Waas: Dari Gapura Ke Benteng

 

Renungan Setiawan Sabana dalam berproses melalui kertas, pada akhirnya menjadi kenyataan, dimana kertas akan menjadi kitab bagi para pencari kebenaran.

Waas, kata yang membawa kita pada kenangan di masa lalu, dan terkenang pada bayangan masa silam. Kamus bahasa Sunda Danadibrata lebih merujuk pada dokumentasi alam, waas, rasa dina waktu nenjo pamandangan: sulit untuk membuat arti yang tepat mengenai rasa, begitu juga padanan kata waas dalam bahasa Indonesia. Waas merupakan pengalaman individu yang menyelusup sebagai kenangan. Waas, menggugah perasaan.

Ungkapan waas ini dilontarkan oleh Setiawan Sabana tatkala menyampaikan tanggapan pada kegiatan seminar daring ke enam dalam rangkaian acara pameran tunggalnya, KITAB Jagat Kertas Dalam Renungan. Setiawan Sabana, salah seorang guru besar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, seniman sekaligus peneliti dalam bidang seni rupa, kekagumannya pada kertas, menjadi titik tolak dalam proses berkarya. Pameran tersebut diselenggarakan di Galeri Nasional. Seminar berkala diadakan, pertalian dengan pameran. Webinar keenam merupakan salah satu kegiatan dari webinar-webinar yang telah dilakukan. Komunitas dan institusi pendidikan seni turut terlibat dalam kegiatan tersebut, diantaranya Galeri 10, FSRD ISBI, DKV FISS UNPAS, Lembaga Budaya Sunda UNPAS, Fakultas Desain UNIKOM, FSRD ITB, FSRD Maranatha, FPSD UPI, FSRD Trisakti, Komunitas Anak Spesial, dan GALERI NASIONAL. Kesempatan pemaparan dalam webinar keenam, diberikan kepada tiga pembicara.

Gerbang atau gapura bukan hanya seonggok benda atau sekedar fungsi untuk keluar masuk, jauh daripada itu gapura dapat ditilik dari sudut sejarah. Fadhly Abdillah dosen DKV FISS UNPAS, yang didapuk menjadi pembicara pertama dalam webinar, menyatakan bahwa konsep Nawa Gapura Marga Raja merupakan simbol dari proses berfikir masa lalu yang dapat dibaca dari naskah pustaka Rajya I Bhumi Nusantara, Pustaka Nagara Kretabhumi dan Tjarita Purwaka Caruban Nagari. Kemudian juga, keterkaitan Pangeran Wangsakerta dalam kegiatan Gotrasawala yang erat hubungannya dengan Nawa Gapura Marga Raja. Fadhly, menyatakan bahwa dalam pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara pada bait ke 224, disebut-sebut mengenai Nawa Gapura Marga Raja. Sedangkan Nawa Gapura Marga Raja adalah Chandra Sengkala dari tanggal 1 paro terang bulan srawara 1677 M, menurut tafsir dapat diartikan, Nawa adalah sembilan atau sanga, Gapura adalah gerbang, Marga sama dengan jalan, dan Raja adalah utusan, sehingga Nawa Gapura Marga Raja adalah sembilan gerbang tempat jalan utusan raja. Nawa Gapura Marga Raja disebut pula dengan Lawang Sanga. Dalam narasi simbol, Fadhly menyatakan bahwa gapura adalah gerbang menuju kawasan masa depan yang cerah, makmur gemah ripah loh jinawi dan sukses bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Sementara itu, Muammar Mochtar yang mencoba menilik komoditas teh dalam kaitan dengan narasi yang sama, yaitu sejarah. Muammar Mochtar juga merupakan pengajar di DKV FISS UNPAS. Teh, menurutnya, erat terhubung dengan sejarah nusantara bahkan dengan dunia. Menurut Muammar, ada dua bagian besar perkembangan teh di dunia, melalui daratan dan lautan. Penyebutan teh juga menjadi berbeda dalam penyebarannya. Muammar membaca teh, dalam literasi nusantara. Teh di nusantara adalah bagian dari perkembangan komoditi teh di Eropa, ada dua varian yang paling diminati yaitu Sinensis dan Assamica. Koloni para pekebun teh dan kina ada, setelah perubahan sistem agraria di negara jajahan kolonial Belanda. Konvensi tanah diberikan pada swasta, mempengaruhi tatanan perkebunan secara sosial, karena dimiliki oleh para keluarga. Sudut pandang Muammar, mengerucut pada para pekebun di Parahyangan, dan tertuju kepada keluarga Kerkhoven dan Holle. Keluarga Kerkhoven dan Holle merupakan dua keluarga yang membangun perkebunan teh Sinagar, Parakan Salak dan Arjasari. Dan titik terberat yang dibicarakan oleh Muammar dalam galian pekebun teh adalah, pada upaya kerja keras Rudolf Kerkhoven yang menjadi pendahulu dalam membangun perkebunan teh di Gambung. Proses pembacaan Muammar dari novel Herren Van Thee yang ditulis oleh Hella S Hasse, novel ini menceritakan tentang surat-surat yang ditulis oleh Rudolf Kerkhoven, yang didapat dari yayasan Het Indisch thee-en familie archief. Kemudian, Muammar, menautkan antara sejarah teh dengan identitas produk teh pada saat ini. Temuannya, ada satu kesamaan dalam ikon produk teh yang terbatas pada ikon cangkir, pemandangan perkebunan dan daun teh. Secara singkat, yang bersangkutan menyampaikan wacana tentang semangat para pekebun di masa lalu, yang bisa dijadikan landasan filosofi dalam mengolah unsur visual bagi identitas produk komoditas teh, sehingga tidak terpaku pada ikon yang berulang.

Kesempatan terakhir diberikan kepada Hawe Setiawan, beliau adalah seorang dosen di DKV FISS UNPAS, budayawan, penulis dan peneliti yang fokus pada budaya Sunda. Kang Hawe, memulai pemaparan dengan membaca toponimi ruang kehidupan sekitar lingkungan dimana beliau tinggal. Kajian perubahan nama Nagrak menjadi Ledeng adalah salah satu bagian yang beliau kaji. Proses pembacaannya, melalui wawancara dan observasi dari para sesepuh di sekitar Ledeng. Menurutnya, terjadi perubahan ekosistem dalam ruang lingkup seputar Ledeng, Ledeng adalah salah satu nama daerah di sekitar jalan Setiabudi, kota Bandung. Perubahan tata kelola dan desakan lingkungan perkotaan, mempersempit lingkungan hutan kota dan ekologi mata air, di sekitar Cibadak, daerah sebelah utara Ledeng. Di seputar Cibadak banyak terdapat sumber mata air, yang di masa lalu, menurut Kang Hawe, merupakan salah satu sumber air bagi warga di kota Bandung. Dan terdapat artefak bangunan “Gedong Cai”, yang mana merupakan warisan kolonial sebagai bukti sejarah tentang keberadaan sumber mata air melimpah di daerah Cibadak Ledeng. Namun, keberadaan “Gedong Cai” dan lingkungannya sudah terancam oleh perluasan perkotaan yang terus mengunci perkampungan, ekosistem, mahluk hidup serta kawasan yang seharusnya menjadi kawasan konservasi, saat ini hampir luluh lantak atas dasar kuasa korporasi. Kang Hawe memotret tembok-tembok perumahan dan kawasan korporasi yang mengunci dan menciutkan keberadaan kawasan “Gedong Cai” dan lingkungan sekitarnya. Pemaparannya menggambarkan wacana perubahan lingkungan yang masif cenderung merusak. Pembuktian nilai-nilai sejarah begitu penting untuk melihat dan mendokumentasikan keberadaan suatu peristiwa.

Proses menggali sejarah dari para pemakalah serta merta memberikan pijakan pada tapak yang jelas ketika membawa perjalanan ke masa lalu, jejak-jejak yang ditinggalkan digali sedikit demi sedikit untuk memberikan cahaya di masa kini. Perubahan yang terjadi, adalah ruang komunikasi yang tepat, agar dapat kembali melangkah dengan benar di masa depan. Akan tetapi, sejarah yang terhampar harus memiliki medium yang dapat menyimpan dan mengawetkan semua hasil pencarian. Kertas adalah medium pengawet dan penyimpan hasil pencarian dan tempat perenungan untuk mencari kembali kenangan dari perjalanan yang telah lalu. Renungan Setiawan Sabana dalam berproses melalui kertas, pada akhirnya menjadi kenyataan, dimana kertas akan menjadi kitab bagi para pencari kebenaran. Ketiga para pembicara menjadi penyambung lidah di masa lalu, untuk melihat masa kini dan memandang masa depan. Respon yang sangat jernih, antara gagasan pameran dan realita kehidupan.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi