Kenang-Kenangan Mengejutkan Antara Manusia Dan Makhluk Berbulu

 

 

Kritik gampang disampaikan, soal menyoal jalan keluar semua buang muka. Stigma terhadap anjing memang selalu menjadi polemik berlarut-larut.

 

 

Subuh ini dingin menusuk kulit, selimut tebal harus ditarik tinggi-tinggi, tapi terhalang anak berbulu yang ikut tidur diatas selimut, kedinginan juga, rupanya. Mulai menggaruk-garuk, minta makan. istriku turun dari ranjang, si pibu ikut meloncat keluar kamar, tahu waktu dia. Jam makan telah tiba.

Punya bayi lagi sekarang. Disimpan di kardus depan kamar, saat ini ibunya mau menyusui. Beberapa kali si bubu melahirkan, anaknya mati karena ditinggal. Intuisi hewan, kalau anaknya tidak akan bertahan, mungkin akibat kawin sedarah, jadi lemah, anaknya mati satu persatu. Sang Pejantan, kucing tetangga. Tiga anaknya terlihat sehat dan lucu, semoga panjang umur.

Coba deh, merawat salah satu jenis peliharaan yang kita sukai, seiring dengan waktu ada ikatan yang akan ikut terasa. Setidaknya punya teman berbagi, dan sahabat yang tidak mengkhianati. Soal nyolong makanan, anggap saja dia ikut berpesta. Binatang peliharaan kalau sudah lama bersama selalu mengharu biru. Satu waktu, anjing kami mati karena sakit, Vinno namanya, seisi rumah ikut layu, larut dalam sedih.

Menurut saya, memiliki hewan peliharaan sejak kecil bagus juga untuk pertumbuhan emosi dan belajar hidup bersama, setidaknya anak-anak mengerti, kalau di bumi ini bukan hanya manusia yang berhak hidup.

Komunikasi bukan hanya milik manusia. Mau bukti? Coba anda bermain bersama anjing, dan perhatikan bahasa tubuhnya, paling mudah dari ekor. Ekor anjing bergoyang-goyang tandanya dia sedang bahagia, perhatikan juga apabila dia sedang bersikap waspada atau curiga, ekor akan menegang keatas, tubuhnya juga terlihat kaku, atau bila anjing ketakutan, ekornya akan terlipat kebawah. Atau bisa juga kita perhatikan dari bahasa tubuh yang lain. Itu bukti bahwa komunikasi bisa terjalin antara sesama makhluk. Kalau anda berharap berkomunikasi dengan anjing, pakai bahasa ngomong, anda dalam taraf bahaya, delusi sedang mengancam. Eh, ada lagi sih, petunjuk perintah disebut basic obedience, yang dapat dilatih pada anjing, seperti sit, stay, down, leave it, come. Memudahkan untuk mengatur anjing kesayangan anda.

Binatang jadi gagasan fiksi, banyak tuh. Salah satunya karya Claudio Orrego Vicuña, seorang peneliti, sosiolog dan aktivis mahasiswa. Menjadi politisi dan anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile. Tahun 1973 kudeta militer yang dilakukan Augusto Pinochet menggulingkan Salvador Allende, dan Claudio Orrego Vicuña ikut tersingkir. Satu tahun setelah kudeta, Claudio menelurkan novelet Las sorpredentes memorias de Baltazar: Cuento. Karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul, Kenang-kenangan mengejutkan si Beruang Kutub. Kira-kira begini ceritanya: seekor beruang kutub yang ditangkap, harus hidup dalam kerangkeng di kebun binatang, di Cile. Baltazar, namanya. Hidup sebagai binatang yang teraniaya, tercabut hak hidupnya dari dunia bebas. Hanya jadi tontonan kaum manusia, yang kadang sewenang-wenang. Namun, baltazar dalam kesendiriannya dan suasana yang penuh tekanan mampu merenungkan kehidupan, menguraikan masalah kekuasaan, hirarki, harkat dan esensi kenyataan.

Saya kira, Claudio, membuat alegori kehidupan manusia tentang politik kuasa dan kediktatoran yang mungkin juga dialaminya, lewat kisah baltazar sang beruang.

Berita aneh mengenai hubungan manusia dan binatang, lebih tepatnya pada anjing, terjadi belakangan ini. Warga di Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, menolak keberadaan tempat penampungan anjing terlantar. Dengan alasan terganggu oleh suara gonggongan dan tidak sesuai dengan norma agama. Sang pemilik tempat penampungan mengembalikan keputusan kepada pemerintah setempat. Siapa pula yang mau bertanggung jawab kepada tujuh puluh ekor anjing tanpa tuan, dilepas pun tak mungkin. Kritik gampang disampaikan, soal menyoal jalan keluar semua buang muka. Stigma terhadap anjing memang selalu menjadi polemik berlarut-larut. Manusia kadang lupa kalau dia harus hidup bersama dengan makhluk lain, lupa pula kalau baltazar lebih mampu merenungkan kehidupan, daripada hanya berteriak tak jelas.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi