
alih-alih menguntungkan, para pemotor itu justru kerap merugikan.
Napak tilas, bila mendengar tentang ini imaji terbang pada sesuatu yang besar, bersejarah, dan membekas di memori sebuah bangsa. Hal yang terkait napak tilas identik dengan perjalanan menelusuri jejak sejarah perjuangan, perjalanan ini sejatinya tidak hanya untuk mereka yang memunyai nama besar seperti pahlawan, wali atau semacamnya. Sebuah perjalanan napak tilas yang dilakukan oleh rakyat biasa seperti saya pun bisa dimaknai sebagai sesuatu yang bersejarah, setidaknya bagi saya sendiri.
Baiklah, kita mulai napak tilas pertama, yaitu napak tilas utara; kenapa saya namai demikian, karena perjalanan napak tilas ini berjalan ke arah Bandung utara, tepatnya ke arah Lembang. Lembang masa kini, berbeda dengan Lembang 30 tahunan lalu, masa ketika saya diajak oleh ayah rekreasi keluarga di Ciater, perjalanan kesana yang melalui kelokan jalan naik dan turun sangat menyenangkan pada waktu itu, pepohonan rimbun kiri dan kanan disertai udara sejuk membawa suasana segar. Bagi saya dan adik-adik perjalanan seperti itu seperti berpetualang kedunia baru atau apakah saat itu perasaan ayah dan ibu juga senang, atau justru pusing memikirkan biaya yang harus dikeluarkan selama perjalanan, dan seterusnya.
Perjalanan ke utara saat itu terasa jauh, maklum karena memang rumah kami berada di sisi selatan kota Bandung, sehingga untuk mencapai tujuan itu melewati daerah kota, kondisinya dulu tidak seramai sekarang, perbedaan ketika masuk dan keluar wilayah kota cukup terasa, di sekitaran rumah sampai perbatasan kota (saat itu batas kota Bandung seingat saya sampai kantor SAMSAT Kiaracondong) ditandai dengan kondisi jalan yang mix antara aspal berbatu dan hotmix, bangunan di sisi jalan berupa rumah, pertokoan kecil dan masih ada pepohonan besar di kiri dan kanan jalan, masuk kedalam kota mulai ada gedung-gedung yang lebih besar, jalan lebar dan kendaraan besar. Ketika masuk daerah Cipaganti, Setiabudi, Ledeng dan seterusnya, suasana berganti menjadi suasana setengah hutan, rimbun pohon dan rumah yang masih jarang juga kendaraan yang tidak begitu ramai membuat suasana seperti didunia lain, setidaknya itu yang saya rasakan dan alami.
Perjalanan tanpa beban merupakan sebuah berkah, tidak akan terulang mungkin untuk masa yang cukup lama, berbeda dengan 2 mingguan lalu ketika dipagi hari ‘orang rumah’ minta jalan-jalan ke Lembang sebelum saya berangkat ‘ngantor’. Perjalanan dimulai dari arah yang sama, daerah selatan Bandung, hanya saja titiknya geser sedikit, jalanan tidak begitu ramai karena memang sudah lewat jam pulang kerja, trek jalan saya ambil sesuai dengan jalur dulu saya berangkat sama keluarga, bedanya, kini ada jalan layang yang dilewati, tepatnya di daerah pasar Kiaracondong, sebuah area yang dulu dikenal cukup macet sampai macet sekali dan dibuatlah jalan layang untuk mengatasinya. Pemandangan ke arah deretan gunung Bandung utara terlihat berbeda, dulu titik terang lampu tidak banyak merambah sisi menuju puncak, kini titik tersebut terlihat hampir menyelimuti punggung gunung-gunung itu, hanya tersisa sedikit gelap di bagian puncak, saya tidak yakin apakah disana memang masih gelap atau ternyata ada pendar lampu yang terhalang.
Belok ke jalan Jakarta, di sebelah kiri kini ada sebuah taman yang pendirianya menggusur rumah seorang atlet peraih medali yang sakit, entah bagaimana nasibnya sekarang, semoga sehat. Lalu naik lagi jalan layang menuju jalan Supratman, jalan ini penuh kenangan karena dulu nyaris setiap hari saya melaluinya untuk pergi sekolah, laju terus ke arah Gasibu yang semakin bersolek dan naik Surapati untuk turun ke Sarijadi, jalan Cipaganti sekarang sudah dibuat satu arah.
Lepas dari situasi macet, perjalanan dilalui dengan penuh waspada, pasalnya beberapa kali disusul dan berpapasan dengan rombongan motor knalpot gambreng yang gandéng, situasi ini tidak saya temui waktu 30 tahun dulu, otomatis ini menjadi objek cerita bagi saya untuk anak saya, mudah-mudahan dia menyimak, karena saya cerita sambil membagi konsentrasi supaya tidak tersenggol atau menyenggol pemotor gambreng tadi. Singkat cerita, sampailah saya ke Lembang, setelah parkir, merasakan sedikit udara dingin dan menuju salah satu tempat makan, suasana dimeriahkan oleh teriakan knalpot dari puluhan mungkin ratusan motor yang baru keluar dari rest area, masing2 menunjukkan kebolehannya membesut gas dalam-dalam, tidak peduli orang dipinggiran ngobrol teriak karena kalah suara.
Setelah makan, kami bertiga kembali ke mobil, sesuai dengan obrolan ketika turun, kami sepakat membeli ketan bakar dari seorang ibu yang berjualan tidak jauh dari parkir, saya iseng bertanya pada ibu itu terkait para pemotor, ternyata memang kegiatan tersebut marak kembali setelah lama tidak, ada ratusan sampai ribuan motor yang datang dan pergi. Menarik bagi saya karena membayangkan dampak yang terjadi, dalam bayangan saya, kesejahteraan di area itu sedikit banyak terbantu oleh para rombongan, namun ternyata dugaan meleset, menurut penuturan ibu penjual ketan, banyak pedagang baik di rest area atau sekitarannya yang mengeluh, para pemotor itu hanya nongkrongnya saja yang lama, belanjanya paling segelas kopi dan sedikit cemilan, alih-alih menguntungkan, para pemotor itu justru kerap merugikan.
Setelah ketan dan obrolan selesai, kami pulang, seperti saat pergi, keadaan jalan ketika pulang pun diwarnai knalpot gambreng, disatu ruas jalan saya mencoba membuka masker untuk sedikit menikmati udara segar yang dulu saya sering rasakan ketika membuka kaca jendela mobil, namun bukan itu yang terjadi, jejak asap motor 2-tak yang tertinggal menyeruak hidung membuat sesak dan masker pun dipasang.
*Nantikan napak tilas Selatan di tulisan berikutnya



