Desain adalah Duka

 

Pesta “Bandung Design Biennale” di “Laswee” adalah duka bagi ibu warung dan saya.

Semenjak gonjang ganjing pandemi, dan kegiatan regular kampus terkendala, Jalan Garut no. 2, menjadi tempat persinggahan utama saya, di perpustakaan Ajip Rosidi, tepatnya di Kedai Jante. Salah satu tempat seputar kompleks perpustakaan, lantai paling bawah, posisinya sebelah kiri kalau dari pintu masuk. Seringkali kami bertemu sekedar membicarakan apa saja di Kedai. Banyak orang datang dan berbincang banyak hal, dari mulai urusan menulis buku, komunitas baca, pameran buku, diskusi puisi, proses kegiatan seniman berkesenian, bahkan latihan silat, apapun, yang menarik menjadi bahan diskusi, yang tidak menarik pun ada alasan untuk diperbincangkan.

 

Acapkali saya ajak mahasiswa dalam kelompok kecil diajak bertemu di kedai, menambal kegiatan daring yang kurang, atau meluruskan tema kuliah yang kurang pas. Sekalian juga memperkenalkan suasana perpustakaan yang sesungguhnya dan ajakan membaca bagi teman-teman mahasiswa. Beberapa dari mereka, ada juga yang mau mampir ke lantai atas untuk mencari pengetahuan, lumayan, bisa sekaligus menularkan minat baca.

Di seberang kedai ada sebentuk bangunan milik instansi pemerintah, di bagian depannya dulu disewakan pada institusi kampus. Dan saat ini kampus tersebut pindah ke lantai tiga di gedung perpustakaan Ajip Rosidi, mungkin masa sewanya sudah berakhir. Tepat sebelah pinggir gedung instansi pemerintah, ada warung nasi dan tempat fotokopi. Warungnya bersih dan makanannya lezat bagi lidah saya, yang paling penting harganya moderat. Makan dengan nasi gepuk daging ditambah satu macam sayur, tidak menghabiskan selembar dua puluh ribuan. Aman! Biasanya ibu warung selalu ditemani bapak dan satu orang anak. Ketiganya ramah pada pelanggan, sambil menghabiskan makanan seringkali membuka obrolan, apapun, tradisi orang Bandung eta mah.

 

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kabar bapak warung meninggal, ibu jadi jarang datang ke warung, posisinya digantikan anak laki-lakinya. Rasa makanan sih, tidak berubah, hanya jenisnya yang berkurang, tapi tidak apalah, toh jarang juga saya memilih semua makanan yang dihidangkan.

Suatu kali saya makan disana, sekalian bertanya, “kamana ibu, Kang?”, jawabnya, “ibu selalu sedih kalau datang ke warung, teringat bapak”. Sedemikian sayang ibu pada bapak.

Bandung selalu unik dan menarik soal makanan, manusia dari berbagai penjuru rela bermacet-macetan, sekedar memenuhi hasrat perut. Saya, selalu terkagum-kagum oleh Sjarif Amin, ketika menulis tentang bagian makanan dan suasana makan, dalam buku “Keur Kuring Di Bandung”, Sjarif Amin, detil sekali menceritakan apa yang dimakan dan dihidangkan, sampai saya dapat membayangkan kenikmatan yang sama. Saya tidak pernah bosan membaca bukunya. Mungkin juga, larut dalam kenangan. Bicara Bandung memang tempat berkumpul dan mengisi kekosongan usus.

Menilik sejarah, Bandung tidak akan memiliki cerita apabila tidak ada campur tangan para kolonial yang hidup di seputar kota. Para pekebun teh dan kopi tentu saja memiliki andil dalam membangun, pada akhir abad sembilan belas dan awal abad dua puluh. Keberhasilan mereka menjadi juragan teh dan kopi, membuat kota Bandung menjadi semacam tempat para kolonialis untuk berasyik-asyik melepas lelah. Tempat dansa-dansi di “Societeit Concordia”, mau restoran ala Eropa ada “Maison Bogerijen”, balap kuda di Tegalega, atau tempat pacuan Arcamanik tempat para sosialita kolonis kongkow, adu keberhasilan dan pencapaian.

 

Wujud Bandung? intisari Eropa di Hindia Belanda. Pribuminya kemana? Menurut Sjarif Amin, ada pada dunia yang berbeda, makan sate Mang Api di pinggir sungai Cikapundung dan Oncom Milo di Balong Gede. Jogednya? Ketuk Tilu. Jangan lupa, Bandung juga punya “Technische Hoogeschool Te Bandoeng” dan peneropongan bintang “Bosscha” atas kiprah para filantropi.

Lalu, bagaimana kisah bangunan di bandung yang milik pemerintah dan dekat dengan Perpustakaan Ajip Rosidi yang ada di awal cerita ini tadi? Ya, bangunan tersebut dibongkar. Kabar cerita mau dipakai tempat berkumpul model kekinian, terlihat banyak pegawai bekerja. Bentuk dan gayanya sudah kentara model industrial, katanya akan ada tempat ngopi dan makanan-makanan versi zaman sekarang. Untuk pemuda dan pemudi melepas lelah dan bergembira ria. Namanya “Laswee”.

 

Jadi, bagaimana nasib warung ibu di bangunan itu? Minggu lalu saya berniat makan ke warung ibu, apa daya bangunan warung nasinya sudah rata dengan tanah. Kami cari warung nasi lain, jaraknya tidak terlampau jauh. Istri saya sempat bertemu anak ibu, katanya, sekarang sedang mencari tempat jualan, terpaksa pindah, karena tidak ada tempat di “Laswee”.

Di “Laswee” itu akan diadakan cara yang hingar bingarnya sampai juga ke kuping, tajuknya “Bandung Design Biennale”. Acara berkumpulnya para perancang dan masyarakat yang memiliki gairah pada rancang-merancang. Sementara, lahan yang tadinya ibu warung berjualan, sekarang harus menggapai-gapai mencari tempat dagang. Desain pada kiprahnya adalah membangun kemaslahatan bagi masyarakat dan bertanggung jawab bagi sesama. Pesta “Bandung Design Biennale” di “Laswee” adalah duka bagi ibu warung dan saya.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi