Naik, Naik ke Gunung Padang

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

Naik ke Gunung Padang, di manapun ia berada, barangkali akan menyerupai perjalanan para peziarah.

Dalam bahasa Sunda kata padang berarti terang dan terbuka. Kata ini juga lazim dipakai buat mempertegas arti kata caang (terang), misalnya dalam ungkapan ”caang padang narawangan” (terang benderang sejauh mata memandang). Dalam bahasa Kawi istilah padang berarti keterangan atau kejelasan, sedangkan istilah apadang berarti terang atau jelas.

Di Jawa Barat ada beberapa tempat yang disebut Gunung Padang, antara lain di Ciamis, Bandung (Ciwidey), dan Cianjur.

Di Ciwidey gunung tersebut memperlihatkan batu-batu sebesar gajah. Pernah saya naik ke sana, sekian tahun silam. Di beberapa sudutnya terlihat orang sedang bertapa atau melaksanakan nazar atau kegiatan sejenisnya. Dari puncaknya dapat saya lihat cakrawala Bandung dan sekitarnya.

Dr. Stephanus Djunatan, dosen Universitas Katolik Parahyangan, menjadikan Gunung Padang di Ciwidey sebagai salah satu rujukan bagi disertasinya di bidang filsafat yang dipertahankan di Universitas Erasmus, Rotterdam. Dalam disertasi berjudul, “The Principle of Affirmation” (2010) itu, Gunung Padang di Ciwidey disebut “sufic shrine”.

“Kabuyutan ini terbentuk secara alamiah dari formasi batuan beku yang di atasnya orang memproyeksikan penafsiran khusus (The shrine consists of the natural formation of igneous rocks upon which humans have projected their specific interpretation),” urai Djunatan.

Dalam kisah Bujangga Manik ada bagian yang menceritakan sang rahib kelana duduk di atas puncak gunung seraya menebarkan pandang ke seantero dunia.

Gunung Padang di Cianjur terdokumentasikan antara lain dalam buku karya RDM Verbeek, Oudheden van Java “Peninggalan Purbakala di Jawa” (1891). Dia mencatat bahwa Gunung Padang terletak di distrik Paser, wilayah Cianjur. Dalam catatannya dia memberikan:

“Di puncak Gunung Padang, dekat Gunung Melati, ada rangkaian 4 teras, yang dihubungkan oleh undakan-undakan dari batu kasar, dengan lantai dari batuan rata, dan [ditempati] banyak ornate batu andesit vertikal yang runcing dan berbentuk tiang. Pada setiap tetas ada bukit kecil, yang tampaknya merupakan tempat kubur, yang terbuat dari batu juga ditutupi batu, dan dari atas ditandai dengan dua batu runcing. Pada 1890 dikunjungi oleh Tuan De Corte.”

Catatan Verbeek dipetik dalam laporan N.J. Krom yang terbit pada 1915 dengan judul, Rapporten van Oudheden Dienst in Nederlandsch-Indië 1914: Inventaris der Hindoe-oudheden “Laporan Jawatan Purbakala di Hindia Belanda 1914: Invertarisasi Peninggalan Hindu”.

Beberapa kali saya berkunjung ke Gunung Padang di Cianjur. Seingat saya, inisiatifnya berasal dari sejumlah teman.

Pada zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gunung Padang di Cianjur menjadi perhatian orang banyak sehubungan dengan adanya kegiatan penggalian oleh sebuah tim. Beberapa pemuda Cianjur sempat ditahan oleh polisi sehubungan dengan protes mereka atas kegiatan gali-menggali di tempat suci.

Sebutan Gunung Padang kita temukan antara lain dalam teks cerita Ciung Wanara yang disunting oleh C.M. Pleyte. Cerita ini mengisahkan kerajaan Galih Pakuan dengan rajanya Sang Permana di Kusumah yang beristri dua: Pohaci Naganingrum (istri pertama) dan Dewi Pangrenyep (istri kedua). Dalam cerita ini Gunung Padang adalah tempat pandita dan tempat bertapa.

Raja Permana di Kusumah bersemedi lalu lenyap dari keraton, bersalin raga jadi sosok Pandita Ajar Sukaresa, bertapa di Gunung Padang. Sementara kerajaan Galih Pakuan dipegang untuk oleh Sang Mantri Anom sebagai “ratu panyelang”. Sepeninggal Sang Permana di Kusumah, kedua wanita tadi hamil lantas melahirkan anak laki-laki. Maka tergelarlah kisah tentang Aria Banga dan Ciung Wanara.

Naik ke Gunung Padang, di manapun ia berada, barangkali akan menyerupai perjalanan para peziarah.***

(Catatan ini dibuat sebagai salah satu pengantar perjalanan Geotrek Matabumi ke Gunung Padang Cianjur, 30 Oktober 2021)

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi