Anggap Saja Surat Cinta Atas Nama Sepakbola

 

 

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan dari puisi Soe Hok Gie, “Pak Heru, mungkin kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam sepakbola”.

 

 

11 Tahun yang lalu, sebelum semuanya terjadi, saya, yang baru saja menyelesaikan kuliah S1 kala itu adalah salah satu pendukung tim sepakbola yang bisa dikatakan menjadi kebanggaan arek-arek Malang, Arema. Saya sudah menjadi Aremania sejak saya masih TK, sekitar Tahun 1992-1993, karena awalnya sering diajak almarhum bapak saya pergi ke salah satu stadion tertua di Indonesia, Gajayana, dimana Kesebelasan Arema masih diperkuat pemain – pemain seperti Mecky Tata, Kuncoro, Jamrawi, Joko “Gethuk” Susilo, Singgih Pitono, dkk. Maka sejak saat itu saya mulai mencintai sepakbola, dan Arema tentunya.

Dari hari itu sampai saya tumbuh bersama usia, Arema sudah menjadi bagian hidup saya, sangking cintanya, hampir apapun saya lakukan untuk bisa menonton langsung ke stadion saat arema berlaga. Mulai dari “nggandol”  truk, lari dari pesantren, bolos sekolah, sampai saya pernah nekat masuk lewat “pintu” tali tambang yang ditarik oleh aremania dari dalam stadion, lumayan, selain harga “tiket”-nya lebih murah, tidak perlu lagi berdesak-desakan, walaupun pada akhirnya saya terluka tepat di sela – sela urat nadi tangan kanan saya yang sampai saat ini masih ada bekasnya, karena tali tambangnya putus dan tangan saya terkena paku yang menancap di tembok stadion. Tapi, begitulah cinta, luka tangan saya tak lebih pedih daripada melihat Arema kalah.

2011, sebelas tahun yang lalu, tepat satu tahun setelah Arema meraih gelar juara ISL, terjadi sebuah hal yang menurut saya tragedi. Konon katanya karena adanya kecarut – marutan dalam internal manajemen, akhirnya membuat arema “terbelah” menjadi dua. Untuk Arema, saya cuma punya satu hati, tak bisa di bagi, maka sejak saat itu saya memutuskan untuk berhenti, ya, berhenti mendampingi, tapi tidak berhenti mencintai. Saya akan kembali, jika “Singo Edan” saya menyatu lagi, suatu saat nanti, semoga.

Beberapa tahun setelah tragedi itu, takdir membawa saya menuju tempat yang baru, karena satu dan lain hal saya akhirnya harus berpindah kota, dari malang kota bunga, menuju bandung kota kembang. Di Bandung, saya bertemu dengan banyak hal baru, nuansa baru, kultur baru, dan orang – orang baru. Dari banyak orang baru itu, saya telah dipertemukan oleh Tuhan dengan seorang Panglima, Raja Viking, julukan untuk suporter kesebelasan Persib Bandung, Heru Djoko.

Pak Heru, begitu saya biasa memanggilnya, lumayan sering datang ke tempat saya bekerja, untuk sekedar menikmati nasi rawon atau nasi pecel bikinan saya yang ditemani oleh teh tawar panas. Bahkan kadang kala hanya sebatas datang, duduk, ngobrol sebentar, ngiring solat di masjid sebelah, kemudian berlalu.

Namun ketika beliau memiliki waktu yang cukup luang saat singgah ke tempat saya, banyak sekali topik – topik menarik untuk kami obrolkan, mulai dari masalah kehidupan, cinta, musik lawas, dan sudah barang tentu sepakbola, yang jelas penuh canda dan tawa. Waktu menuntun saya untuk bisa lebih dekat dengan Pak Heru, Si Raja Viking, pendukung fanatik Pangeran Biru.

Pada suatu waktu, saya mendapatkan kesempatan untuk mendampingi teman saya dalam rangka mewawancarai Pak Heru, dalam wawancara tersebut banyak hal yang kami bahas, dari bagimana beliau mencintai sepakbola, menjadi supporter, sampai cerita bagaimana akhirnya beliau dan sahabatnya, almarhum Ayi Beutik mendirikan sebuah organisasi supporter Persib bandung yang diberi nama Viking Persib Club (VPC), yang sudah beliau pimpin hampir 30 tahun, dan dari situlah beliau dijuluki sebagai Raja Viking. Dari wawancara itu juga saya akhirnya bisa melihat bahwa betapa beliau mencintai Persib Bandung dan Viking, yang katanya sudah mendarah daging.

Heru Djoko, memberikan euforia tersendiri dalam hati dan pikiran saya, ketika beliau bercerita tentang hari – hari pergi untuk menikmati sepakbola, tentang perbincangan – perbincangan warung kopi bagaimana hampir setiap saat orang – orang membahas pertandingan besok atau kemarin, tentang bagaimana beliau menghadapi perkembangan dan supporter – supporter muda akhir zaman, lalu banyak lagi yang lainya, termasuk bagaimana mencurahkan segala kerinduan yang akhirnya dipertemukan pada hingar – bingar stadion bersama nyanyian bersautan mendukung tim kesayangan, Persib Bandung, yang cuma ada satu, duh, saya cemburu.

Akhirnya, izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan dari puisi Soe Hok Gie, “Pak Heru, mungkin kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam sepakbola”.

Salam Satu Jiwa!

SATRIA CJ | KOLOMNIS & PENGGILA BOLA
 
image: http://www.ashiktricks.com/psychedelic-trippy-backgrounds-wallpapers/
Picture of Redaksi

Redaksi