Agan Ready, Kakak Order

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

“Paket!” Itulah theme song harian dari para kurir yang menyampaikan rupa-rupa barang dagangan, mulai dari ragi tape dari Karawang hingga lemari kayu jati dari Jepara. 

Kata istri saya, belanja daring membuat kami awet muda sebab para pelapak selalu menyapa kami “kakak”. Saya tidak begitu setuju dengan pendapat seperti itu. Memang, di lingkungan keluarga, sebutan “kakak” atau “adik” terasa muda sebab kita membayangkan adanya pihak yang tergolong sepuh, yaitu “ibu” dan “bapak”. 

 

Setidaknya, Toni Blank selalu terdengar merawat kegembiraan kanak-kanak setiap kali dia menyebut-nyebut “Papi Mami Government”. Namun, setelah “Bapakisme” ala Orde Soeharto lenyap dari lanskap, dan ketika “Godmother” dari zaman reformasi kian kaku dalam kemapanan yang membeku, justru Si “Kakak-lah yang dituakan oleh para pelapak daring.    

 

Entah dituakan ataukah dimudakan, kami turut menyambut hari baru terutama sejak pandemi mendorong kami memperhatikan rumah sendiri. Itulah hari tatkala transaksi barang dan jasa kian beringsut ke jagat maya. Seakan enggan terpenjara dalam ruang-ruang akrab yang dikarantina, kami memelihara pertautan dengan dunia luas di luar sana dengan belajar belanja tanpa harus mengunjungi toko-toko di pusat kota. 

 

Dalam situasi seperti itu, hanya ada satu suara yang bikin gembira: “paket!” Itulah theme song harian dari para kurir yang menyampaikan rupa-rupa barang dagangan, mulai dari ragi tape dari Karawang hingga lemari kayu jati dari Jepara.  

 

Lapak atau toko virtual yang selalu mengutus kurir ke rumah kami dikelola oleh para juragan. Panggilan akrabnya “Gan saja. Mereka entah di mana, tapi cukup mudah dihubungi. Tinggal kirim pesan melalui kanal “chat”. Reputasi para juragan dibangun melalui deretan tanda bintang yang bisa dipilih oleh masing-masing kakak tiap usai transaksi. Nama baik atau nama buruk mereka ditandai dengan sekurang-kurangnya tiga varian garis bibir dalam emotikon wajah: melengkung, datar, ataukah terbuka.  

 

Dilihat dari asal-usulnya, pertemuan juragan dan kakak sebetulnya unik juga. Dari sononya, istilah “juragan” sebetulnya menyiratkan adanya jarak di antara majikan dan abdinya. Adapun istilah “kakak” hanya menyiratkan jarak usia di antara saudara-saudara dalam lingkungan keluarga — kalau bukan dalam lingkungan pramuka. 

 

Saya tidak tahu, apakah pembeli mau mengabdi kepada pelapak? Saya juga tidak tahu, apakah pelapak mau menjalin hubungan kekeluargaan dengan pembeli? Yang jelas, dalam setiap pertukaran pesan di kolom “chat”, baik sapaan “Gan” maupun sapaan “Ka” berasal dari lawan bicara. Sulit membayangkan adanya komunikator yang menjuragankan atau mengkakakkan dirinya sendiri. 

 

Bro dan Sis tidak lagi terdengar manis, terutama sejak sapaan itu dibawa-bawa ke gelanggang politik yang kelihatannya sukar mengalami rejuvenasi. Bung ini dan bung itu kedengarannya tidak begitu bertahan, kecuali barangkali buat mengenang “zaman bersiap”. Adapun Aki dan Nini kehilangan program televisi, sedangkan buat main tiktok barangkali masih risi. Kasihan. 

 

Hey, ini dunia punya Agan dan Kakak, pasangan aktor yang menentukan perputaran roda ekonomi. “Papi Mami Government” memutar otak buat menarik pajak. Bro, Sis, dan Bung Politik berebut konten sebab khawatir pencitraan mereka kurang paten. Siapa pula yang perduli pada “petugas partai”. Urus sendiri “wawasan kebangsaan”-mu. Agan dan Kakak hanya ingin memastikan kelancaran paket.  

 

Ready, Gan? Silakan order, Ka.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi