Jejak Langkah Mantri Jero

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

Dengan kata lain, mantri jero itu kayak KSP. Ya, semacam Teten Masduki, Luhut Binsar, atau Moeldoko di istana Jokowi. Sang mantri dipercaya betul oleh sang pangawulaan

 

Bagaimana orang Sunda melihat perjalanan karier? Bacalah novel klasik Mantri Jero karya R. Méméd Sastrahadiprawira. Ceritanya menggambarkan jejak langkah seorang pria di lingkungan aristokrasi Sunda. Ia merangkak dari bawah betul, mula-mula jadi tukang mengurus kuda, naik jadi pelayan, lalu mendapat kepercayaan jadi mantri jero.

Istilah jero berarti “dalam”. Mantri jero, lebih kurang, berarti kepala rumah tangga kabupaten. Dalam kata-kata pengarangnya sendiri, mantri jero adalah “seorang priayi yang mendapat kepercayaan dari bupati, bertugas mengurus segala keperluan rumah tangga bupati (hiji priyayi anu meunang kapercayaan ti dalem, dipapancénan ngurus eusining padaleman)”.

Dengan kata lain, mantri jero itu kayak KSP. Ya, semacam Teten Masduki, Luhut Binsar, atau Moeldoko di istana Jokowi. Sang mantri dipercaya betul oleh sang pangawulaan. Waktu timbul krisis, sang mantri pula orangnya yang ditunjuk oleh Kangjeng Dalem untuk memimpin satuan tugas buat menghadang gempuran musuh.

Buat pembaca abad ke-21, yang mungkin sukar membayangkan macam mana itu lingkungan aristokrasi, baik kita petik dari novel ini satu deskripsi tentang tata cara sang pelayan meladeni sang juragan:

“Pangawulaan mah upama palay nyesep téh tara mundut ku saur, tapi ku isarah, nya éta nyagakkeun curuk jeung jajangkung panangan kiwana. Nu matak manéh téh sing awas pisan, lamun katénjo Pangawulaan kitu petana, gancang manéh géngsor diuk di kiwaeunana; épok téh teundeun di handap, tuluy manéh nyokot roko hiji, seug selapkeun lalaunan kana antara réma Pangawulaan nu dicagakkeun téa, dimana geus dicapit, sut sundut ku sintung sing nepi ka seuneuanana, kakara manéh diuk deui di tempat tadi!”

(Matilah saya kalau harus mengindonesiakan paragraf di atas. Dalam urusan ini saya hanya sanggup mengatakan bahwa adegan itu tidak untuk ditiru di abad ke-21)

Novel ini pertama kali terbit pada 1928, keluaran Balai Pustaka, lembaga penerbitan yang dirintis oleh pemerintah kolonial Belanda. Latar ceritanya jauh lebih silam. Disebut-sebut dalam cerita soal penobatan Senapati Sutawijaya sebagai sultan Mataram. Itu berarti akhir abad ke-16, di sekitar 1580-an.

Radén Méméd sendiri datang dari lingkungan ménak. Ia toh seorang radén. Sebelum jadi redaktur Balai Pustaka, ia sempat meniti karier di lingkungan pemerintahan. Karangan-karangannya mendapat sambutan hangat pada zamannya. Novelnya yang lain, Pangéran Kornél, bahkan dielu-elukan sebagai “mahkota tahun 1930 (moestika taoen 1930)” oleh sebuah iklan dalam Volksalmanak Soenda masa itu.

Sedikitnya ada dua sumber nilai yang meresap ke dalam diri tokoh utama cerita ini: ayahnya sendiri, seorang ménak yang menyingkir ke desa dan menyamar sebagai petani, dan seorang kiai yang membuka pesantren dan punya anak gadis cantik sekali. Pengaruh kebudayaan Jawa dan Islam bersenyawa dalam diri.

Bagian-bagian dialog antara tokoh utama cerita ini dan kedua tokoh tadi mengandung banyak wejangan dalam kaitannya dengan pendidikan. Kepatuhan, keteguhan, dan ketulusan amat ditekankan. Membaca dan menulis, juga mengaji, jadi bagian penting dari pembinaan kepribadian.

“Pikeun nu kumawula mah perlu pisan boga dadasar agama téh, minangka parabot pikeun nyandet napsuna, sabab ilaharna lamun jelema geus ngarasa kangeunahanana ngagem kakawasaan, sok poho kana asal dirina, takabur embung kaungkulan batur,” begitu antara lain petuah sang ayah kepada anaknya.

Tokoh utama cerita ini, Radén Yogaswara namanya, dijadikan salah satu model oleh Ajip Rosidi sewaktu almarhum melukiskan sosok “manusia Sunda” — dengan kritik mendasar atas pelukisan latar kesejarahannya. Menurut temuan Ajip, novel ini seperti memiliki persambungan dengan tradisi perkisahan sebelumnya, yakni carita pantun dan wawacan.

Dalam novel ini masih ada ruang buat puisi terikat untuk menciptakan atmosfer cerita. Kinanti atau dangdanggula didendangkan di permulaan beberapa bab. Juga masih ada peluang buat peristiwa fantastik untuk mempengaruhi jalan cerita. Tuhan sepertinya sengaja mengutus seekor belut raksasa buat menyeberangkan orang-orang Sunda yang sedang terdesak oleh invasi Mataram.

Menurut sistem nilai Radén Méméd, kalau mau jadi orang, selain harus banyak belajar juga mesti ada turunan. Meski Yogaswara lahir dan besar di desa, di lingkungan tani, tapi kan sang ayah sesungguhnya anak bupati. Tak usah heran jika Yogaswara ogah jadi petani, dan ingin jadi priayi.

Semua akan mengurus trah dan silsilah pada waktunya. Penghujung kisah tidak sekadar memastikan si jahat masuk penjara dan si baik mendapat balas jasa. Bagian itu juga memastikan ikatan kekerabatan di antara orang-orang penting di panggung roman. Dalam kata-kata ibu kandung tokoh utama kepada menantu terkasih: “toh bukan siapa-siapa, masih saudara juga (da lain sasaha, tunggal dulur kénéh)”.

Bumbu ceritanya sedap juga. Ini semacam kisah pangeran yang mesti menderita dulu sebelum mengecap kebahagiaan. Sang mantri pernah jadi korban fitnah, semacam hoaks di lingkungan elite, dan harus bersusah-payah untuk membuktikan ketulusannya. Pada akhirnya, setelah segala pahit getir dapat dia lalui, dia pun bisa meminang Nyi Halimah, putri sang kiai, dan mereka tentu saja hidup bahagia buat selama-lamanya.***

 

HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi