Jalan Apa?

 

Jangan-jangan perubahan nama jalan ini membuat amnesia penduduk kota, dan apatis terhadap kehidupannya.

 

Apa itu nama? Penting dan sangat penting ketika mempertanyakan persoalan nama. Rasanya sangat sulit bila seseorang hanya disebut sebagai si anu atau si itu, bisa jadi salah panggil atau salah sasaran dalam menentukan sosok. Atau yang paling rumit dalam suatu gerombolan, siapa yang dipanggil siapa, atau apa yang dipanggil apa akan membuat rumit apabila hanya satu suku kata tunggal yang digunakan sebagai penunjuk, kamu.
 

Repot memang apabila manusia tidak bernama. Bahkan, nama bisa menjawab tentang asal usul keturunan berdasarkan runutan nama keluarga, yang lebih celaka nama bisa meruntuhkan harga diri satu turunan apabila salah satu anggota keluarga yang belok jadi musuh sesama, misal terlibat korupsi, pelecehan atau terlibat dalam kegiatan kriminal. Nama bisa membawa marwah seseorang menjadi bakti bagi umat, bahkan pada tradisi nusantara memberi nama pada bayi yang baru lahir harus melalui upacara tertentu, supaya membawa mawat kebaikan. Persoalan nama memang tidak bisa sembarangan.

Pemerintah baru-baru ini menetapkan nama dalam KTP tidak boleh satu kata, dan tidak juga melebihi enam puluh kata, dalam arti lain nama dengan satu suku kata tidak diakui oleh negara dan terlalu banyak suku kata menyulitkan pegawai administrasi yang bekerja. Minimal nama adalah dua kata, satu nama depan dan yang lain imbuhan, kenapa imbuhan? apabila tidak mampu merujuk pada nama keluarga atau turunan keluarga karena pernah dibuat malu akibat tindakan kriminal, sehingga agak jengah untuk menyertakan nama “fam” akibat pernah mencoreng aib tujuh turunan.

Itu urusan nama dalam asal usul manusia, adalagi urusan nama bernama pada benda. Misal, ada juga orang yang memberi nama pada kendaraan, motornya ada yang dipanggil si black atau si mamprang saking suka dan cintanya pada kendaraan roda dua tersebut dan jangan lupa, pasti ada cerita dibalik penamaannya. Sudah tentu binatang pun mengalami nasib yang sama, anjing, kucing bahkan burung tidak lepas dari unsur pemberian nama, selain sebagai pembeda, setahu saya, anjing-anjing keturunan murni ras tertentu memiliki pencatatan formal untuk menunjukkan keturunannya, dan biasanya memakai nama belakang dari leluhurnya, simbol anjing keturunan ningrat.

Selain urusan administrasi nama pun memiliki hubungan imajinasi, orangtua yang berharap anaknya ganteng mungkin akan memberikan nama Arjuna merujuk pada tokoh pewayangan pandawa lima, atau ada harapan anaknya tinggi besar maka mungkin nama Bima akan jadi cantolan, padahal kedua orang tuanya jauh dari ukuran tinggi standar orang Eropa, namanya juga keinginan, bebas juga berharap.

Mengenai administrasi dan imajinasi, bisa direlasikan dalam penamaan tempat. Di Bandung kota tercintaku, ada analogi tempat yang saling terhubung antara administrasi dan imajinasinya. Misal seseorang menyebutkan jalan Cimandiri, maka gambaran besar saya akan berangkat menuju Gedung Sate dan secara tidak langsung ingatan itu akan juga berlabuh pada jalan-jalan yang terhubung dengan nama-nama sungai, serta gedung gedung tua peninggalan zaman Belanda. Atau apabila orang menyebut nama jalan yang ada kaitan dengan nama binatang berkaki empat dan tinggal di hutan maka memori saya akan berangkat menuju lapang soft ball satu satunya di kota Bandung, lapang Lodaya. Atau, di jalan Banteng ada bubur Yuyu yang pernah disebut-sebut almarhum Kang ibing. Dan juga, apabila ada yang menyebut jalan Cikapundung, maka alam fikiran saya akan menembus cakrawala dan hinggap di jalan samping Gedung Merdeka, Cikapundung masa lalu di subuh hari, adalah tempat berkumpul loper koran dan majalah yang tak terhingga jumlahnya. Atau jalan Veteran rekaman kaset rock progresif dengan label YESS. Orang menyebut jalan Bungsu karena ada rumah sakit dengan nama rumah sakit Bungsu dan sudah ada sejak dahulu kala, kalau tidak salah untuk ibu dan anak.

Nama jalan dalam tatanan kehidupan kaum penghuninya tidak akan terlepas dari memori yang mengikat di masa lalu. Sekiranya nama jalan-jalan tersebut berubah nama serta merta akan terputus pula sejarah yang melingkupinya. Siapa nyana jalan Cikapundung timur berubah nama menjadi jalan Sukarno, yang pada logikanya kehilangan sahabat setianya Hatta? Dan sekaligus Gedung Merdeka kehilangan arah sebaliknya dari barat. Atau jalan Banteng yang berganti nama karena ada akibat rumah sakit salah satu organisasi Islam disana. Bubur Yuyu dikenal di jalan Banteng, bukan di jalan KH Ahmad Dahlan, atau jalan Cipaganti dengan rumah rumah zaman Belanda dan pohon rindang yang menaungi sekitarnya, serta cireng Cipaganti yang berada disudut perempatan, tiba-tiba harus berubah nama jadi Cireng RAA Wiranatakusumah, oleh sebab nama jalan yang berubah.

Ingatan kolektif menyebabkan perubahan suatu nama jalan tidak akan mudah berubah dalam jangka waktu yang singkat. Orang masih menyebut jalan Kopo walaupun sudah diganti dengan jalan KH Wahid Hasyim, bukan dalam arti tidak menghargai para pahlawan, akan tetapi alam bawah sadar masyarakat melekatkan nama jalan bukan hanya sekedar penamaan, tetapi jauh daripada itu, nama jalan sudah melekat dalam ingatan menjadi bagian sejarah kota dan manusianya. Sekiranya para juragan yang mengganti nama jalan, seharusnya juga mempertimbangkan tentang pengelompokkan yang ada dan memudahkan dalam penentuan suatu tempat, walaupun ada kecanggihan teknologi yang mempermudah, tetapi penduduk kota sudah terbiasa dengan pola pengelompokkan seperti itu, misal nama-nama jalan sungai ada di daerah sekitar jalan Riau dan sekitarnya, nama-nama jenis batu mulia ada di daerah Buah Batu, nama alat-alat musik ada di daerah Turangga.

Sekiranya seenak hati mengganti jalan atas dasar urusan politik semata tanpa memperhatikan bahwa yang menempati jalan adalah manusia kota yang memiliki sejarah dan memori kolektif terhadap setiap sudut kota yang menjadi nadi kehidupan, jangan-jangan perubahan nama jalan ini membuat amnesia penduduk kota, dan apatis terhadap kehidupannya.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi