Kenapa Kau Terdiam Rhoma?

 

 

 

 

Jangan biarkan mulut jauh lebih cepat menyambar daripada akal pikiran, karena kondisi seperti ini sudah pasti acakadut, amburadul, pasolengkrah dan merugikan diri sendiri.

 

Ada dua anekdot yang ingin saya jadikan pembuka bagi tulisan ini. Pertama, sebuah anekdot lama orang sunda. Suatu saat dalam shalat berjama’ah seorang imam diikuti empat orang makmum. Di tengah-tengah shalat ada makmum berbisik-bisik dengan temannya lalu ditegur oleh makmum lainnya, “jangan ngobrol, lagi sholat!”. Ditimpali lagi oleh makmum lainnya, “horee…untung saya ngga ngobrol”.  Sang imam melirik ke belakang, “itu kamu sama juga ngobrol”. Akhirnya shalat berjamaah pun batal. 

Nah ini anekdot kedua, seorang guru bahasa Inggris melihat coretan di toilet sekolah yang baru dibersihkan, lalu dia menghapus sebagian dan menambahkan sebagian tulisan lainnya dalam coretan dinding tersebut. Peristiwa ini diketahui oleh Kepala Sekolah yang langsung memanggil sang guru dan bertanya, “kenapa anda ikut mencorat-coret dinding toilet?” Guru Bahasa Inggris itu menjawab, “saya hanya membetulkan tenses-nya yang salah pak”.

Kedua anekdot di atas merupakan gambaran betapa diam itu terkadang menjadi jawaban yang tepat daripada sebuah ucapan atau tindakan. Namun seringkali menahan diri untuk diam itu susah dilakukan padahal sangat diperlukan dalam keseharian kita dalam konteks tertentu. Banyak cerita kalau diam itu telah menyelamatkan seseorang dari banyak hal. Seperti ini pula yang sering dialami oleh seorang pedagang terhadap pembeli, prajurit terhadap komandannya, suami atau isteri terhadap pasangannya, seseorang terhadap sahabat karibnya.

 

Walaupun memang betul juga sih dalam situasi dan kondisi tertentu diam itu bisa digunakan sebagai senjata untuk menyelamatkan kepentingan-kepentingan diri, tapi saya kira tidak ada salahnya kalau kepentingan-kepentingan itu adalah sesuatu yang bisa memberikan kebaikan dan manfaat juga bagi orang lain seperti terdiam atas nama keutuhan rumah tangga, terdiam atas nama hubungan baik, jiwa korsa, keamanan diri dan lain-lain.

Mungkin suatu saat anda akan menemukan sahabat yang bertanya
“kenapa kamu diam saja bro, padahal kamu tahu kebenarannya!”
“lha, emangnya tahu darimana?”
“???$#@^!?”
“Sumedang atuh bro…”

Fokus pada kalimat dialog pertama ya, bahwa diam dan bertindak itu merupakan sebuah pilihan yang harus dipertimbangkan sematang mungkin tetapi selalu berada dalam koridor secepat mungkin, semudah mungkin dan sesederhana mungkin. Jangan biarkan mulut jauh lebih cepat menyambar daripada akal pikiran, karena kondisi seperti ini sudah pasti acakadut, amburadul, pasolengkrah dan merugikan diri sendiri.

Hasil bertapa di pagi hari dengan secangkir kopi dan gorengan yang terbungkus kertas bekas bertuliskan prinsip ekonomi dan analisis resiko di pasar Cihapit melahirkan adagium, “perbandingan rasional antara pengorbanan yang dikeluarkan dan hasil serta resiko yang diperoleh” antara diam dan bertindak ternyata lebih menguntungkan diam, karena pengorbanannya kecil, hasilnya kecil dan resikonya kecil.

 

Sedangkan bertindak membutuhkan pengorbanan yang besar, hasilnya belum tahu, resikonya besar. Sementara ini kita bisa mengambil kesimpulan sederhana dan relatif lebih menguntungkan dari diam itu adalah gratis dengan resiko minimalis, hal ini merupakan kabar gembira selain kulit manggis ada ekstraknya, bahwa dalam sebuah persidangan pun ketika terdakwa lebih memilih diam tidak menjawab pertanyaan, maka pimpinan sidang tidak bisa memaksanya untuk menjawab kecuali hanya sebatas anjuran saja, bukan paksaan! Sebagaimana pasal 175 UURI No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Menjelang sore hari, kembali bertapa dengan secangkir kopi di kedai samping perpustakaan Ajip Rosidi sambil berkali-kali mengeja Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah yang kurang lebih isinya menyatakan “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. Sejenak terlintas pertanyaan apakah tidak terlalu berlebihan jika diam dan berkata/bertindak saja mesti dipertaruhkan dengan kualitas keimanan seseorang terhadap Tuhan-nya, bahkan dikaitkan dengan hari kiamat? Pasti ada sesuatu yang super duper dan harus kita bahas dalam pertapaan kopi selanjutnya.

 
HALIMUDDIN AHMAD | PENULIS LEPAS
 
Ilustrasi dari www.brillio.net
Picture of Redaksi

Redaksi