Ziarah Cacat Air

 

Jika beurit berarti “tikus”, simbol korupsi yang menggerogoti republik, leungsing adalah sejenis “lintah”, hewan pengisap darah yang dapat dijadikan simbol pinjol.

Kami menghindari Jalancagak yang kian sesak. Begitu sampai di Ciater, kami belok kiri menembus wilayah perkebunan teh, lewat Cicadas, hingga tiba di alun-alun Sagalaherang. Kecamatan ini adalah salah satu daerah masa kanak saya. Dari kelas 4 SD hingga kelas 1 SMP saya tinggal di sini, tepatnya di Krajan. Kepada istri saya, satu-satunya teman seperjalanan siang itu, saya tunjukkan beberapa titik yang menarik sambil bercerita tentang lingkungan keluarga kami dulu. Entah sudah berapa tahun saya tidak sempat berkeluyuran ke situ.


Topinimi yang dipakai oleh Dr. F. de Haan, kuncen arsip Belanda dari awal abad ke-20, bukan Sagalaherang, melainkan Sagaraherang. Dalam buku Priangan: Keresidenan Preanger di bawah Pemerintahan Belanda hingga 1811 (1912), Jilid 3, misalnya, ia menyebutkan bahwa dalam sebuah peta dari tahun 1692 toponimi Sagaraherang dipakai pula. Saya tidak tahu, bagaimana ceritanya sebutan “sagara”, yang berarti laut, jadi sagala yang berarti “segala”. Dalam bahasa Sunda, kata hérang berarti “jernih” atau “mengkilap”. Seorang teman menduga bahwa dari kejauhan dataran tinggi di belahan selatan Subang ini boleh jadi tampak seperti lautan fatamorgana.

Dibandingkan dengan Sagaraherang, toponimi Sagalaherang memang kedengarannya seperti hiperbola: segalanya jernih, cantik belaka, mengkilap semua. Yang pasti, sudah lama kata sagara menjauh dari tuturan sehari-hari, kecuali mungkin dari beberapa lirik lagu pop Sunda, kalah beken oleh kata laut.

Sejauh yang saya ingat, dalam atmosfer budayanya Sagalaherang agak berbeda dari Cisalak, tempat kelahiran saya di sebelah timur Jalancagak. Di Cisalak saya pergi ke sekolah pakai sandal jepit saja, sedangkan di Sagalaherang sekolah dasar membiasakan anak-anak untuk bersepatu lengkap dengan kaos kaki. Kata Ibu dulu, baik-baiklah, Jang, jaga perilaku. Di Krajan sini banyak adén dan endén. Saya pun mulai belajar bahwa Krajan ini semacam Sukamenak-nya Cisalak. Lentong alias logat, juga beberapa diksinya, berbeda pula. Di telinga saya, lagu bahasa orang Sagalaherang terdengar senada dengan lentong Bunihayu, tempat kelahiran ayah saya.

Tidak berlama-lama kami berbincang di tepi alun-alun. Tujuan utama kami siang itu adalah Nangkabeurit. Vidi Susanto, warga setempat dan teman dari kalangan peminat ekskursi bentang alam, sudah menunggu kami di sana. Kami hanya perlu bergerak lurus ke seberang alun-alun, menyusuri jalan kecil di belahan utara ke arah Cileungsing.

Jika beurit berarti “tikus”, simbol korupsi yang menggerogoti republik, leungsing adalah sejenis “lintah”, hewan pengisap darah yang dapat dijadikan simbol pinjol. Namun, alhamdulillah, sebutan nangka beurit mengingatkan saya pada buah cempedak yang wangi dan manis. Adapun Cileungsing, tentu, tidak bisa diceraikan dari nasi timbelnya yang padat dan lonjong. Kata seorang teman yang suka berlebihan, timbel Cileungsing tidak akan basi sekalipun kamu bawa hingga ke Arab Saudi.

Senin, 13 Desember lalu, adalah hari yang baik bagi kami buat berziarah ke makam keramat meski, bagi Vidi, adalah hari yang tidak disangka-sangka. Siang itu seharusnya dia duduk anteng menyimak seminar kebudayaan di ibukota kabupaten. Dia buru-buru kembali ke Sagalaherang memacu sepeda motor Honda Win-nya yang ramping dan lentur, lalu menghabiskan waktu menemani saya menggambar sketsa cat air tentang lanskap kuburan.

“Lain kali jangan duduk-dadak, ya, Pak,” ujar Vidi.

“Kalau direncanakan mah biasanya tidak terlaksana,” timpal saya.

Ungkapan yang tepat dalam bahasa Sunda, dan mustahil diterjemahkan ke dalam bahasa lainnya, adalah ras jig. Masing-masing kata yang membentuk frasa yang satu ini sesungguhnya tidak punya arti tapi punya fungsi. Keduanya merupakan kecap anteuran, semacam penegas kata kerja. Ras dipakai buat menegaskan “ingat”, sedangkan jig buat menegaskan “pergi”. Walhasil, begitu teringat, langsung berangkat. Sebelum mengontak Vidi, hari itu saya teringat pada makam keramat di Nangkabeurit, Sagalaherang, dan makam keluarga di Gardusayang, Cisalak.

Dia yang bersemayam di makam keramat Nangkabeurit adalah Aria Wangsa Goparana. Seingat saya, nama tokoh termasyhur ini diabadikan jadi nama jalan di seberang alun-alun Kabupaten Subang tempat berdirinya masjid agung dan gedung dakwah. Dalam kesan saya, makam keramat di Nangkabeurit turut menunjukkan bahwa Sagalaherang merupakan daerah buhun, bahkan mungkin yang paling klasik, di Kabupaten Subang. Tokoh Wangsa Goparana sendiri merupakan mata rantai yang menghubungkan narasi kesejarahan Sagalaherang dengan Talaga, Majalengka, di TImur-Utara dan Cikundul, Cianjur, di Barat-Selatan. Sagalaherang — tepatnya Sagaraherang — disebut-sebut dalam narasi sejarah mengenai masa ketika kekuasaan Mataram merembes ke Priangan, khususnya di sekitar abad ke-17, atau ketika pengaruh Islam begitu kuat dalam kebudayaan di Indonesia.

Makam keramat ini dipugar pada 1984. Ada gapura yang tidak begitu tinggi di bagian selatan pekuburan itu. Pusara Ama Goparana yang tertutup kain putih dikasih dinding kaca berbingkai kayu coklat dalam sebuah bangunan tembok tiga pintu yang atapnya meruncing dua tumpuk. Salah satu sisi dinding kaca itu, tepat di samping pusara, dikasih lawang tempat kuncen menyalakan parukuyan sebelum tawasulan.

Bangunan itu membentuk sudut siku-siku dengan sebuah masjid yang ukurannya sepadan. Atap masjid dikasih semacam tiara berbentuk kubah kecil kekuning-kuningan. Ada sekian undakan tangga semen dari masjid ke sumber air tempat peziarah berwudu. Airnya jernih betul, dan oleh penduduk setempat disebut cai kahuripan (air kesejahteraan). Para pemilik warung di sepanjang jalan kecil menuju makam menyediakan jeriken plastik buat para peziarah yang hendak mengambil air keramat itu.

Pohon beringin dan rumpun bambu tumbuh di situ, seperti pusat jagat bagi hamparan sawah di sekelilingnya. Sementara para peziarah lainnya terdengar memanjatkan doa, saya duduk-duduk sambil menggambar dan mencatat di halaman terbuka di depan kedua bangunan itu. Sungguh sejuk dan teduh diam di situ.

Kata beberapa penduduk setempat, ramai orang berziarah ke Nangkabeurit, baik dari jauh maupun dari dekat. Di sekitar hari besar Islam, keramaian ziarah biasanya bertambah. Macam-macam kalangan berdatangan ke sana, mulai dari para kontestan pemilihan kepala desa hingga para pejabat yang hendak merayakan acara Agustusan, mulai dari kalangan santri hingga kalangan usahawan. Ziarah stop saban malam dan hari Sabtu.

Siang itu sedikitnya ada dua rombongan peziarah. Beberapa bus mini Elf dan mobil lainnya menyesaki pelataran parkir di dekat gerbang menuju makam. Salah satu di antaranya adalah rombongan dari Cikundul, Cianjur, tak terkecuali kuncen makam Dalem Cikundul dan lurah setempat. Pak Lurah berpenampilan nyentrik dengan rambut dikuncir mirip kuncir Roberto Bagio.

Waktu saya mendirikan salat duhur di masjid itu tadi, orang yang jadi imam saya, sesama peziarah juga, mengenakan sarung batik berhiaskan logo Nahdlatul Ulama. Seusai salat, terdengar ia bercakap-cakap dengan teman-teman seperjalanannya dalam bahasa Jawa. Teti dan saya kemudian bergabung dengan rombongan Cikundul, menghaturkan tawasulan dengan dipandu oleh salah seorang kuncen setempat, Ma Hajah Entin.

Ziarah yang saya lakukan memang dapat disebut sebagai kegembiraan keluyuran di bawah pengaruh Islam. Senang sekali rasanya bisa berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap keramat, menyatukan diri dengan atmosfer kebatinan di situ, menikmati alunan doa dan kata-kata penuh pengharapan dari bibir para peziarah, lalu bergerak dan bergerak lagi menuruti kata hati.

Menjelang sore, kami beranjak dari Nangkabeurit menuju ke Gardusayang. Sesampainya kami di makam Ibu, terlihat ada sebatang pohon pisang yang rubuh melintang, merintangi jalan ke pusara. Dedaunan kering berserakan di sekitarnya. Tampaknya, hujan deras disertasi angin kencang meninggalkan jejak kekacauan tata ruang di pekuburan.

“Oh, rupanya, ini soalnya, Bu,” gumam saya seraya merogoh saku celana dan mengeluarkan senjata pusaka Leatherman. Pisau lipat serba guna seri Sidekick hasil tempaan para empu di Oregon, Amerika Serikat, itu seakan-akan dirancang buat menghadapi rongrongan pohon pisang. Saya potong-potong tiap-tiap pelepahnya sebelum menggulingkan batangnya ke tempat yang tepat. Teti sibuk menyapu guguran daun kering yang jadi basah karena hujan, mengumpulkannya di salah satu sudut makam, seakan-akan dia sedang melaksanakan laku “puja nyapu” yang kita kenal dari kisah Bujangga Manik.

Akhirnya, air yang sejuk dan jernih dari sumber cai kahuripan Nangkabeurit saya siramkan ke pusara Ibu. Kami lantas melanjutkan keluyuran. Mumpung masih ada waktu.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Hawe Setiawan

 

Picture of Redaksi

Redaksi