Bung dengan 2 Wajah (Tamat)

 

Mendekat hingga dari sisi sebelah kiri peti, isi di dalam mulai terlihat, sosok terbujur di balik kain kasa, hanya bagian wajah yang tampak sedang tubuh lainnya terbungkus kain kafan warna putih.

 

Keluarga kami telah tinggal di kota Jakarta, tepatnya juga di daerah Kebayoran Baru, beberapa blok dari tempat tinggal keluarga Bude, yang mana kami pernah menumpang tinggal sewaktu ayah mendapat tugas belajar dan adik-adik belum di lahirkan.

Berawal menjelang pagi, baru setelahnya saya tahu adalah harì Minggu, tanggal dua puluh satu Juni, tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh. Dengan tergesa saya di ajak pergi oleh bapak dan ibu, entah akan menuju kemana, menggunakan mobil yang disupiri oleh bapak sendiri.

Kakak dan adik-adik tidak ikut serta, mereka dititipkan pada asisten rumah tangga, alasannya mungkin, bila saya tidak disertakan akan membuat kekacauan pada saat mereka tidak di rumah.

Tujuan pertama kepergian kami ahirnya saya tahu adalah menjemput Bude dan Pakde di rumahnya, dilanjutkan dengan perjalanan yang cukup panjang, sepertinya menuju pusat kota. Mobil yang dipakai hanya dapat ditumpangi oleh empat orang dewasa. Konsekuensinya jika anak-anak ikut serta akan duduk di tempat favorit anak-anak yaitu di bagasi. Jenis mobil bapak saat itu adalah “ Mazda B600”.

Setelah sampai pada tempat yang dituju, kendaraan di parkirkan pada sisi kiri jalan yang bagian sisi jalan sebelah kanan adalah taman lapang, sepertinya guna memisah jalan lawan arah. Saat itu matahari telah bersinar terang, saya dalam gendongan bapak di pundak, kami berjalan menembus kerumunan tidak beraturan di sebuah ujung jalan. Hingga sampai pada baris bukan terdepan dengan batas yang dijaga petugas berseragam, saya masih dapat melihat jalanan kosong di depan bangunan berjendela banyak, berpagar putih yang sangat panjang di sebelah kanan. Bangunan itu bergerbang tinggi dengan jendela besar-besar di seberangnya, mengapit jalan itu. Cukup lama akhirnya kerumunan sontak bergerak untuk berusaha maju seiring sayup bunyi sirine terdengar dari dalam gedung berpagar warna putih.

Beberapa buah sepeda motor petugas berseragam terlihat keluar dari balik pagar putih lalu berhenti di tengah jalan, yang rupanya itu adalah depan gerbang keluar yang tidak terlalu terlihat olehku. Jarak tempatku berada dengan gerbang tersebut kira-kira belasan buah jendela besar di sebelah kanan jalan. Di ujung jalan satunya juga terdapat kerumunan yang sama, yang sedikit demi sedikit mulai terlihat bergeser ketepi membuka jalan dari kerumunan di depan. Setelah hening sekejap kecuali raung sirine yang terdengar munculah sebuah mobìl patroli dan diikuti sebuah mobil gerbong berwarna gelap bertanda dan tulisan pada bagian samping kendaraan, di iringi sepeda motor mengawal.

Hanya dalam hitungan menit iringan rombongan tersebut hilang dari pandangan melewati tikungan di ujung jalan di depan. Setelah hening sesaat, beberapa orang mulai berbicara dan kerumunan mulai membubarkan diri, saya masih dalam gendongan ikut membubarkan diri dan menuju tempat parkir kendaraan.

Belakangan pada belasan tahun kemudian kebetulan saya melewati jalan itu lagi dan kembali ingat tempat kendaraan terparkir dan tempat orang-orang berkerumun adalah sekitar Jalan Kwitang Raya dan Jalan Kwini. Di tempat itu ada  komplek tentara dan rumah sakit angkatan darat bernama  “Gatot Soebroto”

Entah bagaimana selanjutnya hilang dari ingatan visual saya, sepertinya saat itu juga sempat kembali kekediaman pakde atau bude, dan tengah hari mobil telah terparkir di pinggir jalan besar, di sisi trotoar bertanah dan berumput kering berdebu.

Memasuki gerbang dengan jalan beraspal dan dijaga oleh banyak aparat yang saya lalui dalam gandengan ibu adalah pintu masuk kesebuah bangunan yang terletak di seberang lapangan luas depannya, bersama desakkan orang-orang lain dan dalam penjagaan aparat kami berjalan beringsut menuju pintu masuk bangunan, sebuah beranda berundak, yang atapnya di topang oleh dua pilar berornamen bata di kanan dan kirinya, yang saya tau setelahnya itu adalah gaya “ Bali “.

Satu-persatu kami bersama orang-orang di atur mengantri oleh petugas untuk memasuki bangunan. Setelah di dalam bangunan dan keluar dari sebuah koridor,dalam ruangan terlihat telah banyak orang berkumpul, berdiri dan bersimpuh di lantai tanpa keriuhan seperti di luar.

Dalam ruangan yang sangat luas dibatasi oleh dinding dan jendela kaca yang di baliknya terdapat taman lapang pada bagian belakang, barisan antrian tertib mengular menuju sudut yang berdinding jendela kaca. Saya kembali di gendong oleh ibu mendekati sebuah peti kayu berwarna coklat tua yang di sangga kaki, di tutupi oleh kain batik dan kain kasa halus berwarna putih, dan orang-orang duduk bersimpuh pada bagian sisinya.

Mendekat hingga dari sisi sebelah kiri peti, isi di dalam mulai terlihat, sosok terbujur di balik kain kasa, hanya bagian wajah yang tampak sedang tubuh lainnya terbungkus kain kafan warna putih. Dari balik kain kasa terlihat rupa wajah putih pucat seorang tua berdahi lebar, dengan mata tertutup berbulu alis tebal serta ada beberapa gumpal kapas pada bagian wajahnya, saya yakin dia adalah pemilik tubuh yang terbujur di dalam peti.

Hanya dalam hitungan detik antrian telah sampai di luar ruangan, sebuah taman luas yang terlihat dari dalam ruangan untuk menuju kembali keluar dari halaman melalui samping bangunan. Beberapa puluh tahun kemudian saya kembali memasuki bangunan tersebut, saat menjadi sebuah museum Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang di beri nama  “Museum Satria Mandala”.

Dan menurut informasi yang saya dapat sebenarnya bangunan tersebut bernama “Wisma Yaso”, rumah salah seorang istri Presiden Pertama Republik Indonesia.

 
[Tamat]
 
BAYU W. SOEMARDI | PENULIS LEPAS
 
Picture of Redaksi

Redaksi