
Sebetulnya season terakhir anime Attack on Titan ini membuat saya rada cemas. Bagaimana jika ending-nya sebutut Game of Throne? Amit-amit. Jangan sampai. Tapi dari beberapa episode terakhir dan spoiler yang bertebaran di IG story, saya rasa ending-nya bakalan berbeda.
Yang menarik dari season terakhir ini adalah insureksi Eren Yeager dan antek-anteknya—para Yeagerist. Kita tahu, Eren memiliki dendam kesumat setelah ibunya dimakan hidup-hidup oleh titan. Ia kemudian bernazar untuk terus hidup dan membasmi semua titan yang berkeliaran di muka bumi.
Namun, dalam dua season terakhir ini keyakinan Eren digoyang keraguan yang begitu dahsyat. Apa yang selama ini ia percayai, yang ia anggap benar, ternyata salah atau sebaliknya. Titan dan konflik antara Eldia dan Marley ternyata lebih ruwet daripada romantika para pemuja senja. Eren terjun bebas ke dalam kekosongan, ke dalam nihilisme.
Dalam beberapa episode ini, Eren sedang melakukannya. Ia berencana untuk melepas para Wall Titans untuk menghancurkan dunia dan isinya sampai luluh lantak tak bentuk rupa—kecuali, konon, Paradis. Rencananya ini sinting betul, ini sama saja dengan genosida! Tapi, bagi Eren, kehancuran adalah opsi paling realistis. Menjadi satu-satunya jalan untuk membebaskan dunia, untuk mengatasi nihilisme.
Jika dilihat, Eren seakan-akan menghalalkan segala cara agar ‘kehendaknya untuk berkuasa’ menemukan jalannya. Ia terkesan termakan egonya. Tapi, saya jadi ingat Machiavelli yang pernah berkata, “Beberapa hal yang tampaknya baik, jika dilakukannya, akan membawa kehancuran, sedangkan beberapa hal yang tampaknya jahat akan mendatangkan keamanan dan kemakmuran”.
Seorang penguasa, bagi Machiavelli harus mampu melihat berbagai kemungkinan dari ketidakmungkinan atau sebaliknya. Dan seseorang yang berkehendak untuk berkuasa harusnya mengambil langkah yang paling radikal sekali. Nah, Eren sebetulnya sedang melakukan ini, ia seakan-akan menjelma menjadi Rahwana itu sendiri yang menebar angkara murka. Tapi ingat, bagi rakyatnya, Rahwana bukanlah penjahat. Ia raja sakti yang adil dan beradab.
LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY



