Cinta dan Benci dalam Urusan Ekonomi ala Jokowi

 

 

Lagi-lagi, soal dukung-mendukung ini tidak bisa dipandang sesederhana “kalau kamu cinta aku, harusnya kamu benci dia”, mohon maaf, dunia dan perasaan kami tidak sesempit tayangan televisi kita yang itu-itu saja alurnya.

 

“Cintailah produk-produk Indonesia”, ucap Alim Markus dan Titiek Puspa di suatu tayangan iklan Panci Rantang Teko Mikado Logam Jawa Maspion. Pernah juga di tayangan lainnya mereka tampil bertiga, ada Jimmly Asshidiqie, Ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) yang ikut menyuarakan hal serupa. Intinya produk Indonesia berkualitas, jadi mari kita cintai, khususnya urusan panci, maka maspion-lah pahlawan nasionalnya, harus kita perjuangkan!

Beberapa pekan lalu Jokowi pun menyatakan semangat yang serupa, bedanya ditambah dengan ajakan untuk membenci produk asing. Entah asing mana yang dimaksud, tapi setidaknya bisa memprovokasi banyak pihak untuk berwacana. Ada yang mengulas dari sisi ekonomi, ada pula yang berbuih-buih mencoba membedah apa itu produk global dan ‘yang asing’. Agaknya Jokowi ingin mengatakan kalau-kalau kecintaan kita ini ingin berbuah loyalitas yang terkonversi dalam keputusan pembelian, maka kita musti membenci yang asing.

 

Ajakan mencintai kelokalan dengan semangat membangkitkan ekonomi Indonesia bukanlah hal yang baru. Dari era Sukarno, Suharto, sampai SBY pun pernah mengobarkan jurus yang sama. Dahsyatnya hari ini, pasar ada dalam genggaman kita, kita mau beli apapun tinggal mencarinya di ponsel pintar, ataupun saking pintarnya, ponsel itu tetiba menawarkan produk yang bisa jadi memang kita inginkan, meskipun tidak kita butuhkan.

Soal cinta-mencintai ini, rasa-rasanya tidak ada yang mengalahkan kecintaan banyak orang pada suatu klub sepakbola. Orang yang cinta mati pada Manchester United bisa jadi benci habis-habisan pada Liverpool atau klub seteru lainnya. Teman saya punya teman, bahkan jadi Ketua Supporter Lazio di Indonesia, ada juga yang menjadi admin dari basis fansclub-nya Torino FC yang ada di tanah air. Lalu dimana letak kecintaan mereka pada yang lokal? Apa harus mereka berhenti mendukung atau membenci tim andalannya yang sedang bertarung di ajang piala dunia? Lha Wong, kadang juga nontonnya sambil pakai kaos timnas Garuda kok.

Lagi-lagi, soal dukung-mendukung ini tidak bisa dipandang sesederhana “kalau kamu cinta aku, harusnya kamu benci dia”, mohon maaf, dunia dan perasaan kami tidak sesempit tayangan televisi kita yang itu-itu saja alurnya. Saya lahir di Malang, sesekali dulu saya menonton dan mendukung Arema dari stadion, tak lupa saya pakai jersey dan syal berlabel lokal Ultras. Giliran tiba dirumah lalu Liga Italia memanggil, maka bisa lengkap saya ceritakan siapa ujung tombak dan penjaga gawang andalan mereka, belum lagi kalau Inggris berlaga di piala dunia, sudah pasti jaket resmi bermerk Umbro saya kenakan. Tapi ya lagi-lagi, hanya Timnas Indonesia dan lagu Indonesia Raya di Gelora Bung Karno yang bisa membuat saya dan hampir semua supporter menitikkan air mata.

Benarlah kata Franlin Foer dalam How Soccer Explains The World: An Unlikely Theory of Globalization, bahwa sepakbola bukan sebatas menendang-nendang bola dan berlari-lari diatas lapangan, tapi juga tentang identitas yang sarat pemaknaan. Skornya memang tidak bisa ditafsir ini-itu, tapi budaya tribunnya bisa multi bahkan bebas tafsir. Begitu pula soal semangat membeli produk lokal, terlihat gamblang dalam tabel dan grafik traksaksi ekonomi, tapi sangat dalam dan luas bila tiba pada urusan cinta dan benci. ***

Kedai Jante, 30 Maret 2021.


FITRA SUJAWOTO | KOLOMNIS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik

 

Picture of Redaksi

Redaksi