Dari Jante Arkidam Ke Kedai Jante

 

 

Jika di Paris, Perancis memiliki Café de Flora, sebuah kedai yang sangat tersohor, tertua sebagai tempat nongkrong yang wibawa dalam mencari inspirasi, menulis dan berdiskusi dan minum kopi para penulis, kritikus, filosof dan penyair.

 

Saya pernah bilang ke sahabat saya Wanggi Hoed, seniman pantomime kelahiran Cirebon, “Mase, di Bandung itu, kita butuh satu poros, satu tempat yang dimana segala macam kerja intelektuil, karya dan jaringan antar seniman generasi terkini bisa di wujudkan secara nyata. Lokasinya harus strategis. Terlebih lagi harus puitis, Mase, tempatnya,” selang beberapa bulan setelah saya ucapkan itu ke Wanggi, saya tak sengaja mengunjungi kedai kopi yang terletak di Jalan Garut, Bandung. Masih satu bangunan dengan Perpustakaan Ajip Rosidi, perpustakaan yang hampir seminggu tiga kali saya kunjungi untuk membaca, meriset dan melamun ala-ala.

Dalam hati saya bergumam, saat melihat plang nama kedai itu, Kedai Jante yang tentu saja saya lantas teringat dengan sajak Ajip Rosidi berjudul Jante Arkidam “Njirr, ini mah pasti diilhami dari Jante Arkidam,” dalam hati saya berkata. Arkian, sajak yang cukup legendaris itu memang sudah cukup dikenal di lalu lintas kesusastraan Indonesia maupun Sunda, dimana sajak itu ditulis mulanya ya dalam bahasa Sunda. Bahasa ibunya, sang penyair kelahiran Jatiwangi.

Sajak Jante Arkidam, pertama kali diumumkan oleh Ajip Rosidi, via tabloid Panghegar. Kala itu, Panghegar dikomandoi oleh Oot Hidayat. Pada saat itu Ajip masihlah sangat muda sekali, saat hendak memberikan sajak itu ke Oot Hidayat, Ajip keparengan bersama pelukis yang kelak masyur namanya, yakni Nashar.

Dua sahabat beda suku itu, memang sengaja berhenti di Bandung, sebelum pulang ke Jatiwangi. Jadilah, Ajip meminta Nashar, untuk membikin ilustrasinya kepada Nashar. Nashar, yang tentu saja tak tahu menahu, isi sajak Jante Arkidam yang ditulis pakai bahasa Sunda, meminta Ajip menceritakan muatan lokal dalam sajak itu. Oh, iya, sajak itu pertama kali ditulis pada tahun 1956. Berarti usia Ajip waktu itu, masih 18 tahun! (Jawot pastilah belum lahir, masih di awang-awang). Menggambarkan sosok pria bernama Jante Arkidam, yang memiliki mandraguna, kesaktian, dia seorang preman sekaligus jagoan. Dipuja wanita, dan ditakuti para lelaki.

Bla, Bla, Bla, jebret! Jadilah akhirnya ilustrasi pertama kali Jante Arkidam, yang diilustrasikan oleh Nashar, pelukis dari Sumatra Barat itu. Bedebahnya, ilustrasi hitam putih sosok imajinatif Jante Arkidam itu, yang konon keren sekali hilang tak tentu rimbanya. Hilang di tukang klise gambar. Karena gambar hasil ilustrasi kala itu, biasanya tidak disimpan. Dibuang begitu saja. Begitu saja. 16 tahun kemudian, tepatnya tahun 1972, sajak Jante Arkidam untuk perdana kalinya dibacakan Ajip Rosidi dalam Festival Penyair Internasional, di Rotterdam, tambahlah masyur sajak itu, jadinya

Selintas-selintas lalu, dari obrolan warung kopi. Pemilik Kedai Jante, yang bernama Jawot, seorang ahli foto pernikahan, ahli membikin video, dan ahli dalam humor, itu (walau humornya itu-itu saja yang diceritakan), juga terhipnotis dengan nama Jante, yang kemudian ia pahat nama Jante di plang kedainya, lewat obrolan improv, singkat dan subtansif bersama kritikus kenamaan Jawa Barat, Hawe Setiawan, ‘mata kanan kesusastraan dan kesejarahan Sunda’ kalau dalam istilah saya, dalam memberikan julukan ke kang Hawe. Terus kalau ada yang nanya, mata kirinya siapa dong, Ren “ ya gua lah!” masa, si Salim atau si Otong. (ga pakai hehehe)

Ujungnya, jadilah nama kedai itu, kedai Jante. Posisinya masih satu bangunan dengan perpustakaan Ajip Rosidi, yang gagah perkasa nan megah itu, berdiri tepat di setengah jantung kota Bandung. Antara Jalan Riau, Martadinata, Bandung Creative Hub, sebelah sononya ke arah jalan Ahmad Yani. Ya, cukup strategis lah. Di tengah-tengah.

Kedai Jante, baru beberapa bulan didirikan. Tapi di kedai Jante itu sudah banyak manusia-manusia bohemian, yang bermunculan, datang, ngobrol, minum kopi dan pulang begitu saja. Di dalam kedai Jante, juga banyak barang-barang milik para pesohor seniman Bandung. Di antaranya nih, ada dua lukisan Tisna Sanjaya (kenal kan?), buku-buku karangan Ajip Rosidi, mesin tik Triumph milik pengarang kamus Bahasa Sunda yang tebalnya, tak ketulungan, bernama Raden Alla Danadibata.

Selain itu, kedai Jante juga dirancang serius oleh Jawot, sebagai tempat melakukan pembuahan terhadap seni-seni kontemporer, eksperimen, juga tempat untuk berbagai isu sosial politik, bertukar pandangan menyoal kebudayaan lokal, kesenian modern, dan ujudnya bisa segera dinyatakan. Dan untuk menghidangkan itu semua, Jawot bersama tim menginisiasi beberapa media: hanya wacana podcast (untuk mendiskusikan buku-buku, pembacaan puisi, dan ngobrol proses kreatif sang seniman, lalu www.hanyawacana.com (untuk menyalurkan setiap ide yang gelisah, ke dalam bentuk tulisan yang bernas dan cerkas) semuanya dimulai dari Kedai Jante. Film dan seni eksperimental juga hendak dilakukan oleh Jawot dkk, di kedai Jante.

Sebuah kedai di Bandung, yang bagi saya, cukup intelektuil dan sebagaimana yang tadi di muka saya katakan, mampu bisa menjadi poros/tempat baru bagi seniman-seniman muda Bandung yang haus darah, eh kok haus darah, maksudnya yang ingin berbagi gagasan menyoal seni dan isu-isu sosial lainnya, ya bisa nongkrong di sini. Di kedai Jante juga, sering mondar mandir, seniman kreatif yang resah seperti musisi Adew Habsta, Kritikus Hawe Setiawan, ahli perdesainan T. Kartasudjana, seniman Pantomim Wanggi Hoed, videografer Mangkies, dan masih banyak lagi, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatulah.

Jika di Paris, Perancis memiliki Café de Flora, sebuah kedai yang sangat tersohor, tertua sebagai tempat nongkrong yang wibawa dalam mencari inspirasi, menulis dan berdiskusi dan minum kopi para penulis, kritikus, filosof dan penyair yang juga berwibawa pada masanya seperti Charles Maurras, Apolinnaire, Jean- Paul Sartre, Simone de Bouvair, Andre Derain, Albert Camus, Brigitte Bardot dan Eugene Ionesco. Bahkan penggagas Surealisme Andre Breton, mencetuskan idenya yang berbobot itu juga di kedai kopi, Café de Flora. Maka di Bandung, Indonesia, ada Kedai Jante yang sedang menanjak ke arah seperti yang dilakukan Café de Flora. Atmosfer kedai Jante dan Café de Flora, saya rasa memiliki sedikit kesamaan.***

Padasuka, April 2021.

 
RENDY JEAN SATRIA | PENYAIR DAN PENULIS LEPAS
Ilustrasi oleh Vibrant Paris Abstract Cityscape Impasto Modern Impressionist Palette Knife Oil Ana Maria Edulescu is a painting by Ana Maria Edulescu which was uploaded on February 3rd, 2017. https://fineartamerica.com/featured/vibrant-paris-abstract-cityscape-impasto-modern-impressionist-palette-knife-oil-ana-maria-edulescu-ana-maria-edulescu.html
Picture of Redaksi

Redaksi