
Picisan memang, tapi begitulah kehidupan.
“Nulis téh kudu getihan!” begitu kata Hawe Setiawan, yang biasa saya sapa Wa Hawe, setelah menyeruput kopinya saat kami berkumpul di satu meja yang penuh dengan abu rokok berserak di antara dua laptop yang tertutup. Getihan itu berjiwa mungkin, celetuk saya, yang dilanjutkan dengan bahasan seputar Jiwa Kéthok dari Sudjojono dan kisah lukisan ayam yang berkokok ala Popo Iskandar.
Ada dua nama yang sore itu sering disebut-sebut, Amir Hamzah dan Didi Kempot. Keduanya punya kualitas penulisan syair dan lirik yang sepadan. Yang satu dari era pujangga baru dan satu lagi belakangan disebut-sebut sebagai The God Father of Brokenheart. Keduanya merentang waktu yang terbilang panjang dalam sejarah sastra kita. Bisa panjang kita berdebat apakah seorang Didi Kempot ialah penyanyi cum sastrawan, tapi setidak-tidaknya ada beberapa lirik darinya yang mengandung kualitas sastra, selain tentu saja bisa kita nikmati sambil berjoget ringan sembari menggoyang beban kehidupan.
Satu kekasihku, aku manusia, rindu rasa, rindu rupa.
Sepenggal larik pendek dari puisi karya Amir Hamzah berjudul Padamu Jua dalam koleksi Nyanyi Sunyi terbitan Pustaka Rakjat Djakarta tahun 1937. Dalam tuturan bergaya melayu, Amir berkisah tentang kerinduannya pada Sang Khalik dengan bahasa yang nyaris tanpa tedeng aling-aling. Berbagai sifat ketuhanan yang sakral sekaligus profan dibunyikan dengan gaya klasik yang lentik. Sang Pencipta digambarkan serupa sang kekasih yang menanti dalam sunyi, serupa dara di balik tirai, begitu tulis Amir. Sesekali dia juga merindukan sosok-Nya sebagai pencemburu ganas yang siap kapanpun memangsa hidupnya.
Bisa naik tinggi ke langit, lalu cepat turun menghujam bumi, itu tangkapan saya tentang obrolan seputar Amir Hamzah sore itu. Amir membahasakan langit sekaligus menariknya ke bumi tanpa membuat kita merasa asing tentang siapa sesungguhnya Sang Khalik. Ada kerinduan yang konsisten, sekaligus rasa takut bila diri direnggut untuk segera bertemu dengan-Nya. Sesekali dia meninggikan yang memang sakral, tapi tak segan untuk membawanya pada yang profan, agar entah mungkin pembaca atau dirinya bisa langsung merasakan hadirnya Sang Pencipta. Lalu waktu-bukan giliranku, mati hari-bukan kawanku, begitu dirinya memungkas puisi Padamu Jua.
Didi Kempot pun begitu dan lirik Banyu Langit-lah saksinya. “Sempet aku merinding mendengar lagu ini”, kata Wa Hawe yang seorang Sunda. Meski kisahnya hanyalah seputar seseorang yang merindukan pulangnya kekasih pujaan dan serupa klisé kehidupan belaka, tapi kata-kata yang tersambung dengan nada, mampu membuai para pendengarnya yang meski tak sedang patah hati. “Didi Kempot ini bukan cuma tentang lirik dan nada yang meyayat hati, tapi ada pilihan diksi yang luar biasa dalam larik-lariknya”, begitu pungkas Wa Hawe.
Ademe gunung Merapi purbo, melu krungu swaramu ngomongke opo.
Saya yakin yang hafal dengan lagu ini akan membacanya sambil berdendang dalam hati, simak saja dalam sebaris kalimat itu bagaimana suara rindu pun bisa terdengar oleh dinginnya gunung merapi yang sudah gagah berdiri merentang sejak masa purbakala. Ademe gunung Merapi purbo, sing ning Langgran Wonosari Jogjakarta, di larik berikutnya tiba-tiba ada informasi geografis-administratif tentang lokasi gunung Merapi yang ada di daerah Langgran Wonosari Jogjakarta. Entah bagaimana proses kreatifnya, tapi kemampuan mengawinkan kata-kata yang begitu simbolis dengan informasi administratif memberikan gambaran bahwa benar Didi Kempot adalah seorang peramu kata yang luar biasa.
Ketika yang sakral bertemu yang profan, saat konsep yang ndakik-ndakik berhasil didaratkan ke benak para pembaca, maka bisa jadi disitulah sesungguhnya letak kekuatan sastra. Meski ada tuntutan atas tingginya wawasan sang penulis, tapi juga ada keharusan dalamnya pemahaman atas apa-apa yang ingin dibicarakannya, belum lagi kebutuhan untuk bisa peka atas siapa kira-kira yang akan menjadi pembaca ataupun pendengar dari kata-kata yang diawetkannya dalam tulisan.
Kopi kami belum habis sore itu, tapi obrolan seputar Amir Hamzah dan Didi Kempot sudah harus berganti dengan topik-topik lainnya. Saya pun akhirnya harus mengakhiri catatan ringan ini dengan sepenggal kalimat motivasi pada stiker motor yang pernah saya lihat di suatu perempatan lampu merah ketika hujan, “orang bijak adalah yang di kala hujan bukan hanya mengingat kenangan, tapi juga jemuran.” Picisan memang, tapi begitulah kehidupan.



