
Wajah sumringah kedua mempelai ditambah aneka suguhan kripik-krupuk renyah dan makanan lezat khas masakan rumah menjadi bayaran perjalanan napak tilas ini, sebuah perjalanan dengan potret kenangan yang menjelang hilang digerus roda kapital nan kencang
Setelah tak bisa tidur karena Lembang yang beralih rasa dan muka, perjalanan kali ini juga tak kalah kopong dari tahu bulat yang sudah tidak mendadak. Arah perjalanan kali ini ke selatan, kira-kira berjarak hampir satu bulan dari perjalanan utara. Dalam kesendirian perjalanan diawali keraguan karena sehari sebelumnya sudah melakukan perjalanan cukup jauh, namun demi menyaksikan kebahagiaan seorang kawan yang akhirnya setelah sekian lama menemukan sekali lagi separuh nafasnya, saya pun memutuskan melakoni perjalanan tersebut. Perjalananpun dimulai.
Sebelum ke tujuan utama, saya harus pergi ke lokasi lain di Soreang, mengecek tim produksi yang sedang melakukan installasi, bersyukur arahnya satu arah sehingga tidak terlalu memutar, saya jalan sehabis Dzuhur-an, perjalanan lancar dan saya sebentar saja menengok karena perjalanan berikut menanti. Motor saya arahkan ke arah Pangalengan, memori pertama muncul ketika saya melewati jalur mengantar almarhum anak saya ke pemakaman keluarga, lama saya tidak kesana, mudah-mudahan bisa segera. Di makam itu pula akhir bulan lalu saudara saya yang rajin berolah raga dimakamkan, semoga khusnul khotimah.
Memori kedua, saya terkesan dengan satu rumah yang letaknya sebelah kanan tepat sebelum turunan perajin tahu Kiang Roke, arsitekturnya sederhana, paduan tembok dan dinding bilik, hanya satu bangunan persegi panjang saja, tak kurang tak lebih, dirumah ini dulu saya pernah ikut menunggu mobil saya yang tetiba mogok di sekitarannya, kini rumah itu entah masih ada atau tidak karena terhalang bangunan baru yang belum selesai didirikan.
Memori ketiga, saya ingat dulu di daerah Cimaung pepohonan sangat rimbun dengan pemandangan lembah disebelah kanan, jalur ini cukup menantang bagi supir pemula seperti saat saya pertamakali dites almarhum ayah nyupir jarak jauh ke rumah nenek di desa Maruyung. Di daerah ini dulu sering terdengar suara turaes, sejenis serangga yang dipercaya menjadi penanda datangnya musim kemarau, suara ini kini berganti menjadi hiruk pikuk manusia yang berkerumun di alfamrat dan indomrat, dua sejoli ini sudah sampai disini, entah kalau transportasi ke bulan sudah umum, mereka mungkin sampai disana bersanding dengan rumah makan Padang siang malam.
Perjalanan terus berlalu, saya berjalan pelan agar jalan masuk rumah almarhumah nenek saya tidak terlewat, di sinilah saya dulu setiap tahun menyaksikan pawai 17an, saat ini sawah dan rumah supir saya ketika SD yang jadi penanda sudah tertutup oleh deretan rumah, satu penanda yang hadir adalah; indomrat! Kehadirannya entah harus disyukuri atau tidak, mengingat mungkin ada disana warung kecil yang tutup karena pembeli lebih senang belanja permen di tempat ber-AC, biarlah, toh rezeki tidak akan tertukar.
Sampailah saya ke rumah teman setelah 2 kali balik arah karena saya tak pandai bergoogle map ria, maklum saya lebih memilih prinsip bertanya lebih baik daripada sesat di jalan. Wajah sumringah kedua mempelai ditambah aneka suguhan kripik-krupuk renyah dan makanan lezat khas masakan rumah menjadi bayaran perjalanan napak tilas ini, sebuah perjalanan dengan potret kenangan yang menjelang hilang digerus roda kapital nan kencang, apakah 10 tahun lagi saya masih ingat atau tidak jalan ke rumah nenek? Saya nikmati perjalanan pulang malam itu, entah kapan saya kemari lagi, mungkin nanti kita bertemu, janjian di indomrat atau alfamrat agar tak sesat dijalan, selamat sampai tujuan.
*Nantikan napak tilas Selatan di tulisan berikutnya



