
Belum pernah saya melihat orang mati lebih tenang daripada pemikir besar ini, idealis yang teguh, pemuja Schopenhauer dan Will yang pantang menyerah di tengah alam, pengagum pemikiran Kant tentang “noumen” dan “foenoumen”, realitas yang tak terlihat dan dunia imajiner yang tampak.
Saya bertemu dengannya untuk pertama kali pada bulan Juni 1859. Waktu itu selama lebih kurang sepuluh bulan saya mempelajari penyakit tropis di Rumah Sakit Militer Pusat di Weltevreden (Batavia). Sebelum menjadi dokter profesional di situ, saya melakukan perjalanan ke Priangan, yang lebih dikenal dengan sebutan Preanger. Di situ saya tinggal selama tiga bulan.
Perjalanan ini membawa saya ke Bandung untuk bekerja sebagai dokter. Selama berada di situ saya pun menjadi dokter pribadi bagi keluarga Junghuhn di Lembang. Dari hubungan akrab antara saya dan keluarga ini pada tahun-tahun berikutnya, saya mendapatkan banyak bahan untuk publikasi buku pertama saya: Lembaran Buku Harian Seorang Dokter di Hindia (Groningen, JB Wolters). Di situ saya menggambarkan hubungan Junghuhn dengan budidaya kina rintisannya, juga banyak menggambarkan perjalanan pertama saya mendaki gunung di negeri yang indah itu.
Di lingkungan kecil tempat kami bergaul, teman-teman dari Lembang memberi saya banyak hal. Hubungan akrab yang tanpa disadari mempersatukan orang per orang di sana telah melipatgandakan simpati saya kepada mereka. Saya sangat menghargai pandangan dan tindakan Junghuhn dalam kehidupan pribadinya dalam sebuah episode tatkala hubungan kami dapat melewati ujian serius.
Pada tahun 1860 Dr. Duncan Mac Pherson, Inspektur Jenderal Rumah Sakit Hindia Inggris, bersama Kolonel Yule, sarjana terkemuka, melawat ke Jawa untuk mengunjungi perintis dan pengarah budidaya kina. Mereka ingin mempelajari program budidaya tersebut, dan berniat membawa konsepnya dari Jawa ke Darjeeling di pegunungan Himalaya. Junghuhn tidak bisa berbahasa Inggris dan Mac Pherson kurang atau tidak bisa berbahasa Jerman atau Belanda. Itu sebabnya Junghuhn meminta saya untuk menemani kedua sarjana Inggris tersebut ke perkebunan kina di Gunung Tangkubanparahu, lalu meninjau kawah-kawah gunung api yang kepulan asapnya tiada henti.
Dari keakraban selama naik gunung, Dr. Mac Pherson bertanya kepada saya, apakah saya bersedia bekerja untuk Hindia Inggris dengan membawa kina ke Hindia Inggris dan memperkenalkan budidayanya di sana. Ajakan tersebut membuat saya sangat tersanjung, bahkan menjanjikan peningkatan posisi saya sedemikian rupa, tapi kemudian tidak terlaksana. Namun, hal itu memberi Junghuhn peluang untuk mengajukan permohonan kepada pemerintah agar menunjuk saya sebagai inspektur budidaya kina. Dengan arahannya, saya dapat mempersiapkan diri untuk menggantikan dirinya dalam kegiatan budidaya di kemudian hari. Karena ada teknisi dari laboratorium kimia di Bogor, yang telah ditutup, Jawatan Dalam Negeri menunjuk pegawai tersebut sebagai inspektur, sehingga usulan yang menyangkut diri saya mau tidak mau kandas pula. Banyak intrik yang berperan dalam rangkaian peristiwa ini, tetapi Junghuhn mengajukan permohonannya secara leluasa dan dia sangat dihargai oleh pemerintah pusat. Hal itu terlihat jelas ketika di tengah persaingan dia menghadap Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele di Bandung, yang menerimanya dengan sangat hormat di hadapan musuh-musuhnya.
Lama saya bergaul dengan sang pemikir besar itu dan bersimpati pada dirinya beserta karya-karyanya. Itu sebabnya saya memperoleh dan menikmati kepercayaan darinya. Kemudian, pada musim barat tahun 1863-1864, Dr. Anderson, direktur kebun raya di Calcutta datang ke Jawa untuk memboyong benih dan tanaman kina dari sana ke Darjeeling. Junghuhn menemaninya ke perkebunan kina di pegunungan selatan Bandung. Di sana Junghuhn terkena penyakit disentri yang parah, sehingga dia terpaksa pulang dan memanggil saya ke Lembang.
Dia pernah terjangkit penyakit seperti itu sewaktu dia masih bekerja di wilayah Batak di Sumatra. Dengan mengandalkan morfin, obat yang lazim saat itu tetapi caranya tidak tepat, penyakitnya tidak bisa cepat mereda, sehingga dia mesti cuti ke Belanda.
Demikian pula halnya kali ini. Dr. Anderson berniat memberinya opium, tapi Junghuhn ingin berkonsultasi dulu dengan saya sebagai dokternya. Dan saya melarang semua narkotika dan memberikan ekstrak tanin, yang seperti yang diyakini oleh Junghuhn sendiri, lebih cepat mengatasi disentri dibandingkan dengan obat sebelumnya. Namun, apa yang kami ketahui tentang penyakit ini, yang dulu jauh lebih umum ketimbang sekarang? Saat itu kami tidak tahu apa-apa tentang disentri ameba atau basil. Saya hanya dapat menyimpulkan dari gejalanya bahwa penyakit itu disebabkan oleh ameba.
Pertimbangan itu tidak mempengaruhi caranya menangani pasien; dia hanya berupaya mengurangi sekresi usus melalui anestesi dengan morfin atau opium. Saya hanya tahu seorang petugas kesehatan, Foreman, yang kemudian terbunuh di Padang, yang menolak pembiusan sebagaimana halnya saya. Dr. Anderson menghargai terapi saya, kemudian menulis dari Calcutta bahwa di sana dia pun menemukan cara serupa. Namun, pada musim barat tahun 1863-1864 Junghuhn mulai menderita radang hati. Dia sendiri menganggapnya rematik, yang tidak dia konsultasikan kepada saya. Sekian lama kemudian dia ingin mencoba terapi dengan iklim Sumedang yang hangat. Saat itulah saya dapat meyakinkan dia bahwa penyakitnya memang benar peradangan hati, meski barangkali tidak diawali dengan abses. Dia tunduk pada perawatan saya, yang terutama menekankan diet yang tepat. Hasilnya begitu rupa sehingga dia pikir dia sudah sembuh dan saya tidak perlu mengunjunginya lagi.
Namun, setelah beberapa hari, saya dipanggil lagi ke Lembang dan mendapati keadaan pasien yang satu ini jauh lebih buruk. Saya pikir, tak pelak lagi ada abses di lobus atas hatinya. Bagaimana pula jadinya?
Junghuhn yakin dirinya bakal sembuh dan tidak lagi percaya pada diagnosis saya. Dia ingin “bereksperimen” supaya bisa kembali ke dalam cara hidupnya yang biasa. Bahkan dia telah mengosongkan sekaleng “pâté de foie gras” di siang hari dan setengah botol madera “bagus” di malam hari.
Absesnya segera bertambah besar, tapi sang pasien tidak dapat diboyong ke manapun tanpa suntikan atau operasi yang lebih drastis. Saya tidak berani melakukannya sendiri. Batavia mesti ditempuh dalam dua hari perjalanan. Sang pasien sudah tidak bisa diangkut lagi.
Lantas abses di paru-paru kanannya pecah, dan dia lambat-laun terbatuk-batuk. Kemudian nanah lain berkembang di dada kanannya, yang membengkak seperti payudara. Saya bisa saja membukanya jika pasien yang sangat lemah itu mau dioperasi. Itulah kesempatan terakhir untuk penyelamatan dan pemulihan. Namun, Junghuhn tidak bisa dibujuk. Dia hanya mengizinkan saya untuk memberinya sebuah lancet supaya dia bisa mencoba menyuntik sendiri, tapi itu tidak terjadi. Dia wafat beberapa hari kemudian, pada tanggal 24 April 1864, tak lama setelah dia meminta saya, “mein lieber Groneman”, untuk membukakan jendela ruang kerjanya, tempat dia terbaring. Dia minta jendela itu dibuka lebar-lebar, sehingga dia bisa sekali lagi melihat gunung dan hutan yang dicintainya, dan menghirup udara pegunungan yang murni (tersiram gerimis). Belum pernah saya melihat orang mati lebih tenang daripada pemikir besar ini, idealis yang teguh, pemuja Schopenhauer dan Will yang pantang menyerah di tengah alam, pegagum pemikiran Kant tentang “noumen” dan “foenoumen”, realitas yang tak terlihat, dan dunia imajiner yang tampak.
Kami mengebumikan Junghuhn di Lembang, tidak jauh dari rumahnya, di tempat yang telah dia pilih sendiri. Atas nama istrinya, dengan persetujuan Henri Rochussen, suami adik istri almarhum, saya mendirikan sebuah obelisk di atas tanah. Di bagian depannya terdapat patung marmer almarhum, yang dibuat oleh konsul jenderal Prancis de Codrika, seorang pematung terampil, berdasarkan gambar kepala almarhum rancangan Rochussen. Namun, gambar ini luput dari tangkapan fotografer Kinsbergen.
Akhirnya, sekelumit kenangan. Junghuhn berlatih fotografi buat menghimpun gambar menarik untuk karya selanjutnya. Saat itu pelat kering belum dikenal, tetapi apa yang masih saya miliki dari hasil-hasil kerjanya masih tajam dan kuat, seolah-olah foto-foto itu baru diambil kemarin; misalnya, gambar-gambar yang terdapat dalam Buku Peringatan mengenai Candi Bima dan Candi Parikesit di Pegunungan Dieng yang diambilnya di sana di hadapan Gubernur Jenderal Sloet.
Ketika mencoba cara lain, dia duduk di depan lensa kameranya, kemudian dia buka penutup kamera dengan seutas tali. Jadilah sebuah potret pemikir besar dalam setelan kerjanya. Potret ini sekarang bisa saya serahkan untuk dimasukkan ke dalam Buku Kenang-kenangan. Tidak ada potret yang lebih baik dan lebih ekspresif dari itu.
Saya tidak mau mengambil risiko dengan mengadakan perjalanan pos ke Belanda sambil membawa beberapa sketsa cat air dan kenangan lain tentang dia.
Ketika Gubernur Jenderal Sloet mengunjungi laboratorium Junghuhn, dia tertarik oleh enam kata yang tertulis di dinding: “amicus Plato, sed magis amica veritas”. Lantas dia mengambil pensil dan menambahkan kata-kata yang terlupakan oleh Junghuhn: “amicus Socrates” di antara kedua frasa itu. Itulah tanda pengakuan dan persetujuan yang bersahaja.***
Yogyakarta
[Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan dari Gedenkboek Franz Junghuhn 1809-1909 (Martinus Nijhoff, 1910) suntingan Komite Junghuhn, hal. 291-296]



