Sunda Naon, Naon Sunda

Sunda bukan omong kosong, tapi jauh daripada itu, sunda adalah intelektual yang berkarya bukan hanya bicara.

Apa yang menjadi sudut pandang dalam menentukan identitas kesukuan? Bagi saya tentu saja dari bahasa yang digunakan. Ataupun apabila yang bersangkutan menggunakan bahasa Indonesia sebagai cara bertutur, maka yang akan saya perhatikan adalah cengkok. Kira-kira saya bisa menentukan secara intuitif darimana orang yang bersangkutan berasal. Begitupun dengan diri saya, sedari kecil saya diperkenalkan basa sunda sebagai bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Setelah itu, barulah bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua. Dalam pergaulan sehari-hari, baik di sekolah maupun sepermainan, basa sunda adalah bahasa utama, Bahasa Indonesia seingat saya hanya digunakan untuk kegiatan formal.

Pertanyaan yang paling sering saya jawab apabila ada pertanyaan mengenai urusan kesukuan, paling saya jawab, Sunda. Dan orang akan mengerti, dengan sendirinya. Mungkin juga, dari penafsiran mereka atas bahasa yang saya gunakan atau dari langgam verbal. Dan, kemungkinan besar mereka akan membayangkan sunda adalah Jawa Barat.

Apapun itu, rasanya agak sedikit menjadi polemik di kalangan masyarakat, mengenai sunda dan kasundaan ini, cenderung ruwet, dan kompleks, jikalau menjadi pembicaraan yang serius. Tidak semudah ketika mempersepsi dari sudut pandang jawaban pendek atas nama kesukuan. Ketika suatu masa orang bertanya tentang sunda itu apa? Maka perdebatan sengit dan runcing akan segera menjadi bilah pisau yang tajam. Serta merta menjadi argumentatif dan tak jarang berhenti di perempatan.

Banyak upaya yang telah dilakukan banyak orang, untuk menggali Sunda dari berbagai sisi. Misal, mempelajari naskah sebagai sumber pengetahuan. Berguru pada para karuhun atau  datang ke masyarakat kasepuhan untuk menimba ilmu kehidupan. Sebetulnya tidak perlu juga kita khawatir sunda akan tenggelam dalam khazanah nusantara. Perlu bukti? Gampang sekali, bisa kita temukan artefak mengenai organisasi kemasyarakatan dengan tema Kasundaan lengkap dengan “maung” atau harimau sebagai ikon kegarangan. Di sekolah atau lingkungan kantor dalam ruang lingkup administrasi daerah Jawa Barat, sudah menjadi kelaziman setiap hari rabu mereka harus menggunakan seragam ke-sunda-sunda-an, atas bawah serba hitam, meniru pakaian khas baduy. Tentu saja bukan dalam suasana mengantar orang ke pemakaman. Atau banyak pula kita temui orang perorang menggunakan ikat kepala lengkap dengan atributnya, bahkan pernah saya temukan atribut tersebut dilengkapi dengan golok di pinggang, untuk memperjelas identitas tentang Sunda, gagah sekaligus mengerikan. Ilustrasi diatas menjadi penguat akan sunda yang digjaya.

Bagaimana mengenai sunda bersatu? Baru-baru ini, polemik horisontal menjadi “trending” di linimasa, atas ucapan seorang anggota dewan yang menyinggung perasaan orang sunda. Beramai-ramai golongan komunitas sunda dan perseorangan hadir untuk menghujat dan merespon sang politikus dan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah dia perbuat. Tapi, bagaimanapun juga orang sunda adalah kaum pemberi ampun, setelah sang politikus meminta maaf, linimasa Kembali sepi, bahkan tak ada satupun, kalau saya iseng cari-cari, yang mengungkit atau mempermasalahkan kembali kejadian tersebut.

Identitas tentang sunda tentu saja lebih tepat melalui laku kerja, saya kira. Kerja keras dengan bukti otentik dari tulisan serta penelitian yang berkesinambungan adalah hal yang mengawetkan pengetahuan dan melegitimasi bentuk dari sunda itu sendiri. Ajip Rosidi misalnya, dengan puluhan atau mungkin ratusan buku, riset, serta artikel yang pernah beliau tulis merupakan bukti nyata bahwa sunda adalah laku “gawe”. Bahkan, ribuan buku yang dikumpulkan di perpustakaan di Jalan garut, bukti berbagi pengetahuan khususnya tentang Sunda bagi masyarakat luas. Atau, sosok Hawe Setiawan, sebagai budayawan yang produktif menulis merupakan salah satu contoh bagaimana sunda seharusnya menggeliat, ataupun para sundanis-sundanis yang membuktikan bahwa sunda adalah “bekerja”. Sunda bukan omong kosong, tapi jauh daripada itu, sunda adalah intelektual yang berkarya bukan hanya bicara.***

TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi