Final UCL sepertinya menjadi kutukan untuk semua pelatih non-eropa, karena belum ada satupun pelatih non-eropa yang mampu memenangi gelar ini, yang sudah pasti untuk final tahun ini kutukan itu akan masih tetap ada, karena pelatih dua tim yang akan bertanding bukan orang non-eropa.
Final Liga Champion Eropa atau UEFA Champion League (UCL) selalu menarik untuk dibicarakan, karena menurut saya banyak sekali drama-drama, mitos-mitos, dan hal-hal yang bisa jadi tidak kalah seru dengan adegan-adegan yang ada di seri kolosal misteri gunung merapi, atau sinetron ikatan cinta yang dewasa ini begitu viral dikalangan emak-emak. Dan bisa jadi final liga champion yang semoga akan kita saksikan bersama ini, lebih menarik, karena kita tidak pernah tahu dan hanya bisa sebatas menerka – nerka apa yang akan terjadi, berapa skor yang akan tercipta, dan siapa yang akan menjadi juaranya, Wallahu a’lam bi shawab, “dan ALLAH Maha tahu yang benar/yang sebenarnya”.
Final liga champion 1999, mari kita berjalan sejenak menuju masa lalu, masa dimana ketika bunyi jangkrik lebih nyaring dari suara dering telepon pintar kita. Ada cerita yang indah untuk sebagian orang pada final tahun ini, pertandinagn yang mempertemukan Bayern Munchen melawan Manchester United, dimana ketika Bayern Munchen memimpin hampir 90 menit, kemudian petaka tiba di waktu tambahan, dalam kurun waktu 3 menit saja MU mampu membalikkan keadaan, hancur lebur sudah Bayern Munchen, bahkan terekam moment ketika Samuel Koufur menangis “kesakitan” seperti bayi yang baru melahirkan, tak terbayang.
Hal serupa juga terjadi di era milenium, pada Final UCL 2012 tepatnya, dimana Bayern Munchen kembali menjadi korban “prank” tim Inggris lainya, Chelsea FC, bedanya, pertandingan ini harus dilanjutkan melalui adu tendangan penalti yang akhirnya dimenangkan chelsea dengan skor 3-4, tidak ada lagi tangis Samuel Koufur dikubu Bayern Munchen, yang ada hanya luka-luka yang bikin susah tidur. Atau mari mundur sedikit ke Istanbul Turki enam tahun sebelumnya, ada kisah tragis dan ajaib lain disana, 25 Mei 2005, malam ketika AC milan yang ditaburi bintang seperti Andriy Shevchenko (Sheva), Andrea Pirlo, Ricardo Kaka, dan Clarence Seedorf, dipaksa tersungkur setelah memimpin laga 3-0 di babak pertama, kemudian disamakan menjadi 3-3, dan kalah dalam adu penalti ditangan Steven Gerard dkk dibawah asuhan Raffael Benitez. Masih banyak lagi drama-drama yang tersaji di setiap Final UCL, tapi tidak mungkin juga saya sebutkan satu persatu, saya takut kalau terlalu banyak menulis nanti dikira sok tahu, sok pintar, lalu tidak diundang saat rapat partai.
Di lain sisi, ada juga beberapa mitos yang diyakini bisa berdampak buruk pada saat Final UCL, salah satunya adalah jangan pernah menyentuh piala atau “Si Kuping Besar” sebelum pertandingan usai dan sudah jelas siapa juaranya, dimana hal tersebut di amini oleh bintang sekelas Cristiano Ronaldo, “Saya tidak pernah menyentuh piala sebelum masuk lapangan, itu membawa nasib buruk,” yang ternyata hal tersebut dilanggar oleh Sheva dan Gattuso pada tahun 2005 silam, yang kita semua tahu bagaimana akhirnya. Dalam hal kutukan, Final UCL sepertinya menjadi kutukan untuk semua pelatih non-eropa, karena belum ada satupun pelatih Non-Eropa yang mampu memenangi gelar ini, yang sudah pasti untuk final tahun ini kutukan itu akan masih tetap ada, karena pelatih dua tim yang akan bertanding bukan orang non-eropa.
Maka sampailah kita di penghujung tulisan ini, Final edisi ke-29 sejak berganti format menjadi Liga Champion, dilangsungkan pada tanggal 29 Mei 2021, atau tanggal 30 Mei BBWI, akan mempertemukan dua Tim biru dari Benua Biru, Manchester City vs Chelsea FC. Semoga drama yang terjadi bisa sedikit meringankan beban kita dari drama-drama pandemi di negeri ini, kalaupun akhirnya biasa saja, setidaknya, semoga permainan mereka tidak bikin kita sampai mengelus dada, tidak seperti permainan di “atas” sana. Salam!




