
“telaga dikisahkan angsa, gajah mengisahkan hutan, ikan mengisahkan laut, bunga dikisahkan kumbang.”
Tokoh cerita bernama Rumour kita kenal dari The Aeneid, puisi epik yang termasyhur karya Virgil (Publius Vergilius Maro) dari tahun 19 SM. Ia adalah putri Ibu Bumi, saudari para gergasi, yang suka menyebarluaskan desas-desus atau kabar-kabur ke sana sini.
Dalam mahakarya yang dipilah ke dalam 12 bagian itu tokoh yang satu ini tiba-tiba muncul dalam Buku IV. Rincian karakterisasinya memperlihatkan “monster mengerikan” (a terrifying monster). Ia bisa melesat begitu cepat dengan kaki dan sayapnya. Lidah, mulut, dan telinganya tidak terbilang. Kekuatannya bertambah besar seiring geraknya dari satu ke lain tempat, dari waktu ke waktu. Kata sang pujangga, tiada wabah yang geraknya melebihi Rumour (no plague moves more quickly).
“Kini dengan senangnya ia mempengaruhi banyak lidah/untuk menyebarluaskan kepada orang banyak…/cerita-cerita yang benar salahnya campur aduk (Now her delight was through many tongues/to spread among the people …/stories both true and false without distinction),” tulis Virgil.
Gara-gara gosip dari Rumour, hubungan cinta kasih antara Dido dan Aeneas, sang pahlawan dari kota yang terbakar itu, jadi retak. Yang terhasut meliputi banyak pihak, khususnya Raja Iarbas yang permohonannya mempengaruhi para dewa di Olympus. Titah para dewa menimbulkan duka cita. Bahkan akhirnya Dido Sang Ratu nekad mengakhiri hidupnya di reruncing pedang.
Dengan itu, kita mendapat gambaran mengenai karakteristik desas-desus, yang seringkali jadi hasutan di dalam kontestasi politik dengan dampak buruk yang sangat mematikan.
Pemengaruh dan Korbannya
Lebih dekat kepada kita, dari sejarah sastra Indonesia, ada pula tokoh cerita yang tak kalah menariknya. Dialah Ajo Sidi, “si pembual” dalam cerita pendek terkenal karya mendiang A.A. Navis, “Robohnya Surau Kami”.
Dalam cerita dari tahun 1955 itu tokoh Kakek yang sepanjang hidupnya berhikmat di sebuah surau akhirnya nekad bunuh diri dengan sebilah pisau. Pangkal soalnya adalah bualan Ajo Sidi yang telah menggoyahkan iman orang saleh nan bersahaja itu. Konon, orang-orang yang mencurahkan hidupnya untuk beribadah akhirnya masuk neraka karena mereka tidak sempat berikhtiar memperbaiki kehidupan masyarakat.
Salah satu hal yang menarik buat saya di sini adalah keterangan tokoh “aku”, narator dalam satire itu, yang menyiratkan kebiasaan di sebuah lingkungan budaya untuk menikmati bualan. Terlepas dari keprihatinan sang narator terhadap penderitaan Kakek dan terlepas dari kejengkelannya terhadap Ajo Sidi, dia mengakui kesenangannya menyimak cerita-cerita “si pembual”.
“Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pemeo akhirnya,” tutur sang narator.
Sosok seperti Ajo Sidi tak ubahnya dengan para pemengaruh (influencer) hari ini. Perannya sangat penting sebagai rujukan informasi, sikap, dan pandangan orang banyak. Tanpa simpati kemanusiaan, produksi narasi dari kalangan pemengaruh bisa menimbulkan dampak buruk yang tidak kalah mematikannya.
Etika dalam Komunikasi
Di lingkungan bahasa ibu saya, ada beberapa istilah yang kandungan artinya berdekatan dengan rumor, dusta, bualan, hoaks, dsb. Selain mengenal kata bohong, sebagaimana bahasa Indonesia, bahasa Sunda mengenal pula kata wadul, rahul, dan bustam.
Secara harfiah, wadul berarti “banyak bohongnya”, setali tiga uang dengan bualan. Rahul lebih kurang berarti “omong besar buat berlagak”, semacam kecenderungan melebih-lebihkan sesuatu yang diceritakan. Adapun bustam sedikit banyak berarti “berbohong secara keterlaluan”.
Bagaimana istilah-istilah itu bisa dikenal di lingkungan budaya kalau tidak ada dasar pengalaman kolektif yang menopangnya? Saya belum menemukan datanya. Yang pasti, istilah-istilah yang saya sebutkan tadi, dalam tata pergaulan umum sehari-hari, bernilai negatif, dalam arti bertentangan dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam pembentukan kepribadian.
Dulu setiap anak yang baru lahir biasanya dibisiki oleh dukun beranak, antara lain “ulah saomong-omongna lamun lain omongeunana; ulang sadéngé-déngéna lamun lain déngéeunana”. Secara harfiah, itu berarti “janganlah mempercakapkan sesuatu yang bukan bagianmu, janganlah mendengar sesuatu yang bukan untukmu”.
Dari manuskrip Sunda abad ke-16, Sanghyang Siksakandang Karesian, ada pula baris-baris yang sangat bagus mencerminkan kearifan dalam komunikasi. Berdasarkan terjemahan filolog almarhum Aca dan Saleh Danasasmita, bunyinya begini: “telaga dikisahkan angsa, gajah mengisahkan hutan, ikan mengisahkan laut, bunga dikisahkan kumbang.”
Dengan kata lain, ada kesadaran untuk berhati-hati dalam komunikasi. Disadari bahwa untuk memproduksi dan mengkonsumsi pesan komunikasi, orang patut memperdulikan peran, kedudukan, dan tanggung jawabnya dalam tata kehidupan. Selain itu disadari pula bahwa setiap informasi dan pengetahuan patut ditelusuri melalui sumbernya yang tepat.
Infodemi seakan punya akar tradisinya sendiri. Syukurlah, di berbagai lingkungan budaya Nusantara, sesungguhnya tersedia gugusan nilai yang dapat diaktualkan kembali bagi ikhtiar kolektif untuk menangkal dusta dan dampak destruktifnya.***



