Orang Pintar Mengatasi Masalah dengan Diam di Rumah

 

Dalam dunia iklan mengiklan penggunaan jargon, moto atau apapun istilahnya biasanya dilakukan berulang atau kerennya repetisi, menggunakan kalimat yang sama, pendek dan mudah dimengerti.

Urusan penyakit kekinian tak pernah berhenti jadi pembicaraan setiap hari. Lebih populer dari apapun yang penting dalam peristiwa berita. Berseliweran di lini masa dan obrolan sehari-hari. Bahkan cenderung merubah tata cara hidup yang biasa kita jalani. Adab batuk dan bersin pun menjadi perhatian, tata caranya ada dalam susupan pariwara di radio, agar menjadi perhatian bagi para pendengar. sampai-sampai kedisplinan tata cara berAgama pun, harus berubah.

Terkena selesma kini jadi hal yang menggelisahkan, di masa lalu orang terkena batuk pilek tinggal beli obat ke warung, ditambah banyak minum dan makan lahap, dua tiga hari hidung ngocor berhenti dan badan kembali bugar, anda bisa kembali ke jalanan.

Upaya banyak dilakukan, terbaik yang bisa diusahakan. Alkisah, pandemi seperti yang dunia alami saat ini bukan pertama kali terjadi, ada beberapa kali yang membuat geger pengisi bumi. Sejarah punya cerita, cacar air pun, pernah menjadi penyakit yang mengkhawatirkan. Konon dunia belahan Eropa terguncang karenanya. Kini, di saat hidup hidup sudah santuy, eh, datang pula si penyakit yang bikin orang jadi harap-harap cemas. Rubah pula, kaidah hidup di ibu pertiwi.

 

Banyak cara yang telah disampaikan bagaimana cara memutus penularan si Covid yang nakal, supaya tidak pindah tempat bersemayam. Pendekatan-pedekatan informasi disampaikan, berupa anjuran kepada warga masyarakat agar mematuhi tata cara menghentikan penularan. Seingat saya, di awal pandemi beken dengan slogan “work from home” anjuran untuk berdiam di rumah. Belakangan ini dirubah menggunakan bahasa persatuan, bekerja di rumah. O, iya sebelumnya ada juga kalimat dalam bahasa persatuan dunia “new normal” kalau coba diterjemahkan secara asal artinya normal baru, terakhir sih jadi adaptasi kebiasaan baru, terus disingkat pula menjadi AKB.
 

Adalagi “physical distancing” keren, berbahasa asing pula, setelah sekian lama difahami artinya kita harus menjaga jarak antar umat manusia apabila bertemu manusia lain. Ada pula pembatasan sosial berskala besar disingkat PSBB, asalnya pakai bahasa englais “lock down”. Muncullah, PPKM kepanjangan dari pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Jadi sepenjang yang saya mengerti, PSBB berlaku luas dan PPKM berlaku sempit. Luas dan sempit dalam arti sejauhmana? nah, ini juga cukup bikin pening kepala. Belum lagi kata-kata lain yang sulit dicerna. Baru-baru ini ada lagi istilah baru,“PPKM mikro dipertebal”, ruwet!

Dalam dunia iklan mengiklan penggunaan jargon, moto atau apapun istilahnya biasanya dilakukan berulang atau kerennya repetisi, menggunakan kalimat yang sama, pendek dan mudah dimengerti. Kalau masih ingat jargon-jargon kawakan yang membekas pada ingatan kita, berarti para punggawa pariwara berhasil menempatkan kampanye dalam kategori berhasil. Saya coba kembalikan ingatan melalui beberapa semboyan yang bisa kita cepat tangkap, “apapun makanannya minumnya Teh Botol Sosro”, “air mengalir sampai jauh”, “mengatasi masalah tanpa masalah”, “yang penting hepi”, “orang pintar minum tolak angin”, tentu saja masih banyak lagi jargon iklan yang wara-wiri, dan masih yang kita hafal. Singkatnya, jargon berfungsi juga untuk mengingatkan kita pada wujud nyata.

Wacana anjuran pemerintah untuk menyampaikan informasi dan tawaran memutus alur penyebaran melalui sebaran komunikasi yang dilakukan saat ini malah menggunakan banyak istilah yang sulit difahami, terlalu dipaksakan dan tentu saja membingungkan. Terbayang bagaimana sebanyak itu istilah yang harus kita ingat, jangan-jangan malah masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Atau, ketika harus kita perhatikan anjuran apa yang wajib kita lakukan saking banyak informasi yang masuk, sekali berkedip informasi itu lenyap ke langit, jadi lupa!

 
Seyogyanya, gunakan kalimat padat, informatif dan yang paling penting mudah diingat. Tidak berubah-ubah, dan selalu diulang-ulang. Sehingga bisa menetap dalam benak khalayak. tujuan utamanya jelas, toh. Agar masyarakat mau mengikuti anjuran agar segera lepas dari kondisi pandemi. Buat anak kok coba-coba!***
 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi