Aki! Aki! Jasamu Abadi

 

Di masa produktifnya, Aki bergiat di lapangan politik tapi bukan dari golongan tengik.

 

Kami mengantar Aki Ipin (alm. Arifin Supriatna) ke sebuah punggung bukit di Cikutra tepat pada Hari Pahlawan, 10 November 2021. Malam sebelumnya, 9 November, Aki mangkat dalam usia 72 tahun di Rumah Sakit Advent, Bandung.

Teduh di bawah cecabang pohon nangka dan pepohonan lainnya, berkumpul kelimun yang mencintai dan menghormati almarhum. Mereka yang mengelilingi pusara terutama datang dari dua lingkungan keluarga, yakni keluarga batih dan keluarga besar Wanadri, organisasi penempuh rimba dan pendaki gunung dari Bandung. Almarhum adalah anggota Wanadri dari angkatan Tapak Rimba (1971).

Anak, menantu, dan cucu memanjatkan doa seraya berurai air mata. Para rimbawan yang gagah berani, pandu tua maupun muda, dalam pakaian kebesaran mereka, memekikkan salam komando tanda penghormatan terakhir bagi dia yang baru saja pergi, menyusul istrinya tercinta, Winny Sudariati (1950-2007).

Beberapa langkah dari liang lahat, sambil duduk di tepian sebuah pusara, saya turut menyaksikan prosesi itu. Ada lontong, gorengan, dan roti dalam kotak kardus yang saya bawa dari rumah duka di Kebonwaru. Pagi itu memang saya tak sempat sarapan, kurang semangat menyantap makanan. Semalaman saya kurang tidur pula, mengingat-ingat almarhum sambil corat-coret menggambar sekenanya di atas selembar kertas. Adegan upacara penguburan seperti bagian dari rangkaian gambar di benak saya. Namun “gambar” yang satu ini bukan gambar rekaan, melainkan gambar yang hadir sendiri dan tak bisa disiasati.

Sehari sebelumnya, petang menjelang magrib, saya masih duduk-duduk di Kedai Janté, di lantai pertama gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, di Jalan Garut 2, Bandung. Hujan deras betul, cipratannya memukul-mukul dinding kaca.

“Mas, aku koq kangen sama Aki Ipin, ya,” ujar saya kepada Mas Satria “Cebi”, barista kami, satu-satunya teman ngobrol petang itu.

“Masih belum sadarkan diri ya, Wa?” tukasnya.

“Sepertinya begitu. Kabarnya, masih di rumah sakit. Kita belum sempat nengok, lho.”

Seusai salat magrib, saya mengenakan jas hujan, siap-siap menggenjot motor tua kesayangan. Tiba-tiba ponsel berdering. Panggilan WA dari Mang Ayi (Tata Kartasudjana), sohib saya dari Unpas juga anggota Wanadri.

“Wa, Aki Ipin parantos teu aya. Nembé,” ujarnya singkat.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.”

Dari Mang Ayi pula saya mulai kenal Aki Ipin. Sapaan “aki” (kakek) kami pilih agar dicontoh oleh anak-anak kami. Tempat ketemuan andalan, sudah pasti, kedai kopi Mas Bayu Wijanarko di Los Pasar Cihapit. Kopinya kopi tubruk, diseduh dengan air mendidih yang baru diangkat dari tungku, menebarkan wangi ke sekitar. Sekian teguk, sekian lamanya duduk, dan obrolan niscaya berkembang ke sana ke mari. Di situlah biasanya kami berkumpul dan berbincang dalam pusaran aura Ma Éha, godmother warung nasi yang tahan uji.

Dalam pergaulan saya dengan Aki Ipin, yang belum lama sesungguhnya, terbentuk sejumlah irisan yang menakjubkan. Tidak sedikit orang yang saya kenal baik, ternyata teman Aki Ipin juga. Untuk beberapa orang di antaranya, almarhum jadi katalisator reuni. Lama saya tidak bertemu dengan mereka. Lewat Aki Ipin, kami bersua lagi.

Buat saya, Aki Ipin juga salah seorang narasumber sejarah Bandung. Ia toh orang Bandung tulen, lahir 17 Juni 1949. Nama aslinya adalah Zaenal Arifin, tapi kemudian ia lebih suka menuliskan namanya Arifin Supriatna — dan memang jadi terdengar nyunda. Sayang sekali, dalam rapor sekolahnya nilai bahasa Sunda Aki buruk sekali, dan itulah salah satu pangkal olok-olok di sela-sela obrolan kami di warung kopi. Aki akan mesem-mesem saja, sedang saya niscaya terbahak-bahak jadinya.

Patut dicatat, dalam tulisan almarhum tentang asal-usul nama “Wanadri”, ia memetik keterangan dari buku Padalangan, karya salah satu tonggak sejarah sastra Sunda, Mas Ace Salmun. Buku itu termasuk buku pegangan saya juga. Itulah yang membuat saya senang sekaligus meragukan nilai rapor tadi. Nilai bahasa Sunda Aki mestinya baik sekali dong.

Di masa produktifnya, Aki bergiat di lapangan politik tapi bukan dari golongan tengik. Ia tidak hidup bermewah-mewahan, sikut kiri dan kanan, di lingkungan para pembesar atau para pencari jabatan. Tidak sama sekali. Ia tak suka basa-basi. Humornya kadang nyelekit. Sikapnya tegas tapi tidak kaku. Ia lentur menyatu dengan berbagai kalangan, piawai menyambungkan jejaring kepentingan dan persahabatan. Ia punya karakter.

Di hari tuanya, sebagaimana lazimnya, tubuh Aki Ipin tampak ringkih. Namun, saya kira, orang seperti almarhum tidak suka terlihat lemah. Ia bahkan membuktikan bahwa dirinya masih kuat bersepeda. Sekali pernah ia bersepeda ke rumah saya di Negla, di belahan utara Bandung. Sepedanya memang sepeda listrik tapi menurut saya perangkat itu terbilang berat juga buat orang seusia almarhum. Karena hari sudah larut malam, dan ia tidak berniat menginap, saya usul untuk mengantarkannya pulang dengan kendaraan bermotor. Ia tidak menggubrisnya, dan dengan gagahnya pulang malam naik sepeda. Diam-diam, saya kagum juga.

Bukan hanya saya yang jadi sedih sendiri begitu mendengar kabar kepergian Aki. Anak-anak dan istri saya juga. Aki tahu bahwa istri saya menanak nasi dengan cara tradisional: prosesnya dua tahap, dan nasi yang baru diangkat dari tungku akan diakeul dulu hingga pulen. Konon, itulah cara yang jitu buat mengurangi kadar gula. Dan itulah sebabnya ketika Aki berkunjung ke rumah kami, ia senang sekali kami ajak makan “sangu akeul”.

“Hayang sangu akeul deui, euy,” ujar Aki Ipin ketika terakhir kami bertemu di Cihapit.

“Mangga, Ki. Diantos,” tukas saya.

Sepulang dari Cikutra, saya masih membayangkan Aki Ipin akan berkunjung lagi ke rumah kami, naik sepeda putih, mengenakan topi Wanadri. Dan kami, seperti biasa, akan membuka lebar-lebar pintu paviliun yang langsung terhubung dengan dapur tempat kami menanak nasi.

 

Kémon, Ki.***
 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi