
Sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, hampir satu Nusantara kita kenal dengan warna yang sama. Hanya di kota-kota tertentu seragam seperti baju zirah. Selesai belajar, para pelajar seragam abu-abu berlatih tempur dengan sekolah lain dan korban pun berjatuhan.
Mesin telusur atau mesin pencari kata seperti tongkat ajaib di tangan para ahli sihir. Ketik apa yang kita ingin tahu, lalu pencet “enter” pada “keyboard” dan keajaibanpun terbukti, apa yang kita cari akan muncul di layar. Alat ajaib zaman kini, tidak usah belajar berlama-lama pada para ahli seperti sekolah di Hogwart tempat dimana Harry Potter berguru kejuruan ilmu sihir, cukup punya mesin serba tahu, baik yang dijinjing atau yang disimpan di rumah, dunia akan datang pada anda, alat bantunya tidak menggunakan tongkat, cukup pergunakan jari ditangan anda.
Saya coba kutak-katik mencari padanan kata melalui mesin pencari, kata yang dicari adalah reputasi, berderet sekitar enam puluh empat padanan kata yang setara. Kebanyakan karib di telinga, ada beberapa kata yang gaib, seperti jenama, jarang sekali orang menggunakan kata jenama menjadi kata pengganti reputasi.
Reputasi kira-kira didefinisikan sebagai citra yang dijalin untuk memberikan kesan baik, katanya sih demikian. Reputasi juga terkait dengan kedudukan, jabatan atau pangkat. hal lain yang terlibat secara langsung dengan reputasi tentu saja apa yang bisa kita baca kasat mata, pada apa yang tertera pada tubuh penggunanya.
Seragam, saya kenal sejak zaman belajar di taman kanak-kanak. Lucu juga kalau mengingat waktu masih sekolah di taman bermain. Mejanya pendek, kursinya juga kecil berwarna warni, pengajarnya besar-besar, mungkin waktu itu kami bayangkan bapak dan ibu guru seperti raksasa baik hati. Nah, kami berseragam celana pendek warna kuning dengan atasan warna putih, dan topi sewarna dengan celana. Kalau berbaris manis sekali, seperti ulat berwarna kuning masuk ke lubang. Sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, hampir satu Nusantara kita kenal dengan warna yang sama. Hanya di kota-kota tertentu seragam seperti baju zirah. Selesai belajar, para pelajar seragam abu-abu berlatih tempur dengan sekolah lain dan korban pun berjatuhan.
Lazimnya, seragam akan memberikan nuansa atau kesan atas apa yang mereka gunakan. Misal, kita bisa mendapatkan ingatan gagah dan bertubuh sehat dari seragam yang dipakai oleh para siswa Akademi Militer. Atau efek lucu dari seragam yang digunakan siswa di taman bemain. Jadi, seragam membawa predikat tertentu dalam ingatan khalayak, dan jejak dari pemakainya. Bahkan, kita bisa langsung paham dari intitusi mana seragam yang dipakai oleh seseorang hanya dengan mengenal warna yang dipakai atau bentuk dari seragam, belum pula tanda pangkat dan kecakapan lain yang tertera.
Saking dianggap bertuah dari kuasa atas seragam, banyak pula yang memakai keajaiban bentuk dan warna seragam digunakan sebagai penanda lembaga atau organisasi. Contoh, nuansa warna loreng militer yang seyogyanya digunakan perang gunung hutan, dipakai oleh organisasi tertentu berkeliaran di pusat kota. Memang sih, warnanya berbeda yang digunakan angkatan perang. Tapi, kesan yang dibaca bisa sama. Penyamaran di tempat pertokoan.
Buku yang belum habis saya baca, karya Willa Cather, Death Comes for Archbishop, cerita mengenai dua Uskup Agung bersejarah, Jean Baptiste Lamy (1814-1888) Uskup Agung pertama di santa Fé, New Mexico dan Joseph Projectus Machebeuf (1812-1889) Uskup Agung pertama di Denver, mereka menjadi martir di tempat yang indah dan berbahaya, berbaur dengan penduduk setempat dalam suasana kesalehan, tanpa mengandalkan kuasa atas seragam hitam dan tanda suci. Jejak figur yang terbangun atas kasih sayang. Itu sih atas dasar pembacaan saya pribadi. Lahap saja deh, bukunya. Enak dibaca dan perlu.***



