Nilai luhung keluarga bisa kita pelajari dari Khong Guan, kaleng biskuit yang kalau sudah habis bisa diisi kerupuk.
Keluarga, banyak ragam sudut penglihatan dan tafsir. Sudut paling mudah yang dapat kita baca mengenai keluarga, dalam ruang kedekatan pernikahan. Ada Bapak, Ibu dan anak, nanti diperluas ada Nenek, Kakek, Paman, Bibi, serta penamaan-penamaan dalam konsep keluarga. Struktur keluarga yang kemudian saling terkait, karena unsur pernikahan dan unsur keterikatan. Rumit, dan untuk faham, perlu membuat semacam pohon keluarga. Pada struktur budaya Sunda, kita harus hafal tujuh turunan ke atas dan ke bawah, agar tidak kehilangan hubungan antar saudara, dan leluhur.
Bagi yang pernah hidup di tahun tujuh puluhan, ada agenda yang ditelurkan pemerintah. Pembatasan kelahiran atau bahasa kerennya Keluarga Berencana. Demi merayakan, hidup di dunia agar tidak berdesak-desakan. Katanya, hidup yang paling baik dalam satu keluarga mengikuti strategi dua anak cukup. Semboyannya, keluarga kecil keluarga bahagia. Tiga anak kelebihan, apalagi kalau empat anak, berlebihan.
Keluarga inti yang difoto, tentu saja menjadi seimbang dalam ruang cetak. Kalau mengikuti alur gagasan pemerintah, dua anak cukup, terlihat sangat serasi. Rata kiri dan kanan, harmonis sekali. Tentu saja nilai keluarga tidak bisa ditafsir dari foto keluarga yang dipajang di tembok ruang tamu, atau bertebaran di seluruh ruangan rumah. Atau dari foto album yang dipajang diatas meja. Nilai keluarga harus dipelajari dari warisan leluhur, etika dan hidup dalam ruang sosial yang selaras.
Keluarga, bisa juga kita uraikan dalam kerangka solidaritas, kita merasa satu arah dan tujuan dan bahu membahu dan satu pemikiran. lihat deh, para pendukung perkumpulan sepak bola, atau para penggemar motor tua, satu asa satu rasa, bahkan satu hati. Irisan darah pada pohon keluarga tidak lagi utama, bahkan Bapaknya kerja di mana, bukan hal penting.
Nilai luhung keluarga bisa kita pelajari dari Khong Guan, kaleng biskuit yang kalau sudah habis bisa diisi kerupuk. Arti kebersamaan terpampang nyata, ada ibu dan kedua anaknya bersama pada satu meja makan, kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, sayangnya sang Bapak tidak ikut bersanding, mungkin sedang pergi mencari nafkah.
Dalam susunan keluarga, Ibu dan Bapak menjadi tokoh penting. Bahkan penggunaan kata Ibu dan Bapak menjadi wakil dalam pemahaman yang lebih luas dan cenderung filosofis. Ibu Pertiwi sebagai perwujudan kebangsaan, dan Bapak bangsa adalah konsep patriarki yang membangun kehidupan negara sebagai pendiri. Begitu luas dan luhur, penghormatan atas nama Ibu dan Bapak.
Kali ini lagi ramai nih, pemanfaatan hubungan kekeluargaan. Berduyun-duyun, Bapak, Ibu, Istri , anak menjadi pimpinan di daerah, seperti warisan turun temurun. Maksudnya, agar para konstituen mudah memilih dari urutan keluarga, tidak perlu susah payah baca latar belakang kemampuan sang calon, sudah terwakilkan oleh anggota keluarga sebelumnya.
Di masa hari raya, banyak berseliweran ucapan selamat atas nama keluarga, dari keluarga besar partai atau organisasi masyarakat anu, itu, atau ini, beramai-ramai mengucapkan selamat hari raya, lengkap dengan foto besar terpampang, tegap dan garang. Anehnya keluarga ini tidak sesuai harapan keluarga berencana, kebanyakan hanya ada satu atau dua orang yang terpampang, anak istrinya kemana? Sulit juga memahami, keluarga mana yang mereka maksud.
Baca-baca deh, nilai keluarga yang teladan menurut Leo Tolstoy dalam buku Rumah Tangga Yang Bahagia. Supaya tidak tersesat dalam hutan rimba kebingungan memahami arti keluarga. Leo Tolstoy, sebagai seorang Kristen yang taat menganut nilai moral sebagai gagasan kehidupan. Nilai keluarga yang disampaikan mengenai pengorbanan, kebahagiaan dan landasan norma. Pengorbanan adalah kebahagiaan yang bisa kita raih, bagaimana kita bisa berbuat untuk orang lain demi tujuan kebahagiaan bersama. Kehidupan inti dalam keselarasan adalah nilai utama keluarga, dan pengorbanan adalah kesalehan. Itu, kata Leo Tolstoy, lho!***




