebanyak tiga jilid, akan dicetak (ulang) Juni ini. Wah, kabar baik. Langsung saya pesan jilid 2 dan 3. Jilid pertamanya sih sudah lama saya simpan. Ketika memastikan bahwa memoar jilid pertama tidak meninggalkan rak buku kesayanganku, eh, saya malah anteng membaca lagi buku ini.
Memoar Sudjojono dan Aku yang ada pada saya adalah terbitan Pustaka Utan Kayu, Jakarta, tahun 2006. Penyuntingnya Hersri Setiawan dan Tedjabayu. Tebalnya 405 halaman, yang mencakup enam bab isi buku, lampiran tulisan putra-putri sang penulis, dan indeks. Sejumlah foto, termasuk reproduksi beberapa lukisan, dalam cetakan hitam putih, memperkaya buku ini.
“Saya hanya suka bercerita,” tulis Bu Mia dalam pengantarnya. Tidak ada pretensi jadi penulis. Ini kan tulisan buat anak cucu. Namun, begitu rampung membaca tulisannya, saya mendapat kesan bahwa Bu Mia tidak hanya suka melainkan juga piawai bercerita sebagaimana galibnya penulis yang baik menceritakan pengalaman hidupnya. Awal dan akhir cerita, terbersitnya cinta dan turunnya surat talak, diberi tempat yang genah, dan rangkaian insiden dituturkan dalam komposisi yang eling proporsi. Tegasnya, ini memang buku karya seorang penulis. Patutlah buku ini dibaca bukan hanya oleh anak cucunya, melainkan juga oleh masyarakat umum, termasuk diri saya.
Saya tidak kenal Bu Mia. Sayang sekali. Kalau boleh menduga-duga, ia telaten menyimpan dokumen dan tabah memelihara ingatan. Setidaknya, dalam buku ini ada gambaran tentang itu. Ketika dirinya terguncang, ia berhujan-hujan keluar rumah malam hari untuk menitipkan satu map dokumen pribadi kepada seorang tokoh di lingkungan dekat. Kepahitan hidup pribadi tidak sampai menimbulkan dampak buruk bagi penulisan sejarah. Kalaupun tidak sedikit artefak pengalaman yang tidak terselamatkan, itu bukan akibat keteledoran, melainkan akibat kelaliman zaman. Titimangsa di akhir buku ini, yakni 18 Februari 2003, menunjukkan bahwa dalam usianya yang lanjut ia diberkati ingatan yang tajam.
Kisah hidup pribadi dalam memoar ini beririsan dengan sejarah perubahan sosial politik di Indonesia, sejak dimulainya zaman pendudukan Jepang pada awal dasawarsa 1940-an hingga berlangsungnya masa demokrasi liberal pada pertengahan dasawarsa 1950-an. Sejarah sosial politik itu terlihat sendiri melalui jendela kecil pengalaman pribadi suami-istri Sindudarsono Sudjojono dan Mia Bustam yang selama sekitar 14 tahunan hidup bersama melewati masa pacaran, pertunangan, pernikahan, berumah tangga dengan delapan anak dan sejumlah kerabat serta teman dekat, dalam suka dan duka di sekitar proklamasi kemerdekaan, perang membela kedaulatan negara, dan ikhtiar mengelola negara yang baru merdeka.
Sebetulnya tidak perlu disebut-sebut lagi di sini bahwa S. Sudjojono adalah salah satu tonggak dalam sejarah senirupa Indonesia, yang turut mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia), turut merintis SIM (Seniman Indonesia Muda), ikut bergiat di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dan kelak ikut duduk di parlemen sebagai wakil PKI (Partai Komunis Indonesia). Ia seniman, patriot, dan rekan seperjuangan empat serangkai Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Mas Mansyur.
Dalam buku ini kita mendapat kesempatan buat melihat sosok besar Sudjojono sebagai manusia biasa. Itulah manusia yang bisa ngotot mempertahankan prinsip dalam melukis dan menulis, tapi juga bisa tidak konsisten antara pidato dan perbuatan. Itulah pria penuh cinta yang dapat memberikan kasih nan lembut kepada pasangan hidupnya yang diajaknya terbang melayang di atas dipan kebahagiaan, tapi juga bisa tidak setia dan tidak tahan godaan pada akhirnya. Singkatnya, itulah manusia biasa yang, menurut Bu Mia, pada dasarnya patut dikasihani.
Tentu, bukan hanya jejak langkah Sudjojono yang dapat dicermati dari buku ini, melainkan juga sikap, pandangan hidup, dan kiprah Bu Mia sendiri sebagai penulisnya. Mia Bustam, wanita terpelajar dari lingkungan bangsawan Jawa, dengan buku ini kiranya patut dikenang sebagai penulis, pelukis, dan tahanan politik Orde Soeharto. Memoarnya ini pada dasarnya dapat dibaca sebagai lukisan pengalaman seseorang yang pada gilirannya dapat menemukan jati dirinya nan sejati. Dengan kata lain, memoar ini adalah “jiwa katon”-nya Bu Mia.
Kata “dan” pada judul buku, yang diletakkan di antara nama diri Sudjojono dan sang “Aku” kiranya mencerminkan substansi buku ini. Melalui kata sambung aditif ini, kita dapat menangkap pasemon bahwa Sudjojono dan sang “Aku” begitu dekat tapi pada akhirnya toh timbul sekat. Sekat itu mewujud dalam sosok Rose Sumabrata alias Rose Pandanwangi, atau mungkin dalam wujud lainnya. Yang pasti, meski sudah disiasati dengan berbagai cara, mulai dari cara yang masuk akal hingga cara yang sekadar mengikuti laku hidup tradisional, sekat itu toh tidak tertembus juga. Dengan timbulnya sekat semacam itu, api cinta yang tadinya berkobar-kobar pada akhirnya jadi semata nyala pelita belas kasih manusiawi yang tak hendak padam.
Tentu, ada hikmahnya. Setidaknya, seperi orang Indonesia galibnya, saya sendiri selalu mencari hikmah dari beragam kegetiran dalam hidup sehari-hari. Dalam kasus Bu Mia, hikmah terbesar tiada lain dari penemuan jati diri. Pada mulanya, meski tidak selalu mudah, sang “Aku” menempatkan dirinya sebagai “istri Mas Djon” atau “Zus Djon” atau “Nyi Sudjojono”, istri seorang pelukis terpandang, yang dengan sabar dan ikhlas mendampingi suami tercinta seraya membesarkan anak-anak kesayangan, dengan segala manis dan pahitnya. Lambat-laun, setelah mengalami berbagai insiden, ia dapat menemukan dirinya sebagai “Mia Bustam”.
“Ya, Mia Bustam. Bustam adalah nama moyangku dari garis Ibu. Aku termasuk trah Bustaman. Demikianlah. Sejak itu aku membiasakan diri untuk memikirkan diriku sendiri; tidak lagi sebagai Nyi Sudjojono, melainkan sebagai Mia Bustam,” tulisnya.
Sambil termenung-menung sendiri, saya pun berikhtiar memikirkan diri saya sendiri sebagai pembaca buku. Apa, ya? Mungkin ini salah satu di antaranya: dari deskripsi seputar kegiatan kalangan seniman dalam buku ini terlihat antara lain bahwa produksi seni, dari “seni murni” macam sketsa, lukisan, relief, patung, dan sebagainya hingga “desain komunikasi visual” seperti poster, mural, kartun, karikatur, komik, dan sebagainya berlangsung dalam perhubungan yang erat dengan perubahan masyarakat.
Terpikir juga pada gilirannya. Boleh dong mahasiswa saya dari program studi DKV menjadikan buku ini bacaan mereka juga. Oke, kalian boleh menyebutnya tambahan mimpi buruk lagi, tapi baca ya. Biar tidak rabun sejarah dan dapat nilai A dari saya. Kalau malas baca, dan catatan bacaannya asal-asalan, ya C saja. Yang ogah baca sama sekali, silakan mengulang di tahun ajaran mendatang.
Adapun buat Bung Bilven, saya merasa perlu mengedit kalimat yang belakangan ini lagi-lagi bikin gaduh dari salah seorang putri Bung Karno, “bapak dan idola”-nya Bu Mia itu. Kalimatnya kan mengandung ungkapan “kalau saya tidak ada…”. Jadinya begini, Bung: “Kalau saya tidak ada, bisa Bung titipkan memoar Bu Mia ke kios JNE di Jalan Sersan Bajuri atau ke Kedai Jante di lantai pertama gedung Perpustakaan Ajip Rosidi”. Pasti sampai, Bung.***



