Feel Like a Real Man

 

 

Dalam proses perancangan dipelajari bagaimana karakter pengguna, mulai dari warna kesukaan, musik favorit, makanan dan minuman sehari-hari, sampai dimana tempat nongkrongnya.

 

Sore itu sambil ngopi di kedai markas besar hanyawacana, saya bertemu teman baru dan teman lama. Sambil ngobrol dan mendapat petuah bergizi, mata saya melirik sebuah motor berjudul Inggris berasa India. Usut punya usut ternyata motor itu punya teman baru yang berprofesi sebagai seorang petualang dan menjadi influencer sebuah produk motor, terbersit rasa ingin mencoba karena secara tampilan dan gaya motor itu sangat menggugah selera saya yang memang suka motor old school. Dari bentuk yang me-rounded hampir di semua bagian bodi, cat warna army yang macho, dan cc 350 yang kurang sedikit, serta rangka kokoh, terbayang bagaimana rasanya menunggangi motor tersebut. Bila dibandingkan dengan motor harian saya yang selama ini dirasa cukup, tentu beda kelas, jelas, dari segi harga saja satu motor army itu bisa digunakan untuk membeli hampir empat motor yang saya kendarai.

Di malam yang lain saya menonton The Batman, film yang saya tonton satu studio hanya bertiga saja dengan keluarga itu membuat malam kami berkesan, selain kondisi bioskop yang sangat sepi, cerita yang nge’dark’, tentu saja di film itu ada motor nya, motor yang diduga lansiran Bayerische Motoren Werke atau juga diduga dari MotoGuzzi itu mendapat perhatian dari penggemar caped crusader karena tampil biasa saja dibanding dengan motor diseri filmnya Christoper Nolan yang canggih di luar kebiasaan. Namun demikian kesan garang tak berkurang, body full custom dengan fairing ala kuping batman, tampilan mesin padat berisi, cc pasti besar, ban gambot dan warna full hitam flat dapat membuat para villains merinding.

Di sore lain, saya menengok sekilas video yutup tentang orang memarodikan film The Batman, video bercerita seorang yang terobsesi menjadi batman dengan kostum seadanya, dia menampilkan salah satu adegan dalam film dengan gaya serius dimiripkan namun mengundang tawa. Motor Royal, The Batman dan video parodi menunjukkan keberhasilan desainer dan sutradara dalam mendesain dan mengarahkan produknya menjadi sesuatu yang berpengaruh bagi user dan penonton.

Dalam dunia desain produk, secetek pemahaman saya, salah satu tujuan dari produk selain untuk mempermudah persoalan hidup adalah memberi pengalaman bagi penggunanya. Begitu pula mungkin didunia perfilman yang saya tidak paham banyak, sebuah film dibuat untuk memberi pengalaman bagi penikmatnya, entah itu senang, sedih, takut, gembira hura-hura sampai mewek termehek-mehek.

Sebuah produk dapat memberi pengalaman dari banyak hal, dari sisi bentuk, fungsi, dan lainnya. Dalam proses perancangan dipelajari bagaimana karakter pengguna, mulai dari warna kesukaan, musik favorit, makanan dan minuman sehari-hari, sampai dimana tempat nongkrongnya. Hal ini ditujukan untuk memahami pengguna, diharapkan ketika produk launching, pengguna yang dituju akan segera menyerap produk. Film pun saya rasa begitu, bagaimana seorang sutradara mengarahkan film, selain dengan taste pribadinya, juga diharapkan menjangkau penonton yang tepat sehingga film dapat sukses.

Hari dikedai berakhir manis, saya dibolehkan menumpak Royal, setelah sejenak berkeliling, ketika turun dari motor dalam hati saya berujar ‘I feel like a real man’ tentu saya sudah real man, tapi dengan booster dari Royal yang sukses membuat saya berasa lebih real kalau memilikinya. Pria diparodi The Batman pun bisa jadi terkena efek yang sama, mungkin dalam hatinya dia berujar ‘ I am Batman’ setelah keluar dari bioskop. Lalu, apa rasanya kalau saya tetiba nanti bisa numpak motor Batman?

 
T. ZULKARNAIN M | PENULIS LEPAS
 
image: Theopile Bartz
Picture of Redaksi

Redaksi