
Hari ini, kalau kepala jadi pusing karena kebanjiran informasi, misinformasi, dan disinformasi dari medsos, saya sih berpaling saja ke gelombang pendek — selain ke koran elektronik.
Gelombang pendek berumur panjang. Meski siaran radio sudah lama bersalin platform, jalur short wave tetap berjalan. Setidaknya, buat telinga saya, itulah salah satu jalur berita dan perbincangan yang masih saya andalkan.
Memang, berkat internet, suara dunia telah beralih platform ke DAB (digital audio broadcasting). Gelombang FM (frequency modulation) kedengarannya sedang beringsut ke masa lalu. Jalur AM (amplitude modulation) kian sepi kecuali buat RRI dan satu-dua stasiun lokal berbahasa daerah atau jaringan evangelis yang menggebu-gebu dengan ceramah.
Ada kalanya dewasa ini saya main streaming buat menangkap siaran radio dari berbagai benua. Namun, yang biasa saya lakukan, terutama dengan ponsel, adalah mengikuti siaran radio dalam paket podcast: Global News Podcast berbahasa Inggris dan Siaran BBC Indonesia yang berbahasa Indonesia dari BBC, De Dag yang berbahasa Belanda dari NPO Radio 1, dan Akhbar yang berbahasa Arab dari NHK. Updating-nya jalan sendiri, mendengarkannya bisa kapan dan di mana saja, file-nya bisa disimpan pula. Yang penting, kamu punya kuota.
Namun, kesukaan pribadi buat mendengarkan siaran gelombang pendek tidak pernah saya hentikan.
Kebiasaan ini berlangsung sejak saya masih duduk di SMP. Di kampung, pada masa kecil saya, mana ada kursus bahasa Inggris dan perpustakaan. Radiolah tambatan paling handal buat belajar mendengarkan beragam suara manusia dari luar sana. Saban hari saya bisa mendengar suara Big Band menjelang warta BBC (“this is London”) dan kokok ayam — ataukah suara kanguru?— dari Australia.
Hari ini “Siaran Bahasa Indonesia” dari Radio Taiwan Internasional, khususnya dalam bentuk perbincangan, memakai bahasa pergaulan, bukan bahasa baku. Pada 16 Agustus 2020 malam, untuk para pendengarnya dari Indonesia, dari Trenggalek hingga Kalimantan Timur, penyiar radio ini memutarkan lagu Coklat: “Bendera”. Jaringan Tiongkok, sebagaimana jaringan USA, belakangan juga disambungsiarkan oleh beberapa stasiun radio lokal seperti El-Shinta dan MNC-Trijaya.
Waktu terjadi demonstrasi mahasiswa di Thailand yang menuntut reformasi politik, saya mendengarkan suasananya melalui world news BBC. Pada sore yang sama, 16 Agustus 2020, siaran bahasa Inggris dari Radio Thailand melaporkan peristiwa yang sama tapi dengan menonjolkan suara dari pihak pemerintah, mengutip pernyataan Jenderal Prayut dan petinggi bidang pendidikan — maklumlah siaran itu berasal dari bagian humas kerajaan.
Di rumah saya, pada frekuensi 11665 kHz, ada kalanya tertangkap juga siaran Wai FM dari Kuching, Sarawak. Itu seperti penyusup yang menyenangkan: sarat dengan suara lokal, termasuk dialek setempat, lagu-lagu berbahasa Melayu diselingi kabar dari RTM saban sekian puluh menit. Pada Hari Malaysia, 5 September, diputar pula lagu seriosa oleh seorang penyanyi tenor yang memuji negara dan bangsa. “Selamat Hari Malaysia. Malaysia prihatin,” ujar penyiarnya sehubungan dengan pandemi Covid-19.
Waktu yang baik buat main “SW ling” — begitulah istilahnya — adalah pagi selepas subuh dan malam selepas magrib. Kalau di luar gerimis, suara gelombang pendek lebih jernih. Apalagi kalau radionya ditaruh dekat jendela, agak jauh dari sumber derau listrik. Kalau perlu, antena radio bisa disambung dengan kabel beberapa meter.
Dalam hidup saya ada sejumlah nama pabrikan yang akrab di telinga. Barangnya kecil saja, sebesar genggaman tangan, biar mudah dibawa ke mana-mana. Pernah sekian lama saya pakai Sony. Pernah pula saya mengandalkan Tens. Belakangan, setelah gaji dosen tersertifikasi punya besaran cukup terpuji, saya bisa menikmati gelombang pendek dengan pesawat Tecsun PL-380. Perlu waktu sekitar 2 minggu buat memesan benda kecil ini dari Tiongkok melalui lapak virtual.
Tahun 2020 adalah tahun ke-75 buat jaringan VOV (Voice of Vietnam). Dalam perayaannya, radio ini menyapa para pendengarnya di Indonesia, terutama di Jawa, dan menyiarkan ulasan khusus mengenai hal ini pada 8 September. Di Jawa, katanya, ada sekitar 5000 pendengar setia. Sang penyiar juga menyinggung-nyinggung para pendengarnya di Malaysia dan Pakistan.
RRI (Radio Republik Indonesia) juga genap 75 tahun pada 2020. 12 September RRI (999 kHz) menyiarkan berbagai komentar dari sejumlah tokoh penting, termasuk Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, sehubungan dengan ulang tahunnya. Suara Indonesia yang satu ini juga disampaikan dalam sejumlah bahasa asing semisal bahasa Inggris, Arab, Spanyol, Mandarin, dan Jepang.
Hari ini, kalau kepala jadi pusing karena kebanjiran informasi, misinformasi, dan disinformasi dari medsos, saya sih berpaling saja ke gelombang pendek — selain ke koran elektronik. Memang, sering kali suaranya timbul tenggelam, seperti diayun-ayun angin. Namun, karena sudah terbiasa, justru hal itu menjadi bagian dari suasananya. Oh, senangnya jadi manusia jadul di abad ke-21.***



