Masihkah Fotografi Pernikahan (Dianggap) Membosankan?

 

Jadi, apa gunanya beromantis ria, kalau tidak bisa terus berkarya.

Mundur sebentar ke beberapa tahun lalu, setiap bertemu teman sesama fotografer pernikahan atau yang pernah sesekali memotret pernikahan selalu bilang, kalau fotografi pernikahan itu membosankan, yang difoto paling itu-itu saja katanya, sekalinya eksplorasi takut kalau-kalau pengantin atau keluarga tidak punya selera yang sama dengan si fotografer. Ada juga yang sebaliknya, meski tetap saja ujung-ujungnya si fotografer jadi merasa terkekang atau tidak nyaman, yaitu saat pengantinnya ingin punya konsep foto baru yang kadang bagi si fotografer terasa aneh atau tidak sesuai gayanya.

Dua perkara tadi bisa jadi sudah mulai berkurang keluhannya hari ini, saat media sosial membebaskan si fotografer untuk menentukan akan seperti apa dia menampilkan gaya memotretnya. Meski kadang juga kalau dipikir-pikir, apa sebenarnya yang dimaksud dengan gaya memotret? Apa betul seorang fotografer bisa menentukan gaya memotretnya? Atau itu hanya sebatas cara untuk menentukan siapa dan bagaimana pengantin yang bisa datang untuk memesan jasa fotonya?

Media sosial bukan hanya mengubah gaya kita berinteraksi, tetapi juga cara kita berpromosi. Sekarang semua bisa menampilkan siapa dirinya, apa karyanya, bahkan bagaimana proses membuatnya. Dulu beda ceritanya, masing-masing fotografer pernikahan seperti menyembunyikan resep rahasianya, karena itu dianggap sebagai senjata pamungkas untuk membedakan diri dengan yang lainnya. Di masa itu, bahkan katanya, ada 1 (satu) studio di Kota Bandung yang sangat berhati-hati menjaga agar pluggins photoshop-nya tidak sampai dibawa keluar oleh karyawannya, karena si studio merasa sudah berinvestasi lumayan mahal untuk membeli pluggins itu dari Amerika sana.

Tentu tulisan ini tidak dibuat untuk sekadar membanding-bandingkan lebih enak hidup di jaman yang mana sebagai seorang fotografer pernikahan. Setiap jaman ada orangnya, dan setiap orang ada jamannya, begitu kata-kata bijak yang disadur dari pepatah bangsa arab. Jadi, apa gunanya beromantis ria, kalau tidak bisa terus berkarya. Maka, tinggalah persoalan yang utama, buat apa juga terus berkarya kalau hasilnya itu-itu saja dan hanya berujung menjadi sama?

Mari kita kembali ke soal media sosial tadi, yang bukan hanya mengubah gaya interaksi, tapi juga cara promosi, tapi sayangnya seolah berlindung di balik semangat kolaborasi, maka bergerak bersama dan menjadi sama adalah hal yang sudah dianggap sewajarnya. Tapi pertanyaannya begini, sederhana saja, kalau kita memang tampak sama sebagai fotografer pernikahan di media sosial, apa sesungguhnya memang kita juga sama dalam hal-hal lainnya di dunia nyata?

Toh, menjadi sama juga bisa membanggakan, bukan hanya bagi sebagian kecil saja, tapi mungkin banyak orang diluar sana, ada saja yang bangga karena telah menjadi sama, setidak-tidaknya yang dia samai ada di kota yang lebih besar daripada kota tempatnya berkarya. Apa ada yang salah dari itu? Sekali lagi, itu tidak masalah, bagi saya persoalannya ialah setelah sama lalu apa?

Bicara tentang ini, tentu tidak bisa hanya tentang seni atau filosofi, karena memang fotografi pernikahan lebih banyak di ranah industri, bahkan saya pikir, lebih tepat disebut sebagai industri kenangan daripada industri pernikahan, karena yang diproduksi sesungguhnya ialah tentang arti dan makna kenangan bukan hanya sebatas wujud pernikahan. Maka, karena ini industri harus disadari bahwa tidak semua bisa menjadi trendsetter dan memang sah-sah saja menjadi followers. Kenapa ini perlu disadari? Karena sesungguhnya yang membosankan adalah terus mengeluh bosan tanpa memberikan tawaran baru tentang gagasan kenangan. Tabik!


#CatatanRinganFotograferPernikahan

FITRA SUJAWOTO | PEMERHATI PARIWISATA DAN APA SAJA

Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik

Picture of Redaksi

Redaksi