Insureksi Eren Yeager: Juru Selamat atau Juru Petaka?

 

 

 

“Beberapa hal yang tampaknya baik, jika dilakukannya, akan membawa kehancuran, sedangkan beberapa hal yang tampaknya jahat akan mendatangkan keamanan dan kemakmuran”.

 

Sebetulnya season terakhir anime Attack on Titan ini membuat saya rada cemas. Bagaimana jika ending-nya sebutut Game of Throne? Amit-amit. Jangan sampai. Tapi dari beberapa episode terakhir dan spoiler yang bertebaran di IG story, saya rasa ending-nya bakalan berbeda.

Yang menarik dari season terakhir ini adalah insureksi Eren Yeager dan antek-anteknya—para Yeagerist. Kita tahu, Eren memiliki dendam kesumat setelah ibunya dimakan hidup-hidup oleh titan. Ia kemudian bernazar untuk terus hidup dan membasmi semua titan yang berkeliaran di muka bumi.

Namun, dalam dua season terakhir ini keyakinan Eren digoyang keraguan yang begitu dahsyat. Apa yang selama ini ia percayai, yang ia anggap benar, ternyata salah atau sebaliknya. Titan dan konflik antara Eldia dan Marley ternyata lebih ruwet daripada romantika para pemuja senja. Eren terjun bebas ke dalam kekosongan, ke dalam nihilisme.

Nietzsche, filsuf godam dengan kumis serupa benteng pulau Paradis mendefinisikan nihilisme secara heroik sebagai runtuhnya semua nilai dan makna yang dipercayai oleh manusia. Dengan kata lain, nihilisme adalah matinya kebenaran itu sendiri. Masih menurut Nietzsche untuk mengatasi nihilisme, kita harus memiliki ‘kehendak untuk berkuasa’ (will to power).

Dalam beberapa episode ini, Eren sedang melakukannya. Ia berencana untuk melepas para Wall Titans untuk menghancurkan dunia dan isinya sampai luluh lantak tak bentuk rupa—kecuali, konon, Paradis. Rencananya ini sinting betul, ini sama saja dengan genosida! Tapi, bagi Eren, kehancuran adalah opsi paling realistis. Menjadi satu-satunya jalan untuk membebaskan dunia, untuk mengatasi nihilisme.

Jika dilihat, Eren seakan-akan menghalalkan segala cara agar ‘kehendaknya untuk berkuasa’ menemukan jalannya. Ia terkesan termakan egonya. Tapi, saya jadi ingat Machiavelli yang pernah berkata, “Beberapa hal yang tampaknya baik, jika dilakukannya, akan membawa kehancuran, sedangkan beberapa hal yang tampaknya jahat akan mendatangkan keamanan dan kemakmuran”.

Seorang penguasa, bagi Machiavelli harus mampu melihat berbagai kemungkinan dari ketidakmungkinan atau sebaliknya. Dan seseorang yang berkehendak untuk berkuasa harusnya mengambil langkah yang paling radikal sekali. Nah, Eren sebetulnya sedang melakukan ini, ia seakan-akan menjelma menjadi Rahwana itu sendiri yang menebar angkara murka. Tapi ingat, bagi rakyatnya, Rahwana bukanlah penjahat. Ia raja sakti yang adil dan beradab.

Dalam benak Eren, nantinya, dari puing dunia yang telah diluluh-lantahkannya itu, tatanan dunia baru terlahir. Dunia yang dalam cita-citanya bebas dari segala macam yang dahulu menggerogotinya—bahkan dari baik dan buruk itu sendiri. Karena, jika kebaikan dan keburukan masih tetap ada, dunia yang ia bidani tidak akan pernah benar-benar bebas. Persis seperti bacotnya Thanos: “I thought that by eliminating half of life, the other half would thrive. But you have shown me… that’s impossible. As long as there are those that remember what was, there will always be those that are unable to accept what can be. They will resist”.
 

LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY

 
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi