
Syairnya mengangkat tema-tema yang dekat dengan keseharian kita mulai dari cinta-cintaan yang klise sampai persoalan hutang piutang yang memusingkan.
Ada kelebat memori almarhum kakek tiap kali saya memutar lagu pop sunda. Saat masih ada, saban hari ia memutar lagu-lagu pop sunda. Di tapedeck Polytron Bigband yang pernah sohor lagu-lagu itu diputar dengan volume yang membuat tetangga terpaksa ikut mendengarkannya. Bahkan jika sehari saja kakek tidak memutar lagu-lagu itu, tetangga biasanya bertanya. Entah memang ketagihan atau sekedar basa-basi saja.
Sebetulnya, kakek cukup selektif ketika memutar lagu-lagu pop sunda. Paling banter yang diputar adalah lagu-lagu yang dibuat oleh maestro pop sunda legendaris, Mang Koko. Baginya, lagu-lagu Mang Koko tidak melenceng dari tradisi tembang sunda cianjuran yang begitu ia cintai sepenuh hati.
Inilah mengapa setiap kali mendengar pop sunda modelan Darso, air mukanya selalu berubah kesal. Meminta saya segera menggantinya, “Pindahkeun. Ganti!”. Saya, pada mulanya sepakat. Saya menganggap pop sunda modelan Darso enggak ada keren-kerennya. Sebagai generasi yang besar di tahun 90an, yang saya anggap keren tentu saja segala hal yang ditawarkan oleh Amerika Serikat via budaya populernya yang pada itu hilir mudik di beberapa station televisi swasta yang baru mengudara.
Dikemudian hari, saya menyadari sesuatu hal. Ada yang tersirat jauh dalam noraknya pop sunda modelan Darso. Lalu mengapa kakek saya sangat mencintai tembang sunda cianjuran? Tembang sunda cianjuran dibuat di lingkungan menak Sunda. Ia menjadi representasi identitas dari kelas—orang yang mendengarkannya secara otomatis akan teridentifikasi menjadi bagian dari mereka, para menak itu.
Tidak semua orang dapat menikmati tembang sunda cianjuran, apalagi generasi muda. Syairnya layak disebut sebagai bentuk sastra yang adihulung. Musiknya, jangan ditanya! Perpaduan keduanya seringkali memberikan semacam pengalaman yang magis bagi pendengarnya—pengalaman yang terkadang mencerahkan sekaligus menggerakan.
Inilah yang menjadi pangkal kecintaan kakek pada tembang sunda cianjuran sekaligus menjadi alasan mengapa ia tidak menyukai pop sunda modelan Darso. Kakek menganggap tembang sunda cianjuran sebagai bentuk seni tradisi yang adiluhung, sedangkan pop sunda adalah seni kelas tarkam yang enggak jelas.
Ketidaksukaan kakek inilah yang kemudian memotivasi saya untuk terjun bebas ke dunia pop sunda modelan Darso. Pop sunda modelan Darso bagi saya dapat dilihat sebagai perlawanan terhadap dominasi tembang sunda cianjuran. Mengapa, karena ia dapat dinikmati oleh nyaris semua orang. Syairnya mengangkat tema-tema yang dekat dengan keseharian kita mulai dari cinta-cintaan yang klise sampai persoalan hutang piutang yang memusingkan. Musiknya begitu mudah dicerna, meminjam banyak idom musik pop Barat.
Lantas mengapa masih banyak orang—apalagi anak muda—yang enggan mendengarkan pop sunda modelan Darso? Atau mereka mendengarkan tapi tidak mau orang lain mengetahuinya lantaran takut dicap kampungan. Pangkal dari permasalahan ini adalah dominasi kelas di atas yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Padahal pop sunda modelan Darso adalah wujud kontemporer dari seni musik sunda, seperti halnya K-Pop.
Di kalangan akar rumput, Darso begitu popular. Ia dikenal sebagai seniman yang tidak pernah menolak tawaran manggung di mana pun dengan bayaran apa pun. Inilah salah satu hal yang membuatnya dicintai mereka. Darso adalah suara rakyat! Unpad bahkan pernah memberikan penghargaan kepadanya, sebagai apresiasi atas jasanya terhadap pop sunda.
Sayangnya, itu semua tidak mengangkat pop sunda menjadi sesuatu yang menasional. Pop sunda seakan-akan mentok di situ-situ saja. Tidak seperti campursari atau dangdut koplo. Alasannya banyak, lain kali mungkin akan saya tulis.
Namun, saya selalu berseloroh dengan beberapa kawan. Pop sunda saya pikir salah lahir. Bayangkan jika ia lahir di Amerika Serikat. Tentu ia akan mendunia, bahkan menjadi inspirasi bagi lahirnya K-Pop!
Saya selalu membayangkan bagaimana jika Darso lahir dan besar di New York. Ia pasti akan sering nongkrong bareng Warhol dan Basquiat—sangat mungkin mereka akan kolab! Sangat mungkin pop sunda yang kita kenal hari ini akan terdengar dan terlihat begitu berbeda.***
LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY



