
Karena malam itu dengan menangis, kita sedang menyatakan bahwa diri kita adalah satu bangsa, bangsa Indonesia.
Mari kita mulai tulisan singkat ini dengan menyadari bahwa diri kita adalah manusia dengan banyak bahasa dan wacana, tapi sekaligus bisa bersatu jua sebagai satu bangsa, ya setidak-tidaknya lewat sepakbola. Siapa kita? Indonesia! Kita bisa berteriak begitu rupa di tengah laga penuh drama antara Indonesia dan Singapura. Mari kita lupakan tentang hasil partai finalnya, karena catatan ini dibuat bukan untuk mengomentari performa tim asuhan Shin Tae Yong itu, saya justru ingin mengurai kenapa Shin Tae Yong yang melatih timnas Indonesia menggunakan bahasa bahasa Korea, tidak dipermasalahkan, sementara seorang Jaksa yang memimpin rapat menggunakan bahasa Sunda, justru dianggap sesuatu yang bermasalah, bahkan harus dipecat. Bukankah kedua-duanya menggunakan bahasa ibunya?
Jadi, apa itu nasionalisme? Dan kenapa pula nasionalisme itu harus tetap ada kalau sekian kali kita bisa merasa terluka karenanya? Saya pernah menangis tersedu-sedu ketika Indonesia kalah dari Malaysia di perhelatan final AFF tahun 2011. Itu pun tidak sendirian, hampir semua peserta acara nobar di suatu dealer motor Yamaha waktu itu turut menangis, seolah kita tak lagi peduli sedang berada di ruang publik dan bersama-sama melupakan aturan untuk menyimpan sesuatu yang privat dalam-dalam. Kenapa demikian? Karena malam itu dengan menangis, kita sedang menyatakan bahwa diri kita adalah satu bangsa, bangsa Indonesia.
Ya memang, menumbuhkan nasionalisme butuh strategi, betul juga bahwa mencipta nasionalisme butuh proses. Dan proses bersatunya tidak bisa tanpa menyadari perbedaan-perbedaan yang lebih awal mendasarinya. Kenapa kita harus berpikir yang lokal/yang daerah/yang setempat harus mengalah pada nasionalisme? Padahal kita bisa secara bebas terbuka menerima yang asing, bahkan kadang tanpa upaya menyaring sedikitpun, seperti kita mengucap cinta lebih sering menggunakan i love you, ketimbang aku cinta kamu, atau bahkan aku tresno karo kowé.
Kenapa kita begitu terburu-buru untuk merasa satu? Kalau seorang Shin Tae Yong bisa dan boleh menyampaikan strategi melalui bahasa ibunya, bahasa Korea, lalu kenapa seorang Jaksa tidak boleh menyampaikan pesan dan tujuannya dalam bahasa Sunda? Anggaplah bahasa semacam alat berkendara, jadi selama mereka memiliki tujuan yang sama, meski akan turun di alamat yang berbeda-beda, tetap saja aturannya yang utama ialah jauh-dekat sama saja.
Begitu pula nasionalisme, tidak terlalu penting untuk mendefinisikan nasionalisme itu apa karena justru yang terberat adalah menentukan kemana kita akan berujung dengan nasionalisme itu. Bahasa pun demikian, memang setiap kata sarat makna, tapi lebih dari itu bahasa juga memiliki fungsi. Selama tim nasional kita bisa memahami strategi yang dimaksud Shin Tae Yong, maka kegelisahan atas asal bahasa tidak lagi menjadi persoalan utama. Bahkan bila darinya kita bisa meraih kemenangan, maka niscaya kita akan semakin bangga menjadi Indonesia.
Tapi apa dasar saya, seenaknya menyamaratakan antara lapangan hijau dan meja hijau, sementara yang satu formal dan agung, lalu satu lagi begitu penuh sorak dan sorai. Bagaimana bisa seorang jaksa disejajarkan dengan pelatih sepakbola? Kalau itu yang kemudian kita pertanyakan, maka persoalannya terletak pada cara kita memaknai Indonesia. Karena penting juga membayangkan suatu kebudayaan yang berfungsi, dan bukan hanya bermakna. Bukankah sebuah upaya untuk mengklasifikasi emosi berdasar bentuk organisasi akan selalu menjadi upaya yang sia-sia?
Akhirnya, mari kita pertanyakan lagi bersama-sama, apakah bahasa yang kita pahami hanya tentang kata-katanya saja? Atau juga tentang cara kita menyampaikan kata? Bukankah ketika seorang ibu memerintah anaknya untuk melakukan sesuatu, dia bahkan tidak perlu mengeluarkan sepatah kata pun? Karena ibu dan anak itu sudah bersatu dalam bahasa, meski masing-masingnya menggunakan kata-kata yang berbeda. Jadi bila Arteria memasalahkan Bahasa Sunda dalam kehidupan formal bernegara, maka sepertinya dia perlu sesekali menonton sepakbola dan melihat jutaan pasang mata bisa menangis dan tertawa menyaksikan timnas Indonesia berlaga dibawah asuhan pelatih asal Korea.



