Imajinasi Lima Sekawan dan BMX Bandit

Jangan-jangan sepeda malah menjadikan kehilangan rasa bahagia dan tertawa, karena terlalu menyiksa diri untuk mengayuh, serta sangat serius untuk sekedar hadir dan tampil di media sosial.

Peristiwa apa yang paling membekas dalam sejarah kehidupan anda, terkait dengan sepeda? Bagi penulis, yang paling tergambar jelas adalah, ketika mengajarkan anak kami belajar naik sepeda.

 

Sepeda roda tiga yang biasanya menemani permainan sehari-hari, tidak lagi cukup untuk ukuran badannya. Sepeda mini dengan roda bantuan penyeimbang, menjadi pengganti. Kebahagiaan terpancar di wajah kecilnya, tertawa-tawa sambil berputar-putar belajar mengayuh pedal sepeda mini di jalan kecil depan rumah kami. Tiba saatnya, si roda penyeimbang dilepas, untuk dapat berlatih sejatinya bersepeda. Timbul keraguan dalam hati si bapak akan kemampuan sang anak, menyeimbangkan sepeda dan mengayuh dengan pasti. Aba-aba dimulai, sang anak bersiap diatas sepeda, bersiap mengayuh, tangan si bapak memegang ujung belakang sadel, agar sepeda tetap seimbang. Kayuhan mulai berputar dan tangan bapak belum lepas dari ujung sadel. Semakin lama kayuhan semakin kencang, si bapak berlari mengikuti kecepatan sepeda. Akhirnya tangan terlepas dari ujung sadel, pesepeda tak sadar kalau sudah tidak dibantu. Pandangan lurus melihat sepeda melaju, kebahagiaan dan tawa lepas si bapak memandang sepeda maju, semakin kencang. Peristiwa yang membekas dalam ingatan, kebahagiaan menjadi seorang bapak.

Sejarah bagi penulis dalam kurun sepuluh dan lima belas tahun ke belakang.

Jauh mundur di masa kecil sepeda juga memberikan inspirasi bagi penulis, lekat dalam ingatan, bacaan dalam cerita lima sekawan yang dikarang oleh Enid Blyton, hampir selalu menjadikan sepeda sebagai bagian dari ceritanya. Julian, Anne, Dick, George dan Timmy anjing kesayangan mereka ikut berpetualang sambil menyajikan nuansa pemandangan dan detil kejadian yang menggambarkan kegembiraan dan misteri dalam satu imajinasi, menarik sekali. Berkali-kali membaca cerita petualangan lima sekawan dalam berbagai judul buku. Dan, sepeda menjadi bagian inspirasi di dalamnya. Biasanya, ketika bersepeda, ada satu peristiwa yang dapat dibayangkan seperti dalam cerita, saking terinpirasi.

Di masa remaja, film BMX Bandits menggugah para pesepeda ikut trend. Jenis BMX, balapan dan kompetisi sepeda BMX tumbuh subur. Asal ada lahan kosong atau tanah belum digarap dibuatlah lintasan balap, hampir setiap minggu kita bisa ikut nonton balapan di seputar kota Bandung. terutama di daerah-daerah perumahan yang setengah jadi. Daerah Cijagra, Margahayu Raya, Buah Batu bahkan di Cigadung seringkali jadi arena lintasan tanah balapan sepeda BMX. Dan, untuk hadir menjadi penonton atau sekedar ikut tampil menjadi pembalap kelas amatir, tentu saja datang dengan dikayuh dari rumah ke lintasan, belum balap dimulai tenaga sudah habis terkuras, yang penting bahagia. Cari sepeda BMX-nya ke jalan Veteran. Bolak balik ke toko, berharap merek sepeda yang diinginkan, apa daya tabungan tidak kunjung sampai, minta ke orang tua, tentu saja ditolak habis-habisan, lagipula, untuk apa beli sepeda baru, kalau yang lama masih bisa dipakai. Tak kuasa juga bilang, kalau sepeda yang diinginkan untuk ikut balapan.

Lima belas tahun terakhir bersepeda menjadi kegiatan yang hampir rutin, dinamikanya turun naik, apabila sedang dalam kondisi rajin, dalam satu minggu, hampir tiga sampai empat kali gowes, kalau sudah “kedul” (baca: malas), sepeda hanya teronggok di sudut rumah. Alasan pertama ketika kembali bersepeda di masa umur menengah adalah kesehatan, belakangan banyak juga kawan yang turut hadir, bersepeda jadi kegiatan kelompok dan banyak berkunjung ke berbagai tempat, bacaan lima sekawan tentang berpetualang, kembali hadir sebagai ingatan, hanya cerita misterinya yang tidak turut serta.

Akhir-akhir ini banyak acara bersepeda setara dengan kompetisi, dalam ukuran waktu dan jarak tertentu. Pesepeda dimotivasi untuk mengeluarkan segala kemampuan dan kabisa agar mencapai standar yang telah ditentukan. Hadiahnya, bisa nampang di media sosial kalau kita sudah melakukan pencapaian tersebut. Upaya teknologi, seiring dengan meningkatkan stamina, efisiensi serta efektifitas dalam bersepeda supaya kemampuan terus meningkat, berseliweran dalam obrolan maupun di linimasa. Seru memang, agar pesepeda selalu tergerak untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Tapi, kesenangannya apakah masih setara dengan kebahagiaan ketika sepeda masih menjadi alat silaturahmi dan menjalin hubungan anak-bapak. Jangan-jangan sepeda malah menjadikan kehilangan rasa bahagia dan tertawa, karena terlalu menyiksa diri untuk mengayuh, serta sangat serius untuk sekedar hadir dan tampil di media sosial.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi