Lagi pula, nama profesor pemenang Hadiah Nobel itu kan diabadikan di kota Mang Oded, yakni Bandung yang insya Allah termasuk ke dalam baldatun thoyyibatun wa rabbhun ghaffur. Setidaknya, kalau Pak Walikota naik skuter, bisalah dia melintas di Jalan Eijkman.
Profesor Eijkman berutang budi kepada kawanan ayam. Mang Oded pasti senang mendengar hal ini, bahkan mungkin akan menjadikannya teladan tersendiri demi keberhasilan program “cikenisasi”. Lagi pula, nama profesor pemenang Hadiah Nobel itu kan diabadikan di kota Mang Oded, yakni Bandung yang insya Allah termasuk ke dalam baldatun thoyyibatun wa rabbhun ghaffur. Setidaknya, kalau Pak Walikota naik skuter, bisalah dia melintas di Jalan Eijkman.
Jika teman-teman sering tersesat di belantara kota seperti saya, buka saja Google Map dong. Jalan Eijkman terletak di antara Jalan Cipaganti alias Jalan R.A.A. Wiranatakusumah dan Jalan Sukajadi. Jalannya kecil saja, sebagaimana Jalan Sastra atau Jalan Hatta yang tak jauh darinya.
Dalam urusan jalan, nama Christiaan Eijkman (1858-1930) tidak mengalami nasib yang sama dengan nama-nama Belanda lainnya. Lazim terjadi di muka bumi, lain zaman lain pula nama pahlawan. Setelah Indonesia merdeka, sejumlah jalan berganti nama dari Belanda ke bumiputera. Dulu Jalan Dr. de Groot, kini Jalan Siliwangi. Dulu Jalan Wilhelmina, kini Jalan Diponegoro. Adapun Jalan Eijkman tetap bertahan. Jangan lupa: jalannya Eijkman, desanya Pasteur, kecamatannya Sukajadi — sungguh toponimi nan kosmopolit.
Pokok-pokok palem di Pasteur memang sudah lama minggat, tapi di sekitar Eijkman masih banyak pohon mahoni. Itu sebabnya jalan itu tetap teduh sampai kini. Di sekitar Eijkman pula, sambil berteduh, saya biasanya mengambil keputusan jitu seputar kesehatan dan kebugaran. Sekiranya di dalam tubuh yang kerempeng terdapat jiwa yang loyo, sedemikian loyonya buat menyusuri tanjakan Sukajadi, maka di situlah saya melipat Dahon rongsokan warisan zaman Soeharto. Pencet ponsel, pesan taksi daring, perjalanan pun lancar hingga Sersan Bajuri.
Waktu Covid 19 mulai bikin dunia mati angin, seorang teman muda lulusan UIN Sunan Gunung Djati menghibur saya dengan menghadiahkan sebuah buku jadul karya Ritchie Calder, Medicine and Man (1958). Saya pun segera membacanya sambil ikut menjalankan program worrying from home. Tektek bengek ramuan obat dan jerih payah manusia sepanjang sejarah buat mengatasi penderitaan, sebetulnya berada di luar tema bacaan saya. Namun, dalam buku ini ada satu subbab yang sangat menarik perhatian saya sebagai pemakai Jalan Eijkman: bagaimana ceritanya Meneer Profesor mendapatkan ilham jenial dari kawanan ayam?
Kata sahibul hikayat, Profesor Eijkman datang ke Hindia Belanda buat meneliti dari mana datangnya penyakit beriberi. Suatu hari, di halaman rumah sakit, terlihat olehnya kawanan ayam yang tidak sehat. Lehernya lemas, sayapnya melorot. Warga kerajaan unggas itu suka mematuk-matuk sisa-sisa makanan para pasien penderita beriberi.
Jika bagian hikayat ini kita buatkan komik, tentu kita mesti tambahkan lettering berbunyi “ting!” lengkap dengan gambar bohlam di dekat kepala Meneer Profesor. Singkatnya, dari kawanan ayam itulah sang peneliti mendapat ide buat menelisik kuman-kuman dalam makanan yang disantap oleh para pasien dan kawanan ayam itu. Namun, ide yang lebih cemerlang baru muncul kemudian dari kolega Meneer Profesor. Sang kolega mengamati bahwa kawanan ayam yang sakit itu suka mematuk-matuk beras giling.
Singkat hikayat, dari eksperimen Profesor Eijkman dan koleganya kemudian diketahui sebab-musabab beriberi. Orang pun jadi mafhum bahwa beras giling, apalagi yang dibikin bersih tak menyisakan kulit sama sekali, sebetulnya kurang baik buat kesehatan. Sungguh, kawanan ayam dari Indonesia telah membantu tercapainya penemuan ilmiah yang dipuji oleh dunia.
Apakah Bandung hari ini mau menggali inspirasi dari kawanan unggas? Saya tidak tahu. Kata si empunya kabar, masalah yang bikin Mang Oded prihatin adalah kecanduan game online. Solusinya sangat menarik: anak-anak manusia diminta berteman dengan anak-anak ayam. Boleh jadi soal ini belum sempat terpikirkan oleh profesor sekaliber Eijkman.***




