Tekanan Darah Tinggi Bebas Merdika

 

Akibat terlalu memikirkan kurikulum, merdeka belajar kampus merdeka, tekanan darahmu, naik dengan merdeka.

Menonjol diantara tumpukan, terselip buku paling tebal, kamus basa Sunda R.A. Danadibrata, ribuan kata terhampar bagi para pencari arti kata atau padanan dalam bahasa Sunda. Coba telusuri pada deretan huruf M, bisa kita lihat arti Merdéka asal kata sansekerta Merdika, yang artinya, nagara anu geus teu dijajah deui ku nagara séjén, mandiri. Dalam pemahaman lain, bebas! tidak dalam tekanan, ketakutan dan berdiri sendiri.

Mengucapkan terima kasih yang terbaik untuk saluran daring Netflix, pelepas dahaga para pecandu sinema, kita bisa menonton kapan saja dan dimanapun, asal memiliki paket data yang berlimpah, atau nebeng jaringan nirkabel milik orang, asal empunya ikhlas. Saya ingat satu film tentang membebaskan diri dari penjajahan, Brave Heart. Salah satu tontonan lama, tentang kepahlawanan. Cerita legenda asal Skotlandia William Wallace, yang tertindas oleh tirani Inggris lewat antek-anteknya. Pada saat itu sekitar abad 13, Skotlandia masih menjadi jajahan Inggris, dan menerapkan aturan “Prima Nocte”, yang mana di malam pertama, pasangan yang baru menikah harus menyerahkan istri mereka terlebih dahulu pada penguasa Inggris, kejam betul! Sial, pasangan pernikahan William Wallace (Mel Gibson) dan Murion (Brendan Mc Cormack) yang menikah diam-diam, tercium fihak Inggris dan berakhir tragis, istri Bang William, mati di tangan kacung penguasa Inggris. Cerita perlawanan pun, dimulai, serta berakhir duka di akhir film. William Wallace meregang nyawa di tangan penindas, alih-alih meminta ampun di akhir hayatnya, William berteriak, freedom!!! membangkitkan rasa kepahlawanan bagi pemirsa, jagonya Hollywood kalau urusan begini.

Beberapa lembaga kampus saya perhatikan ada layanan psikologi yang bergerak aktif dalam melayani mahasiswa. Ini adalah salah satu pelayanan dalam mengatasi tekanan psikologis yang mungkin terjadi dalam proses pembelajaran. Para pahlawan masa depan harus didampingi dan diperhatikan kondisi psikologisnya, agar tidak berdampak pada kesehatan mental mereka. Zaman sekarang mencari ilmupun harus berhati-hati, agar mental tetap sehat.

Lembaga kami mengadakan vaksinasi covid 19, dalam rangka vaksin bagi para pendidik. Di tempat vaksinasi kami tidak langsung disuntik. Tapi, ada beberapa tahap yang harus dilalui, dimulai mengisi biodata, kemudian diperiksa tekanan darah dan terakhir semacam screening berbagai hal, terutama riwayat penyakit. Beberapa kawan kami berguguran, karena tidak memenuhi syarat. Salah satunya, karena sang tekanan darah yang melambung tinggi. Sejawat yang duduk disamping saya, bergurau pada temannya, “akibat terlalu memikirkan kurikulum, merdeka belajar kampus merdeka, tekanan darahmu, naik dengan merdeka.” Memang saat ini, para pendidik terutama para petinggi di kampus sedang bergulat dengan perubahan konsep pembelajaran mengenai merdeka belajar, alih-alih menjadi bebas, badan tercabik oleh degupan jantung yang berdetak cepat. Tak kuasa pula berteriak, BEBAS! Mungkin hanya gurauan semata, tapi nyata di mata.

Belajar, galibnya membebaskan diri dari tuna ilmu memberikan kesempatan individu untuk mandiri dan berdiri bebas diatas kemauan diri, idealnya sih begitu. Nyatanya, saya perhatikan betapa beban berat tersandang di pundak para siswa penerus bangsa, apabila berhadapan dengan proses belajar, hanya segelintir yang menghadapi hari sekolah dengan mata berbinar dan senyum bahagia. Begitu pula yang terjadi para punggawa pendidik, makin lama keceriaan mereka semakin tercerabut.

Masih pada deretan huruf M di kamus basa sunda R.A. Danadibrata, dapat kita temukan kata Merdika, yang artinya dibasakeun ka budak-beulian nu ku dununganana dileupaskeun jeung dikencarkeun sakarepna, lantaran dunya internasional geus mutuskeun yén ti tgl 1 januari 1863 M teu beunang deui ngingu budak beulian jeung ti mimiti harita sakabéh budak-beulian kudu dimerdikakeun. Kalau begitu, jangan-jangan dunia pendidikan masih menjadi hamba sahaya, yang seharusnya sejak abad 19 sudah bebas, MERDEKA! ***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi