Keliling Kota

 

Di angkot, ada banyak cerita. Ia adalah ruang pertemuan yang tak henti dari berbagai macam orang dengan berbagai latar belakang.

 

 

Pagi ini, tapi tidak pagi sekali, saya menyiapkan sepeda. Ada rencana yang tiba-tiba muncul: bersepeda keliling kota.
Membayangkan kota yang begitu luas, “bersepeda keliling kota” tentu hanya menjadi kiasan. Saya membayangkan rute terpendek yang akan ditempuh untuk sampai ke pusat kota. Jarak terdekat untuk mencapai pusat kota dari rumah sekitar 12 kilometer menurut Google Maps. Jadi kalau pergi-pulang, setidaknya saya akan menempuh 24 kilometer. Jarak yang lumayan jauh untuk orang yang bukan pesepeda rutin seperti saya.
Tapi saya tidak habis akal untuk mengatasi jarak yang lumayan jauh itu: saya pakai sepeda lipat. Jika seandainya kelelahan di tengah perjalanan, saya bisa mengangkutnya pakai angkot atau taksi.
Sepanjang jalan, saya meyakinkan diri bahwa jarak bukanlah hambatan, ia mesti ditempuh dengan bahagia. Saya mengayuh sepeda dengan santai. Berkali-kali klakson mobil dan sepeda motor mengingatkan bahwa mereka akan menyalip. Saya membiarkan mereka yang diburu waktu berlalu.
Tidak jarang juga angkot menyalip lalu berhenti tiba-tiba di depan karena ada penumpang akan turun atau naik. Ya begitulah mereka, melakukan sesuatu karena permintaan penumpang. Dibanding menggerutu atau menyalahkan, lebih baik tentu memahami bagaimana mereka bekerja. Angkot tentu berbeda dengan kendaraan pribadi yang bisa langsung meluncur ke tujuan mereka tanpa berhenti di setiap mulut gang, depan toko, pasar, atau halte.
Setiap perhentian adalah ladang bagi para sopir angkot untuk mengalap rezeki. Tidak jarang, perhentian juga adalah ladang untuk memperpanjang harapan. Para sopir berharap ada yang berjalan menuju angkot mereka. Berhenti di mulut gang dan berharap ada penumpang tentu menjadi api yang harus terus dijaga untuk mencari rezeki bagi keluarga. Yang tidak boleh tentu saja berhenti berharap.
Pernah sekali waktu saya naik angkot dan duduk di samping sopir. Sepanjang jalan sopir tersebut bercerita tentang bagaimana ia hidup di jalan. Hampir tiap malam ia memulai aktivitas pukul 02.00 dengan menjemput pelanggan carter mobilnya dari Pasar Induk Caringin. Bada subuh lalu ia melanjutkan narik di jalan hingga siang atau sore hari.
“Sekarang penumpang sedikit. Banyak yang bawa kendaraan sendiri, pindah ke ojol, dan karena pandemi. Ya sabar-sabar dan pinter-pinter kita aja, Kang. Narik rugi, apalagi tidak narik, mati.” Begitu kira-kita potongan salah satu percakapan yang saya ingat.
Di angkot, ada banyak cerita. Ia adalah ruang pertemuan yang tak henti dari berbagai macam orang dengan berbagai latar belakang. Orang naik dan turun. Cerita datang dan pergi. Angkot terus hidup dari satu zaman ke zaman yang lain.
Bukan sekali dua kali pemerintah berencana untuk menghapus angkot dari sistem transportasi kota. Mereka berencana mengganti angkot dengan moda transportasi yang lain. Tentu rencana itu selalu dihadapkan dengan demonstrasi besar-besaran dari seluruh elemen yang terkait dengan dunia angkot. Angkot bukan hanya perkara kendaraan atau alat transportasi, ia adalah sebuah dunia kompleks yang menghidupi banyak orang. Angkot dihidupi dan menghidupi masyarakat.
Saya ingat dulu harus jalan kaki ke sekolah karena seluruh sopir angkot melakukan aksi mogok dan berdemo memprotes keputusan pemerintah. Pada saat seluruh sopir angkot mogok itulah, kota tiba-tiba lumpuh. Banyak orang kelimpungan karena tidak ada alat transportasi yang dapat digunakan. Angkutan truk darurat dari pemerintah dan aparat keamanan kemudian dioperasikan untuk melayani anak-anak sekolah, para pegawai, dan siapa saja yang hendak berangkat ke satu tujuan. Namun tentu saja, pelayanan dari pemerintah itu tidak dapat berlangsung selamanya.
Kita warga kota baru paham dan menyadari bahwa angkot adalah bagian yang sangat penting bagi kehidupan warga kota. Tanpanya, jarak tiba-tiba menjadi jauh. Urat nadi kota terputus. Dan kota seakan-akan sekarat.
Di pagi ini, saya terus mengayuh sepeda sambil berusaha memahami segala yang bergerak melalui saya. Saya akan berkeliling kota.***
JEJEN JAELANI | KOLOMNIS
 

 

image: https://wallpapersafari.com/free-psychedelic-wallpapers/

 

 

 
Picture of Redaksi

Redaksi