
Bukan hanya persoalan air. Tapi, jauh lebih daripada itu, menjaga manusia tidak akan mencoba memakan sesama.
Suatu tempat tak jauh dari pusat kota masih dalam kawasan kotamadya Bandung, di daerah atas. Tepatnya, anda tinggal menyusuri jalan Sersan Surip di daerah Ledeng sampai habis jalan besar, ada suguhan jalan menurun tajam menanti. Untuk pejalan kaki disediakan tangga semen, bagi pengendara motor, harus menuruni jalan dengan keahlian dan keberanian tinggi, kalau anda tidak ingin terjerembab dan jatuh menggelinding, sebaliknya, apabila jalan dari bawah, mesin motor akan menjerit, tanda kendaraan roda dua dipaksa menanjak curam. Turunan tuntas, tanjakan lagi menjadi hidangan, bagi yang tidak terbiasa olahraga, tanjakan dan turunan ini cukup menguras tenaga.
Sehabis tanjakan terakhir, tinggal jalan tanah. Kejutan-kejutan mulai tampak di muka. Akan terasa seakan kita berada tempat lain, di tengah hutan. Berjalan tidak sedikit jauh akan kita temukan beberapa mata air, menetes dari sela-sela batu besar, dan rerimbunan pohon bambu yang sudah berumur tua. Batangnya berwarna hijau. Rumpunnya luas. Beberapa mata air ada yang mengalir cukup besar, sebesar kelingking orang dewasa, bahkan ada yang sebesar kepalan tangan, alam tak pernah berhenti memberi kehidupan.
Menyusuri jalan tanah yang sama akan kita temukan sebentuk bangunan berwarna putih dikelilingi pagar, sebelumnya ada bangunan kecil dengan bak air yang memanjang. Dibawahnya ada semacam keran. Coba saja, cuci muka disitu, badan terasa sejuk. Atau coba kita minum, terasa agak manis. Kerongkongan kering kembali segar, apalagi kalau dipakai mandi, badan lelah, balik lagi jadi bugar.
Bangunan itu bernama “Tjibadak 1921”. Warga sekitar menyebutnya “Gedong Cai”. Bangunan yang berjasa membagi air bagi warga masyarakat kota Bandung. Di tahun 1921 atas prakarsa pemerintah kolonial, tepatnya 13 desember 1921 diresmikan instalasi air Cibadak dan konon sumber mata air Cibadak memiliki suplus air sebesar 80 persen , menurut surat kabar Het Nieuws Van den Dag voor Nederlandsch-Indié, data ini berasal dari sumber yang dibagikan oleh Wa Hawe, seorang budayawan dan pengajar di Universitas pasundan. Dalam percakapan melalui Whatsapp, Wa Hawe juga menyampaikan sumber berita lain dari Bandoeng Hoogvlakte yang secara garis besar menyatakan, penduduk kota Bandung pada waktu itu sekitar sekitar 90.000 orang, dalam arti bahwa, sumber air Cibadak bisa memberikan kebutuhan lebih dari cukup untuk satu kota Bandung. Dan apabila menilik sumber air Cibadak surplus sebanyak 80 persen, maka yang terpakai oleh penduduk kota Bandung pada waktu itu hanya 20 persen dari debit air, betapa melimpah air yang diberikan oleh semesta.
Saat ini “Gedong Cai” terlihat bersedih, bangunan itu terkungkung oleh berbagai bangunan perumahan yang terus mendesak akan keberadaannya. Alih-alih terawetkan dalam lintasan sejarah dan keberadaan yang terawat, “Gedong Cai” mulai tergempur oleh pembangunan. Di sekitar bangunan berdiri tegak tembok pemisah yang dimiliki oleh berbagai pengembang. Padahal, banyak sekali khazanah flora dan fauna yang terdapat di sekitar hutan dalam lingkungan “Gedong Cai”. Keberagaman tumbuhan dan binatang yang berada dalam jangkauan ekosistem yang merupakan bagian dari sistem hidup dan menyeimbangkan alam.
Hari minggu tanggal 26 september 2021, kami diajak berjalan-jalan melihat lansekap di sekitar “Gedong Cai” Paparan panjang kali lebar yang disampaikan oleh Wa Titi Bachtiar, seorang pakar Geografi, terus terngiang di kuping saya sampai saat ini, menurut beliau,” keberadaan alam seperti di Cibadak ini bukan hanya sumbangan keseimbangan semesta bagi masyarakat sekitar, tapi sebetulnya untuk dunia”.
Hal apapun yang bisa diberikan untuk tetap menjaga hutan sekitar “Gedong Cai” tetap terawat, menjadi salah satu upaya untuk menjaga dunia tetap seimbang. Bukan hanya persoalan air. Tapi, jauh lebih daripada itu, menjaga manusia tidak akan mencoba memakan sesama. Senyatanya, “gedong Cai” adalah laboratorium alam yang istimewa, kita bisa belajar geologi, biologi bahkan mungkin mempelajari peradaban manusia berdasarkan artefak yang dapat ditemukan. Celakalah manusia, kalau ekosistem tersebut harus musnah karena hasrat membangun, atas dasar kemajuan.***



