Beragam Warna Berbaur di Jendela

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

Yang paling menyenangkan buat saya adalah putar-putar bersepeda keliling kota sambil membawa alat gambar yang ringan dijinjing dan mudah dibawa. Buat saya, itu semacam persenyawaan yang baik antara olah raga dan olah sukma.

Judul tulisan ini sebetulnya bukan milik saya. Saya hanya memetiknya dari petunjuk teknis pada “roda warna” (color wheel), alat bantu mencampur warna buat pemula di bidang seni rupa. Barangnya memang kayak roda: dua lingkaran pipih, satu lebih besar daripada yang lain, yang bertumpu pada sebuah poros. Tiap-tiap lingkaran dikasih garis sekat sesuai dengan keragaman warna. Lingkaran yang lebih kecil dikasih semacam “jendela” (window). Kalau kedua lingkaran itu diputar-putar, campuran warna yang dicari akan tampil di “jendela”. Nah, dalam petunjuk teknisnya, ada kata-kata yang bunyi aslinya begini: “the mixture appears in the window”.

Karena saya sering keranjingan simbol dan hal-ihwal sejenisnya, kata-kata itu di benak saya malah jadi metafora. Sambil memutar-mutar roda warna, dan mencampur-campur cat pada palet, saya seakan-akan sedang diingatkan bahwa hidup ini tidak ubahnya dengan cat air (watercolor). Saya harus membuka jendela, melihat cakrawala, dan menyadari bahwa berbagai warna bisa hadir bersama, berbaur, bercampur, dan melebur. Seringkali tidak ada garis yang tegas antara hitam dan putih. Bahkan mungkin sesungguhnya tidak ada hitam dan putih. Yang ada hanya gelap atau teduh dan terang atau pucat. Jangan-jangan hal terpenting dalam cat air bukan cat melainkan air, semacam kesanggupan untuk melarutkan aneka warna dari sana-sini menjadi karakter tersendiri.

Kalau saya terdengar keliru, mohon dimaklumi. Namanya juga pemula. Itu sebabnya saya belum berani mengklaim bahwa gambar bikinan saya adalah “cat air”. Gambar saya lebih tepat disebut “cacat air”. Insya Allah, kelak akan tiba saatnya karya saya tidak cacat lagi dong.

Minat terhadap kegiatan gambar-menggambar sih sudah saya rasakan sejak kecil sebagaimana yang terjadi pada ratusan juta anak-anak lainnya di kolong langit. Sayang sekali, pada kasus saya, minat itu baru bisa direalisasikan setelah saya menua. Tak mengapa. Anggap saja, kegiatan saya ini merupakan hobi menjelang pensiun.

Kata seorang teman yang belajar psikologi, perilaku manusia itu merupakan persenyawaan antara kecenderungan pribadi dan pengaruh lingkungan. Dalam kasus saya, salah satu lingkungan yang memberikan pengaruh kepada saya, entah pengaruh buruk ataukah pengaruh baik, adalah tempat kerja saya sendiri, yakni Program Studi Desain Komunikasi Visual di Universitas Pasundan. Di situ ada beberapa kolega yang jago menggambar, dari Pak Komar hingga Kang Agus, dan di antaranya ada jebolan Seni Rupa ITB. Sering saya bertanya seputar gambar kepada mereka.

Saya sendiri memang sempat mampir sebentar di Seni Rupa ITB tapi bukan untuk menggambar, melainkan untuk menulis tesis dan disertasi. Maklumlah untuk jadi dosen toh orang harus mau meneruskan sekolah ke S-2 bahkan S-3 berapapun biayanya. Adapun untuk mencintai gambar dan gemar menggambar, orang tidak harus sempoyongan mencari jurnal scopus atau berbaik-baikan dengan para promotor di kampus. Cukup siapkan kertas dan pensil. Coretkan saja apa yang mau kita gambar. Tidak usah cemas. Ingat saja kata-kata bijak dari mendiang Pak Tino Sidin yang tak pernah lupa dia sampaikan untuk segala jenis dan gaya gambar karya anak-anak Indonesia: “Bagus! Bagus!”

Lingkungan lain yang tak kalah bagusnya dalam urusan ini adalah tempat tinggal saya di Negla, Ledeng, Bandung Utara. Saya bertetangga dengan seniman dan dosen seni rupa Tisna Sanjaya. Di belakang terminal Ledeng tinggal pula seniman Isa Perkasa. Seringkali saya melihat mereka berkarya di studionya masing-masing. Boleh jadi, itu pun memberikan pengaruh kepada diri saya, entah pengaruh baik ataukah pengaruh buruk.

Dengan semangat menggebu-gebu, saya beberapa kali ikut plein air, kegiatan menggambar di tempat terbuka, yang diselenggarakan oleh para pegiat Institut Drawing Bandung. IDB adalah wadah pencinta drawing yang antara lain digerakkan oleh para seniman seperti Isa Perkasa, Yus Arwadinata, Ratman D.S. (alm.), Nurlita, Andi Yudha, Dede Wahyudin, Rendra Santana, Rosid, Firman Lubis, Teddy Wirakusumah, Ahmad Nurcholis, Anton Susanto, Yoyo Hartanto, Setiyono Wibowo, dll.

Ide mendirikan IDB tercetus terutama dalam obrolan di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan di Jalan Naripan 9, Bandung. Pada dasawarsa 1950-an gedung tua itu merupakan sekretariat Stichting “Cultureel Centrum” pimpinan mendiang Prof. Sjafei Soemardja. Tanda kelahiran IDB adalah kegiatan flash mob di Dago pada 2019. Hari itu berbagai peminat drawing menggambar bersama Pak Sariban, tokoh pembersih sampah, turut hadir jadi model.

Sejak berdiri, IDB sering mengadakan plein air, mula-mula di Taman Hutan Raya Juanda kemudian di berbagai tempat lainnya di Bandung, bahkan di luar kota. Buat saya, itulah kesempatan emas buat mempelajari teknik menggambar, misalnya soal cara memakai alat gambar, memilih media, mencari sudut pandang, memilih segi dari objek gambar, mengarsir, mencampur warna, dan banyak lagi. Bukan hanya itu. Persahabatan pun kian akrab jadinya.

Ada kalanya ikut menggambar bersama para jago gambar menimbulkan semacam depresi di hati pemula seperti saya. Itu tak ubahnya dengan turing bersepeda bersama teman-teman yang lebih bedas dan pejal. Sering saya sampai ngos-ngosan karena menyesuaikan diri dengan para pemboseh yang betisnya entah terbuat dari apa. Lebih baik mengayuh sepeda sendirian saja, biar bisa jeda di sembarang waktu dan tempat. Kalaupun mau bertemu dengan teman-teman sesama pencinta sepeda, cukup mengetahui destinasinya saja. Pokoknya saya akan sampai ke situ, tIdak usah ditunggu-tunggu. Begitu pula dalam kegiatan belajar menggambar. Tidak jarang saya menggambar di tempat terbuka sendirian saja, biasanya tanpa rencana, dan bisa berlama-lama merampungkan satu gambar yang ukurannya tidak seberapa besar.

Yang paling menyenangkan buat saya adalah putar-putar bersepeda keliling kota sambil membawa alat gambar yang ringan dijinjing dan mudah dibawa. Buat saya, itu semacam persenyawaan yang baik antara olah raga dan olah sukma. Bunga-bunga pengalamannya pun rupa-rupa. Waktu saya menggambar Gedung Antara di Jalan Braga, saya mengobrol dengan beberapa pengendara ojol. Mereka menyangka saya arsitek, dan saya tidak merasa perlu menyanggahnya. Di lain waktu, selagi saya menggambar Gedung Merdeka di Jalan Asia-Afrika di tengah sejumlah orang yang hidup di jalan, dari pengamen hingga penjaja rokok, datang seorang office boy sebuah bank membawa setampah makanan. “Silakan, Pak. Ini sedekah Jum’at berkah,” katanya. Saya pun tidak merasa perlu menampiknya.

Sungguh, warna-warni pengalaman hadir dalam jendela kehidupan kita sehari-hari.***

HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi